Peristiwa Pengeroyokan Guru oleh Siswa di SMK Tanjung Jabung Timur
Sebuah insiden pengeroyokan terhadap seorang guru oleh siswanya sendiri di sebuah SMK di Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, masih menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Insiden ini terjadi setelah adanya konflik yang muncul dari kesalahpahaman dan emosi yang memuncak antara guru dan para siswa.
Awal Konflik: Masalah Pintu dan Ucapan yang Menyinggung
Bunga, seorang siswi kelas 2 ATP yang berada di lokasi kejadian, menjelaskan kronologi awal konflik. Menurutnya, situasi mulai memanas ketika AS, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, merasa tersinggung dengan tindakan seorang temannya, Jamil, yang diminta menutup pintu kelas. AS kemudian memarahi siswa dengan sebutan “kurang ajar” dan meluapkan emosinya dengan kata-kata kasar.
“Saat masuk ke kelas, beliau marah-marah dengan kami semua, bilang kami kurang ajar cuma masalah pintu ditutup. Terus ujung-ujungnya dia bawa-bawa ayah kami,” ungkap Bunga dengan nada kecewa. Para siswa merasa terhina karena ucapan tersebut dianggap merendahkan profesi dan perjuangan orang tua mereka dalam membayar uang komite sekolah.
Kesaksian Siswa: Kekesalan yang Memuncak
Muhammad Lupi Fadila, salah satu siswa yang terlibat dalam kejadian tersebut, juga memberikan versi kronologinya. Menurut Lupi, ketegangan bermula saat ia spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam karena suasana kelas yang bising. Namun, hal itu justru memicu reaksi keras dari guru tersebut.
“Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya ‘siapa yang bilang woi?’. Terus saya jawab ‘saya Prince’ kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar,” jelas Lupi. Penggunaan panggilan “Prince” ternyata merupakan permintaan khusus dari guru tersebut, yang kerap marah jika disapa dengan sebutan “Bapak”.
Puncak Kejadian: Aksi Pengeroyokan
Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf dari guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.
Puncak pengeroyokan terjadi saat guru tersebut dibawa ke kantor oleh Bapak Komite. Lupi mengaku bahwa saat itu guru tersebut justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. Saat Lupi mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.
“Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua. Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia,” tegas Lupi. Ia menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.
Laporan Polisi dan Trauma yang Dialami
Setelah kejadian tersebut, guru yang dikeroyok, Agus Saputra, akhirnya melapor ke polisi. Ia menjalani pemeriksaan di Polda Jambi dan membawa hasil visum serta videonya yang viral di media sosial. Agus mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh seperti muka, tangan, dan punggung. Selain itu, ia juga mengaku trauma akibat kejadian tersebut.
Kakak kandung Agus, Nasir, menjelaskan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan secara mental setelah kasus ini viral di media sosial. “Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pasca kejadian, Agus telah melakukan visum. Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian. Nasir menambahkan bahwa laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di media sosial. Ia menyebutkan bahwa ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.



