Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 27 Maret 2026
Trending
  • Volvo EX30 2026 Diluncurkan di Tiongkok dengan Harga Lebih Murah
  • 10 Pilihan Warna Tirai yang Sempurna untuk Dinding Putih
  • Transfer Liga Inggris: Arsenal Bakal Lepas Bintang Muda 30 Juta Euro
  • Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?
  • Raqan Pengelolaan Sumur Minyak Rakyat Masuk Prolegkab 2026, DPRK Prioritaskan Regulasi Strategis
  • Sebuah senja dari Washington
  • 5 Film Politik Keluarga, Berani Tonton Bersama Orangtua?
  • Rumor Transfer Liga Italia: Juventus Incar Kapten Man City Tanpa Kontrak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Sebuah senja dari Washington
Politik

Sebuah senja dari Washington

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Maret 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehidupan yang Terlupakan

Ketika orang berpikir bahwa sang fajar adalah awar dari keberuntungan, mereka tidak pernah menyadari kalau di belahan dunia yang lain, banyak orang seakan tak mau melihat terbitnya mentari karena ingin tetap berada dalam malam yang mencekam. Mereka tidak mau melihat cahaya baru yang hanya memperpanjang penindasan dan penderitaan.

Senja telah merenggut kebahagiaan mereka. Bencana kemanusiaan justru hadir di saat kehidupan seharusnya beristirahat layaknya senja yang akan mengantar malam memasuki tubuh-tubuh yang lelah. Ketidakadilan dalam sejarah dunia ibarat membaca tentang sepotong senja karya Seno Gumira Adjidarma: senja yang hanya mendatangkan bencana dan tidak menyisakan sedikit pun harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Penghujung setiap tahun selalu ditandai dengan seruan perdamaian di seluruh dunia yang konon bersumber dari sebuah kota kecil di Betlehem Efrata. Kota yang terkecil di antara kaum Yehuda itu seperti dalam nubuatan nabi Mikha tentang kelahiran Yesus Kristus (Mikha 5), yang ditulis di Yehuda ± 777-717 S.M. Nubuat tersebut menyatakan bahwa dari kota kecil itu akan lahir seorang tokoh terbesar sepanjang masa yang kelak berpengaruh bagi peradaban dunia ribuan tahun kemudian. Perdamaian sejati menjadi tema akan kehadiran sang raja damai yang dinanti-nantikan.

Bahkan, dalam buku Mikha digambarkan betapa indahnya perdamaian yang akan dibawa oleh sang raja:
“Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Mikha 4:3)

Penghancuran Bangsa Israel

Menurut kisah nubuatan dalam buku Mikha; sebelum masa damai itu datang, bangsa Israel yang murtad dan tidak setia harus dimusnahkan lebih dahulu oleh bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka. Hal ini terbukti pada tahun 740 S.M, sewaktu Samaria—yang merupakan ibu kota Israel sepuluh suku di sebelah utara—dihancurkan oleh orang Asyur di bawah raja Sargon dan terus mengalami kemunduran sampai masa penaklukan Aleksander Agung pada abad keempat S.M—menurut The New Westminster Dictionary of Bible 1970, kota Samaria mengalami penghancuran terakhir pada abad kedua S.M di masa John Hyrcanus I.

Sementara itu untuk Yerusalem—yang merupakan ibu kota Yehuda Israel—dimusnahkan oleh Babilonia pada tahun 607 S.M dan berlanjut sampai penaklukan tentara Romawi pada tahun 70 M. Setelah peristiwa-peristiwa “senja” itu, muncullah sosok mesias yang dijanjikan di tengah bangsa Israel. Namun sayangnya, raja damai yang dinubuatkan itu ditolak, bahkan dibunuh oleh bangsanya sendiri.

Setelah peristiwa itu, senja seolah tak pernah hilang di langit Yerusalem. Sampai saat ini, tanah tiga agama samawi itu terus bergejolak dan berdarah. Konflik dan penindasan terus terjadi sampai saling klaim sebagai pemilik sah dari tanah yang konon adalah tanah perjanjian yang diberikan Yahwe kepada umat-Nya.

Kehidupan yang Tidak Menenangkan

Yerusalem sendiri dalam bahasa Ibrani mengandung arti “kedamaian ganda” atau “kota damai”. Namun apa yang kita lihat dari sejarah kota tersebut sejak penaklukan Romawi pada tahun 70 M sampai sekarang tidak menggambarkan suasana yang damai seperti yang tersirat dalam namanya. Bahkan, konflik Israel-Palestina telah melebar ke seluruh dunia dengan munculnya aksi-aksi solidaritas antara negara-negara yang mendukung Israel dan yang mendukung Palestina. Benih-benih kebencian melahirkan gerakan-gerakan terorisme dan menumbuhkan fundamentalisme agama yang mengancam perdamaian dunia.

Sungguh ironis. Di saat umat Kristen di seluruh dunia sedang memasuki masa Prapaskah dan umat Islam menjalani masa puasa Ramadan, terdengar kabar “senja” telah dikirimkan dari Washington oleh Presiden Donald Trump yang mendukung perang bersama sekutunya Israel di jalur Gaza Palestina. Senja yang dikirimkan itu sebenarnya adalah senja terindah dari Trump kepada sekutunya Israel, tetapi ia tak menyadari atau bahkan pura-pura lupa kalau senja itu adalah bencana bagi bangsa Palestina dan mengancam perdamaian dunia pada umumnya. Pertanyaannya: Akankah nubuatan-nubuatan mengerikan dari kitab para nabi akan digenapi? Namun, bagaimana dengan nubuatan tentang perdamaian antarbangsa?

Harapan yang Masih Ada

Kita hanyalah produk dari sejarah. Kita tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan melihat sejarah terjadi. Memang benar kalau sejarah lahir dari siapa yang menang dan berkuasa. Namun, kita adalah manusia bebas yang punya hak akan sejarah itu sendiri. Jadi, mengapa kita harus diam?

Aksi mengecam lewat berbagai konferensi antarnegara memang sangat diperlukan untuk melawan narasi tunggal barat mengenai Israel dan Palestina. Namun, kecaman sepertinya hanya akan menjadi angin lalu jikalau tak ada aksi nyata untuk menjalankan segala resolusi atau pun keputusan tentang penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Solusi dua Negara telah menjadi senja yang tak pernah berakhir di langit tanah perjanjian. Langit yang terus menerus menerima doa-doa dari balik tembok ratapan, dari dalam Masjid Al-Aqsa, dan dari gema pujian dalam gereja makam Kristus—dari tempat ribuan peziarah rohani selalu berdatangan setiap tahun ternyata tak sanggup mendatangkan perdamaian yang dinanti-nantikan.

Fajar yang Tak Pernah Berubah

Setiap hari, fajar akan selalu menyingsing di langit tanah perjanjian dan sekitarnya. Namun, fajar itu tak jauh berbeda dengan senja yang mereka lihat pada sore harinya. Senja yang tidak pernah berubah warna selama tidak ada kerendahan hati dari mereka yang berkonflik untuk menerima perdamaian dan kenyataan bahwa sejarah berubah seiring dengan kehendak Tuhan yang berubah untuk tanah perjanjian.

Ia tidak lagi memaksakan satu bangsa untuk satu wilayah karena Ia adalah Tuhan atas segala bangsa yang berduyun-duyun menuju kota yang takkan pernah lagi melihat senja untuk selama-lamanya. Pada saat itu, ia akan disebut Yerusalem yang sebenarnya kota dengan perdamaian ganda; kota damai.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Serba-Serbi Open House di Istana: Warga Antusias dan SBY-Jokowi Hadir

27 Maret 2026

Eks Menteri Agama Gus Yaqut Bebas dari Rutan, Ini Alasan KPK

26 Maret 2026

9 makna mimpi bertemu presiden atau raja, siap-siap naik jabatan!

26 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Volvo EX30 2026 Diluncurkan di Tiongkok dengan Harga Lebih Murah

27 Maret 2026

10 Pilihan Warna Tirai yang Sempurna untuk Dinding Putih

27 Maret 2026

Transfer Liga Inggris: Arsenal Bakal Lepas Bintang Muda 30 Juta Euro

27 Maret 2026

Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?

27 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?