Kondisi Yusuf Tankin Mulai Membaik Pasca-Kecelakaan Tugboat
Kondisi Yusuf Tankin (57), korban selamat dari insiden tugboat terbalik di perairan ASL Batam, mulai membaik. Yusuf ditemukan dalam keadaan selamat setelah 38 jam terjebak di dalam kapal. Kejadian tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026) sore di perairan kawasan PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam.
Yusuf kini sedang menjalani perawatan di RS Mutiara Aini dan sudah bisa berbicara meskipun masih terbaring di ruang perawatan. Beberapa alat medis seperti selang oksigen, infus, serta monitor untuk mengawasi detak jantung, saturasi oksigen, dan tekanan darah masih terpasang untuk memastikan kondisinya stabil.
Yusuf sempat berbincang ringan saat dijenguk oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Nyanyang Haris Pratamura, bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kepri, Diky Wijaya. Saat itu, Nyanyang menanyakan langsung kondisi Yusuf setelah selamat dari kejadian yang merenggut nyawa tiga korban lainnya.
“Kondisinya bagaimana sekarang?” tanya Nyanyang kepada Yusuf, Minggu (8/3/2026).
Dengan suara pelan, Yusuf menjawab bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali dievakuasi dari laut.
“Alhamdulillah sudah mendingan pak, bersyukur bisa dievakuasi dengan selamat,” jawab Yusuf.
Mendengar jawaban tersebut, Nyanyang menimpali bahwa Yusuf patut bersyukur karena masih diberi keselamatan dalam kejadian tersebut.
Bertahan di Kantong Udara
Sebelumnya diberitakan, Yusuf berhasil selamat dalam insiden ini setelah bertahan puluhan jam di dalam kantong udara (air pocket) di ruang mesin kapal. Korban ditemukan oleh tim SAR gabungan setelah kapal berhasil dibalikkan dan dilakukan penyelaman ke bagian dalam kapal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang, Fazzli selaku SAR Mission Coordinator, mengatakan bahwa sejak awal tim menduga korban masih berada di dalam kapal. Karena itu proses evakuasi dilakukan dengan perencanaan matang, termasuk proses penarikan dan pembalikan kapal yang memerlukan peralatan khusus.
“Setelah kapal berhasil kita balikkan, dilakukan pengecekan di lambung kapal dan tim gabungan melakukan penyelaman. Korban akhirnya ditemukan di ruang mesin,” ujar Fazzli, Minggu pagi.
Menurut Fazzli, di dalam ruang mesin tersebut masih terdapat ruang kantong udara yang memungkinkan korban bertahan hidup.
“Alhamdulillah di dalam ruangan tersebut masih terdapat air pocket atau kantong udara yang memungkinkan korban untuk bertahan hidup,” katanya.
Operasi pencarian ini melibatkan tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, manajemen PT ASL, serta instansi terkait lainnya di Batam. Setelah ditemukan, korban langsung dievakuasi dan dibawa ke RS Mutiara Aini Batam untuk mendapatkan penanganan medis.
Kesaksian Yusuf Tankin Detik-Detik Tugboat Terbalik
Yusuf Tankin (57), korban selamat insiden tugboat terbalik di perairan ASL Shipyard Batam, bercerita detik-detik peristiwa yang dialaminya bersama empat kru kapal Tugboat Mega lainnya.
Peristiwa ini terjadi Jumat 6 Maret 2026 lalu sekira pukul 15.00 WIB di perairan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, Batam. Tim penyelamat mengevakuasi Yusuf setelah 38 jam terjebak di dalam kapal, Minggu (8/3/2026) pagi sekira pukul 05.20 WIB.
Yusuf bercerita, sebelum kejadian itu kapal Tugboat Mega sedang melakukan proses assist atau membantu manuver kapal besar yang sandar di area galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, Batam.
Menurut Yusuf, kapal yang dibantu itu memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga membutuhkan bantuan saat hendak sandar.
“Waktu itu jadi memang yang di-assist kapal besar, sekitar 255 GT kayaknya,” ujar Yusuf, saat ditemui di RS Mutiara Aini di Batuaji, Minggu (8/3/2026).
Ia melanjutkan, saat itu ada beberapa kapal tunda yang ikut membantu proses manuver kapal tersebut. Yusuf memperkirakan sekitar lima kapal terlibat dalam proses assist, dengan Tugboat Mega menjadi kapal berukuran paling kecil.
“Kira-kira ada lima kapal kayaknya yang bantu assist itu. Tempat kami inilah yang paling kecil,” katanya.
Saat proses manuver berlangsung, Master Jetty memberikan instruksi kepada Tugboat Mega untuk berpindah posisi. Menurut Yusuf, saat itu kapal mereka berada di sisi kiri kapal besar dan diminta untuk bergeser ke sisi kanan.
“Master Jetty bilang ‘ASL Mega pindah ke kanan’. Kami kan di sebelah kiri, mau pindah ke kanan,” ujar Yusuf mengingat detik-detik sebelum tragedi itu.
Namun saat kapal mulai bergerak mengikuti instruksi tersebut, tiba-tiba Tugboat Mega mengalami benturan. Yusuf menduga kapal mereka terkena hantaman dari bagian buritan kapal besar yang sedang dibantu.
“Tiba-tiba kebanting mungkin sama ekornya kapal besar itu. Mungkin juga kena arus atau gelombang kuat,” katanya.
Benturan tersebut membuat kapal kehilangan keseimbangan dan mulai miring. Melihat kapal mulai kehilangan keseimbangan, salah satu kru sempat berteriak “karam-karam!”.
Dalam hitungan detik, kapal pun terbalik. Yusuf mengaku sempat menelan air laut saat kapal terguling. Dalam kondisi panik, ia berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menuju kamar di bagian bawah kapal.
Di detik-detik yang menegangkan itu, Yusuf sebenarnya berniat melompat keluar dari kapal. Namun tidak sempat, karena kapal sudah lebih dulu terbalik.
“Saya langsung lari ke kamar bawah. Rencana mau lompat, tapi tidak sempat keluar,” ujarnya.
Yusuf juga menyebut, saat kejadian tidak ada petugas pandu di kapal Tugboat Mega. Kapal hanya diawaki oleh kapten dan sejumlah kru. Petugas pandu saat itu berada di kapal besar yang sedang dibantu, sedangkan pergerakan kapal-kapal tunda di lokasi diatur oleh Master Jetty dari dermaga.
Insiden tersebut terjadi begitu cepat, hingga para kru tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan diri sebelum kapal akhirnya terbalik.
Dari lima kru yang berada di dalam Tugboat Mega, tiga di antaranya ditemukan meninggal dunia, termasuk kapten kapal tak lama setelah kejadian, Jumat sore. Sementara dua kru lainnya selamat. Satu orang tak lama setelah kejadian, satu lagi Yusuf Tankin, setelah 38 jam bertahan di dalam kapal, Minggu pagi.



