Peringatan 21 Tahun Tsunami Aceh Digelar di Jakarta
Peringatan 21 tahun tsunami Aceh digelar dengan penuh empati dan solidaritas di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Jumat (26/12/2025). Acara ini tidak hanya menjadi momen untuk mengenang peristiwa tragis yang terjadi pada tahun 2004, tetapi juga menjadi ajang penggalangan dana bagi korban banjir dan tanah longsor di Aceh, khususnya wilayah Tanah Gayo.
Acara diselenggarakan oleh Bidang Sastra Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bersama Desember Kopi Gayo, dengan dukungan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Jakpro. Kolaborasi antara berbagai komunitas seni dan organisasi ini menciptakan ruang yang kaya akan makna, di mana seni menjadi media untuk doa, refleksi, dan aksi kemanusiaan.
Partisipasi Puluhan Seniman Lintas Disiplin
Puluhan seniman dari berbagai disiplin terlibat dalam acara ini, menjadikannya sebagai wadah yang memperkuat hubungan antara seni dan kepedulian sosial. Beberapa komunitas dan kelompok seni yang tampil antara lain:
- Symphony Theater Laboratory
- Teater Moksa
- Sanggar Noer
- Teater Petra
- Sanggar Matahari
- Puisi Perempuan Aceh
- RAGA Jazz
- Tersajakkanlah
- Mahagenta
Selain itu, acara juga dimeriahkan oleh live painting oleh Cahya Friyanto dan pembacaan Hikayat Aceh oleh Mahfudh serta Cut Aza Rizka yang membawakan lagu “Do Da Idi.”
Kehadiran Tokoh Nasional dalam Pembacaan Puisi
Banyak tokoh nasional turut ambil bagian dalam acara ini, baik melalui pembacaan puisi maupun dukungan kemanusiaan. Beberapa nama yang hadir antara lain:
- Neno Warisman
- Habiburrahman El Shirazy
- Bambang Prihadi
- Rita Matu Mona
- D Kemalawati
- Zulfikar Akbar
- Ewith Bahar
- Putra Gara
- Galeh Pramudianto
- Eka Ardhinie
Sanggar Pegayon turut memperkaya suasana dengan menampilkan didong, sastra lisan dari Gayo, yang semakin memperkuat nuansa budaya Aceh dalam acara ini.
Doa Bersama dan Pesan Dakwah Kemanusiaan
Ustaz Dr Erick Yusuf, Wasekjen DPP MUI Bidang Seni Budaya, memimpin doa bersama sekaligus menegaskan pentingnya peran seni sebagai medium dakwah dan kemanusiaan. Pembacaan puisi juga dilakukan oleh Jose Rizal Manua dan Imam Maarif. Aktor Teuku Rifnu Wikarna turut tampil dengan membacakan puisi “Inilah Aceh” karya Fikar W Eda.
Penggalangan Dana Melalui Lelang dan Karya Seni
Selain pertunjukan, acara ini juga menyediakan lelang lukisan, buku puisi, blangkon, dan naskah puisi. Hasil lelang ini sepenuhnya didonasikan untuk korban banjir bandang dan tanah longsor serta seniman yang terdampak bencana. Puisi karya Helvy Tiana Rosa dibacakan oleh Neno Warisman dan sangat impresif, sementara Helvy sendiri turut membacakan puisi yang menggugah emosi para hadirin.
Komitmen untuk Menyalurkan Dana
Ketua Panitia Devie Matahari menyampaikan bahwa seluruh dana hasil penggalangan akan langsung dikirimkan ke Tanah Gayo untuk diteruskan kepada para seniman dan masyarakat yang terdampak bencana. Hal ini menunjukkan komitmen kuat dari penyelenggara untuk memberikan dukungan nyata bagi korban bencana.
Penutup dengan Pesan Kuat
Acara dipandu oleh Ayu Puspa Ananda, yang menutup malam peringatan dengan pesan kuat bahwa seni bukan sekadar ekspresi, tetapi juga jalan kepedulian dan solidaritas bagi Aceh. Acara ini menjadi contoh bagaimana seni dapat menjadi alat untuk menyatukan hati dan memberikan dukungan bagi sesama.



