Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.
Kinerja PT Bukit Asam Tbk di Tengah Fluktuasi Harga Batubara
Pada periode Januari hingga September 2025, laba bersih PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalami penurunan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja perusahaan ini adalah fluktuasi harga batubara. Meskipun pendapatan perusahaan meningkat sebesar 2% secara year on year (yoy) menjadi Rp 31,33 triliun pada kuartal III-2025, laba bersih PTBA turun signifikan sebesar 56,25% menjadi Rp 1,4 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025.
Sukarno Alatas, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan didukung oleh volume penjualan batubara yang lebih tinggi meskipun ada tekanan dari harga jual rata-rata (ASP) yang lebih rendah. Ia menilai, kinerja ekspor PTBA bervariasi, dengan pertumbuhan kuat ke beberapa negara seperti Bangladesh, Filipina, dan Taiwan. Namun, penurunan tajam terjadi di pasar utama seperti China, India, Korea, dan Vietnam.
Secara operasional, produksi batubara PTBA meningkat menjadi 35,9 juta Metrik Ton (MT), naik 9% yoy, sedangkan volume penjualan mencapai 33,7 juta MT (naik 8% yoy). Namun, ASP turun 6% yoy menjadi Rp 0,91 juta/ton, yang membatasi peningkatan pendapatan.
Prospek Kinerja PTBA di Tahun 2026
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek kinerja PTBA pada kuartal I-2026 masih stabil. Namun, belum ada tanda-tanda peningkatan signifikan. Menurutnya, kinerja PTBA di awal tahun biasanya dipengaruhi oleh harga batubara, volume penjualan, dan biaya/logistik.
“Selama harga batubara masih fluktuatif dan pasar global belum benar-benar ‘risk-on’, pergerakannya akan cenderung naik-turun, walaupun bisnisnya tetap berjalan,” ujar Ekky.
Tantangan utama PTBA di kuartal I-2026 meliputi volatilitas harga batubara, kondisi demand ekspor, serta faktor cuaca yang bisa mengganggu produksi dan angkutan. Selain itu, kebijakan pemerintah seperti DMO, royalti, dan aturan teknis juga bisa memengaruhi margin perusahaan.
Ekspansi Infrastruktur Logistik dan Strategi Penjualan
Helen, Analis Philip Sekuritas Indonesia, menyoroti ekspansi infrastruktur logistik PTBA. Kemajuan perluasan transportasi batubara Tanjung Enim–Keramasan telah mencapai 58%, yang diharapkan dapat memperkuat infrastruktur logistik end to end perusahaan.
Optimalisasi kapasitas pelabuhan juga sedang berlangsung, dengan target peningkatan kapasitas Tarahan dari 27,5 juta MT menjadi 28,0 juta MT dan Kertapati dari 8,0 juta MT menjadi 8,5 juta MT.
Strategi bauran penjualan PTBA tetap seimbang, dengan penjualan ekspor menyumbang 44% dari total volume dan penjualan domestik mencapai 56%. Segmen domestik ditopang oleh PLN yang menyerap 37% dari total penjualan, sementara pembangkit listrik di sekitar tambang menyumbang 9%.
Risiko dan Rekomendasi Saham
Risiko potensial terhadap PTBA meliputi fluktuasi harga batubara dan kebijakan iklim yang terus berkembang. Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, menyebutkan bahwa saham PTBA bisa menjadi pilihan bagi investor yang mencari dividen. Ia melihat pergerakan saham PTBA saat ini sudah memasuki fase uptrend.
Lutfi melihat potensi total imbal hasil dividen PTBA sebesar 7,7% pada tahun 2026 dan 5,7% pada tahun 2027 dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) 75%. Risiko negatif utama meliputi perlambatan global, harga batu bara yang bergejolak, penguatan rupiah, transisi energi, dan perubahan regulasi.
Sukarno memperkirakan pendapatan dan laba bersih PTBA tahun 2025 masing-masing sebesar Rp 43,6 triliun dan Rp 2,2 triliun. Untuk tahun 2026, diperkirakan pendapatan dan laba bersih masing-masing mencapai Rp 42,9 triliun dan Rp 3,2 triliun.
Rekomendasi Investasi
Sukarno dan Helen memberikan rekomendasi saham hold untuk PTBA dengan target harga masing-masing Rp 2.670 per saham dan Rp 2.400 per saham. Sementara itu, Lutfi dan Ekky merekomendasikan strategi Buy on Weakness dengan target harga masing-masing Rp 2.900 per saham dan Rp 2.900–Rp 3.000 per saham.



