Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa penjualan mobil nasional secara wholesales sepanjang tahun 2025 mencapai 803.687 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7,2% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 865.723 unit. Meski mengalami penurunan, realisasi tersebut masih berada di atas target Gaikindo yang ditetapkan sebesar 780.000 unit.
Menilai kinerja industri otomotif pada tahun 2025, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati memprediksi bahwa saham emiten otomotif pada tahun 2026 diperkirakan akan bergerak positif dan memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Prediksi ini didukung oleh perbaikan ekonomi serta stabilitas penghasilan masyarakat.
Namun, Ike juga menyebut adanya potensi keterbatasan kelanjutan insentif pemerintah, bahkan kemungkinan adanya pergeseran skema insentif. Sebelumnya, insentif lebih fokus pada diskon pembelian kendaraan, namun kini berpotensi dialihkan ke insentif investasi seperti pembangunan pabrik atau peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Keterbatasan insentif ini dapat berdampak pada minat konsumen dalam membeli kendaraan, sehingga memengaruhi kepercayaan investor. Kondisi ini bisa menjadi faktor pembatas bagi pergerakan harga saham emiten otomotif.
Dari sisi lain, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory Ekky Topan menyampaikan bahwa prospek saham otomotif pada tahun 2026 cenderung mengarah pada fase pemulihan bertahap, bukan langsung kembali agresif. Menurut Ekky, katalis utama sektor ini tetap berasal dari faktor makroekonomi, terutama potensi arah suku bunga yang lebih longgar. Hal ini dapat mendukung penyaluran kredit kendaraan serta daya beli masyarakat. Selain itu, normalisasi strategi diskon dinilai dapat membuat persaingan industri menjadi lebih rasional.
Meski demikian, Ekky juga menyoroti beberapa risiko yang perlu dicermati. “Risikonya jelas yaitu pelemahan rupiah bisa meningkatkan biaya komponen impor dan kompetisi merek tetap ketat,” ujarnya.
Terkait wacana penghentian insentif fiskal kendaraan listrik (electric vehicle/EV), Ekky menilai sentimen ini berpotensi menjadi faktor penahan pertumbuhan pada segmen tertentu, khususnya EV yang harga jualnya sangat sensitif terhadap subsidi dan insentif pajak. Jika insentif benar-benar dihentikan, harga on-the-road EV berpeluang naik, sehingga laju pertumbuhan penjualan dapat melambat.
Dampak ini diperkirakan akan lebih terasa pada merek yang masih sangat bergantung pada insentif, sementara pemain dengan basis produksi lokal serta portofolio hybrid atau mesin pembakaran internal (ICE) yang kuat dinilai relatif lebih resilien. “Sentimen tersebut bukan berarti prospek EV berakhir, melainkan pasar akan menjadi lebih selektif dan fokus pada emiten dengan produk yang tepat serta jaringan distribusi yang kuat,” ujar Ekky.
Rekomendasi Saham
Ike berpandangan bahwa saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) berpotensi menguat di tahun 2026. Menurutnya, AUTO adalah pemain terbesar di Indonesia yang memproduksi berbagai komponen seperti aki GS Astra, rantai, filter, hingga piston untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara, DRMA fokus pada komponen struktur kendaraan, sistem suspensi, dan kini ekspansi besar ke komponen kendaraan listrik (EV) seperti charging station dan kabel.
Ike menuturkan bahwa saham AUTO berpeluang mengarah ke target harga di kisaran Rp 3.300 per saham, sementara saham DRMA diperkirakan berpotensi menuju area target Rp 1.270 per saham.
Di sisi lain, Ekky menyebut PT Astra International Tbk (ASII) masih kerap menjadi pilihan utama berkat diversifikasi usaha dan posisinya dalam transisi industri kendaraan, dengan rekomendasi beli dengan target harga di kisaran Rp 7.700–Rp 8.000 per saham. Saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga dinilai layak untuk dicermati sebagai penunjang sektor otomotif.



