Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 5 Maret 2026
Trending
  • 5% Keluarga Kaya Kuasai 33% Kekayaan Nasional Singapura
  • Jumlah bantal sofa sempurna untuk tampilan indah dan nyaman
  • Rencana Pembunuhan Farradilla Sudah Dipersiapkan Sejak 2025
  • Siapa Ayatullah Ali Khamenei? Ini Jejak Kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran
  • Jadwal Liga Inggris: Man United vs Palace, Chelsea vs Arsenal Malam Ini
  • Perubahan besar tahun 2026 mengubah nasib zodiak yang siap berubah
  • Bagaimana Sikap Kita Menghadapi Globalisasi? Soal IPS Kelas 6 SD Semester 2
  • Orang yang Tahan Gadget Saat Nonton Film Punya 6 Kekuatan Langka Ini, Menurut Psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Siapa Ayatullah Ali Khamenei? Ini Jejak Kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran
Politik

Siapa Ayatullah Ali Khamenei? Ini Jejak Kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Maret 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Kekacauan di Iran

Ketika menghadapi gelombang protes nasional pada awak tahun ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei melancarkan penindakan paling berdarah dalam hampir empat dekade masa kekuasaannya. Namun kini, serangan militer Amerika Serikat (AS) atau Israel disebut-sebut berpotensi mengakhiri kekuasaannya.

Dewan Tertinggi Keamanan Nasional mengkonfirmasi syahidnya Ayatollah Ali Khamenei, pada Ahad (1/3/2026), sebagaimana dilansir Aljazeera. Belum ada keterangan detail kronologi kematiaannya.

Ahad (1/3/2026), Khamenei yang berusia 86 tahun sebelumnya berupaya mencegah serangan semacam itu ketika AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan untuk menekan Teheran terkait program nuklirnya. Ia memperingatkan bahwa jika AS menyerang, perang regional akan terjadi. Pada saat yang sama, ia mengizinkan Iran memasuki perundingan dengan AS terkait program nuklir.

Bahkan sebelum kompleks kediaman pemimpin tertinggi menjadi salah satu target awal pada Sabtu, tekanan terhadap Khamenei sudah meningkat.

Penindasan terhadap protes, dengan ribuan orang tewas di tengah seruan “Death to Khamenei”, menunjukkan besarnya ancaman kemarahan publik. Bertahun-tahun sanksi, salah kelola ekonomi, dan korupsi telah melemahkan perekonomian Iran.

Serangan Israel dan AS selama perang 12 hari musim panas lalu telah merusak secara signifikan program nuklir, sistem rudal, serta kapabilitas militer Iran. Jaringan proksi regional Iran, termasuk Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman, juga melemah akibat serangan Israel dan AS sejak perang Gaza dimulai, bersamaan dengan menyusutnya pengaruh Teheran di Timur Tengah.

Berikut sejumlah hal yang perlu diketahui tentang Khamenei:

Mengubah Republik Islam

Saat naik ke tampuk kekuasaan pada 1989, Khamenei menghadapi keraguan mendalam atas otoritasnya. Ia merupakan ulama tingkat menengah dan tidak memiliki kredensial keagamaan setinggi pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam.

Namun, Khamenei memerintah tiga kali lebih lama dibanding Khomeini dan membentuk Iran secara lebih mendalam.

Ia mengokohkan sistem pemerintahan oleh para mullah atau ulama Syiah. Dalam struktur Republik Islam, ulama berada di puncak hierarki, menetapkan batas-batas yang harus dipatuhi pemerintah sipil, militer, serta lembaga intelijen dan keamanan.

Di mata kelompok garis keras, Khamenei adalah otoritas yang tidak dapat dipertanyakan, berada tepat di bawah Tuhan.

Pada saat yang sama, ia membangun Garda Revolusi menjadi kekuatan dominan dalam militer dan politik dalam negeri. Garda tersebut memiliki pasukan elite Iran serta mengawasi program rudal balistik. Khamenei juga memberi ruang bagi Garda untuk membangun jaringan bisnis dan mendominasi ekonomi.

Sebagai imbalannya, Garda Revolusi menjadi kekuatan setia yang menopang kekuasaannya.

Tantangan Dalam Negeri

Ancaman besar pertama terhadap kekuasaan Khamenei muncul dari gerakan reformasi yang meraih mayoritas parlemen dan kursi presiden tak lama setelah ia menjadi pemimpin tertinggi. Gerakan itu mendorong peningkatan kekuasaan pejabat terpilih, yang dikhawatirkan pendukung garis keras akan membongkar sistem Republik Islam.

Khamenei menggalang dukungan lembaga ulama, dan badan-badan non-terpilih yang dikendalikan ulama membatalkan reformasi besar serta melarang kandidat reformis mengikuti pemilu.

Sejak itu, gelombang protes rakyat terus dipadamkan.

Demonstrasi besar terjadi pada 2009 terkait dugaan kecurangan pemilu. Di bawah tekanan sanksi, protes ekonomi pecah pada 2017 dan 2019. Gelombang berikutnya terjadi pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini, yang ditahan polisi karena dianggap tidak mengenakan jilbab wajib dengan benar.

Penindakan terhadap para pengunjuk rasa menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ratusan lainnya ditangkap, di tengah laporan adanya tahanan yang disiksa hingga tewas atau diperkosa di penjara.

Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026). – (Reuters)

Penindakan Paling Berdarah

Demonstrasi terbaru pecah pada akhir Desember di pasar tradisional Teheran setelah mata uang rial anjlok ke rekor terendah 1,42 juta per dolar AS. Protes dengan cepat meluas ke seluruh negeri.

“Perusuh harus diberi pelajaran,” kata Khamenei.

Ketika ratusan ribu orang turun ke jalan pada 8 dan 9 Januari, aparat keamanan menembaki massa. Para veteran demonstrasi sebelumnya mengaku terkejut dengan kekuatan tembakan yang digunakan.

Aktivis menyatakan telah mendokumentasikan lebih dari 7.000 korban tewas dan masih melakukan verifikasi lebih lanjut. Pemerintah mengakui lebih dari 3.000 korban tewas, angka yang tetap lebih tinggi dibandingkan penindakan sebelumnya.

Negosiasi Nuklir

Dengan menyetujui perundingan nuklir, Khamenei kemungkinan berupaya membeli waktu untuk mencegah serangan AS. Namun Iran menolak tuntutan utama Washington agar menghentikan seluruh pengayaan nuklir dan menyerahkan persediaan uranium.

Trump awalnya mengancam akan melancarkan serangan guna menghentikan Khamenei dan pemimpin Iran lainnya dari membunuh pengunjuk rasa damai. Ancaman tersebut kemudian digunakan untuk menekan Teheran agar serius dalam negosiasi.

Sebagian warga Iran dan diaspora Iran berharap AS menggunakan kekuatan militer untuk menjatuhkan Khamenei. Namun, terdapat pula suara kuat, bahkan di kalangan penentangnya, yang menolak intervensi asing untuk menggulingkan teokrasi.

Orang-orang memegang poster saat melakukan aksi protes terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran, di Columbus Circle, New York, New York, AS, 28 Februari 2026. Israel dan militer AS melakukan serangan gabungan yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran pada dini hari 28 Februari 2026, yang segera memicu demonstrasi di berbagai kota di AS. – (EPA/DEREK FRENCH)

Belum Ada Suksesor

Secara resmi, sebuah panel ulama Syiah bertugas memilih pengganti Khamenei. Sejumlah nama disebut-sebut sebagai kandidat, termasuk putranya.

Danny Citrinowicz, pakar Iran dari Institute for National Security Studies Israel, mengatakan kepada The Associated Press bahwa salah satu pelajaran utama yang dipetik Teheran dari perang tahun lalu adalah pentingnya memastikan kesinambungan rezim jika Khamenei wafat. Ia menambahkan kekuasaan dapat beralih sementara ke komite kecil pejabat tinggi hingga situasi mereda.

“Bisa jadi Khamenei telah menunjuk suksesor pilihannya secara tertutup,” ujar Citrinowicz.

“Namun penerapan otomatis terhadap suksesor yang telah dipilih dapat meningkatkan friksi internal di masa perang,” tambahnya.

Garda Revolusi kini telah berkembang menjadi institusi paling kuat di Iran. Jika kematian pemimpin tertinggi dikonfirmasi, situasi tersebut dapat mendorong komandan Garda atau militer reguler mengambil alih kekuasaan secara lebih terbuka. Hal itu berpotensi memicu konflik berdarah dalam perebutan kendali atas negara kaya minyak dengan populasi sekitar 85 juta jiwa tersebut.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

2 Berita Terkini Februari 2026, Nama Baru Pejabat Sulut dan Perubahan Komisaris BSG

5 Maret 2026

Kisah Sumiati: 30 Tahun Mengajar Ngaji Gratis di Samarinda

5 Maret 2026

Siapa Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Iran yang Diklaim Trump Tewas dalam Serangan AS-Israel?

4 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

5% Keluarga Kaya Kuasai 33% Kekayaan Nasional Singapura

5 Maret 2026

Jumlah bantal sofa sempurna untuk tampilan indah dan nyaman

5 Maret 2026

Rencana Pembunuhan Farradilla Sudah Dipersiapkan Sejak 2025

5 Maret 2026

Siapa Ayatullah Ali Khamenei? Ini Jejak Kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran

5 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?