Peran Indonesia dalam Forum Perdamaian Internasional
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menjadi perhatian media internasional setelah menyatakan bahwa Indonesia siap keluar dari Board of Peace (BoP) jika forum tersebut tidak memberikan manfaat nyata bagi Palestina. Pernyataan ini menarik perhatian sejumlah media asing seperti The Times of Israel dan Arab News, yang menyoroti sikap diplomasi Indonesia terhadap konflik Israel-Palestina.
Penjelasan Presiden tentang Partisipasi Indonesia
Dalam pertemuan dengan sejumlah kelompok Islam di Indonesia, Prabowo menjelaskan alasan pemerintah bergabung dalam BoP. Ia menegaskan bahwa partisipasi Indonesia dalam forum tersebut tidak bersifat mutlak dan akan terus dievaluasi berdasarkan manfaatnya bagi rakyat Palestina serta kepentingan nasional. Pernyataan ini disampaikan saat aktivitas BoP sedang ditangguhkan akibat pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kritik dari Pakar dan Kelompok Muslim
Keputusan Indonesia bergabung dalam BoP memicu kritik dari sejumlah pakar dan kelompok Muslim di dalam negeri. Mereka menilai langkah tersebut berpotensi mengubah persepsi tentang posisi Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Selain itu, ada juga kritik terkait rencana pengiriman pasukan Indonesia ke International Stabilization Force (ISF) di Gaza, yang dinilai bisa mengaburkan posisi Indonesia sebagai pendukung kuat kemerdekaan Palestina.
Respons Media Asing
Media asing lain seperti Reuters, Agence France-Presse, dan Arab News juga ikut memberitakan isu ini. Arab News menerbitkan artikel dengan judul “Indonesia will ‘quit peace board unless Palestinians benefit’” yang mencatat pernyataan perwakilan FPI, Hanif Alatas, yang menyambut positif sikap Presiden Prabowo. Ia menilai bahwa keputusan Prabowo untuk keluar dari BoP jika tidak memberikan manfaat bagi Palestina merupakan tindakan yang wajar.
Sikap Majelis Ulama Indonesia
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan keluar dari BoP. MUI menilai forum tersebut belum menunjukkan efektivitas dalam menciptakan perdamaian yang nyata di Palestina. Mereka menilai BoP “tidak efektif dalam mewujudkan perdamaian sejati di Palestina.”
Alasan Indonesia Masih Bertahan di BoP
Meski ada desakan untuk keluar dari BoP, hingga saat ini Presiden Prabowo belum mengambil sikap untuk mundur dari forum tersebut. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menilai keikutsertaan Indonesia dalam organisasi tersebut justru mencederai prinsip bebas aktif sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Namun, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR), Nusron Wahid, menyatakan bahwa BoP menjadi satu-satunya forum strategis yang masih dapat dimanfaatkan untuk membahas dan merundingkan perdamaian.
Evaluasi Terus Dilakukan
Nusron menjelaskan bahwa Prabowo tidak ingin gegabah dalam mengambil sikap. Ia menegaskan bahwa Indonesia menganggap BoP sebagai sarana untuk menuju perdamaian. “Setidaknya ikhtiar ini dicoba dulu. Jangan sampai ikhtiar dan usahanya belum dilakukan, sudah diminta untuk keluar terlebih dahulu,” ujar Nusron.
Fokus pada Keselamatan WNI
Di sisi lain, pemerintah tengah fokus memastikan keselamatan dan perlindungan terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah konflik. Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa segala pembahasan tentang BoP saat ini ditangguhkan atau istilahnya on hold. Ia menekankan bahwa setiap keputusan terkait partisipasi Indonesia dalam berbagai mekanisme internasional didasarkan pada pertimbangan politik luar negeri bebas aktif dan kepentingan nasional.
Tindakan Pencegahan dan Pengawasan
Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu, Heni Hamidah, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum diterima laporan adanya WNI yang terdampak langsung oleh serangan. Yang terdampak saat ini adalah adanya WNI stranded karena pembatasan atau penutupan ruang udara, pengalihan rute penerbangan, serta ketidakpastian jadwal transportasi internasional. Para WNI yang terdampar tersebut mendapatkan akomodasi, penginapan, serta konsumsi sambil menunggu penerbangan lanjutan.



