Ledakan Besar di Pusat Kota Tehran Setelah Serangan Israel ke Iran
Ledakan besar terdengar di pusat kota Tehran setelah Israel mengumumkan serangan rudal terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini memicu penutupan ruang udara Israel dan deklarasi keadaan darurat, di tengah kekhawatiran akan serangan balasan berupa rudal maupun drone dari Iran. Fars News Agency melaporkan sejumlah rudal menghantam kawasan University Street dan Jomhouri di Tehran. Asap tebal terlihat membubung dari beberapa titik, menurut koresponden Al Jazeera di lapangan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan serangan tersebut sebagai langkah pre-emptive. “Negara Israel meluncurkan serangan pendahuluan terhadap Iran untuk menghapus ancaman terhadap negara Israel,” ujarnya. Serangan Israel terhadap Iran telah memantik reaksi internasional.
Reaksi Rusia terhadap Serangan Israel-AS ke Iran
Rusia memberikan respons terhadap serangan Israel-AS ke Iran. Terlebih serangan itu mengakibatkan 24 pelajar tewas di Iran. Rusia murka dan mengecam serangan gabungan Israel-AS ke Teheran. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev pada Sabtu (28/2/2026). Ia menanggapi alasan AS menyerang Iran hanya karena program nuklir. Medvedev menyebut alasan itu hanyalah kedok AS agar menyerang Teheran. Sebaliknya, Medvedev menyebut Presiden AS Donald Trump sangat munafik. Menurutnya AS tidak pernah memiliki niat tulus mencapai kesepakatan damai dalam negosiasi nuklir dengan Teheran.
Sementara Moskow menyatakan pihaknya tetap siap membantu Iran. Termasuk soal membantu upaya menemukan solusi damai berdasarkan hukum internasional. Namun Rusia tak menyinggung soal kemungkinan membantu Iran terkait operasi militer ke AS hingga Israel.
Peran Indonesia sebagai Mediator
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memberikan pernyataan resmi terkait serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Kemlu menyatakan serangan tersebut bakal meningkatkan eskalasi militer di Timur Tengah. “Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah,” kata Kemlu dalam keterangannya, Sabtu. Kemlu pun mendesak agar seluruh pihak menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi.
Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan segala perbedaan melalui jalur damai. Di sisi lain, Kemlu menyebut Presiden Prabowo Subianto siap untuk menjadi mediator demi menciptakan keamanan yang kondusif di kawasan Timur Tengah, jika upaya tersebut memang diperlukan. Prabowo disebut mau terbang ke Tehran untuk memediasi kedua belah pihak.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” ujar Kemlu. Lebih lanjut, Kemlu mengimbau kepada WNI di Iran untuk tetap tenang, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan perwakilan RI terdekat.
Alasan Serangan ke Iran oleh Trump dan Netanyahu
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah mengungkap alasan dilakukannya serangan ke Iran. Trump menegaskan serangan dilakukan demi melindungi rakyat AS dari rezim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. “Beberapa waktu lalu, militer AS memulai operasi serangan di Iran. Tujuan utama kita yakni melindungi masyarakat AS dengan mengeliminasi ancaman dari rezim Iran,” katanya. Ia mengatakan AS akan memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir dan menuduh Teheran berupaya membanun kembali program nuklirnya dan mengembangkan rudal jarak jauh yang mengancam pihaknya dan sekutu.
“Kami akan memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka. Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga ke tanah,” tegasnya. Trump juga mengklaim telah berbicara kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan mendesak para anggotanya untuk menyerah. “Kalian harus meletakkan senjata. Kalian akan diperlakukan secara adil dengan kekebalan penuh atau kalian akan menghadapi kematian yang pasti,” tuturnya.
Di sisi lain, Trump juga sempat memberikan pernyataannya pada Jumat (24/2/2026) kemarin dengan menyatakan tidak puas atas situasi terkini dan kekuatan militer Iran. Dia ingin agar Iran tidak memiliki senjata nuklir. Namun, menurutnya negosiasi telah berjalan alot. “Kami tidak terlalu puas dengan cara mereka (Iran) bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi,” ujarnya di Gedung Putih setelah pembicaraan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran, dikutip dari The Guardian. Trump juga mengatakan pihaknya lebih memilih jalur diplomasi terkait kepemilikan senjata nuklir tersebut. Namun, dia kembali menegaskan bahwa Iran dilarang untuk memiliki senjata nuklir.
“Akan sangat baik jika mereka bernegosiasi dengan itikad baik dan kesadaran, tetapi sejauh ini mereka belum mencapainya,” tuturnya. Sementara, Netanyahu mengatakan serangan ke Iran dilakukan untuk ‘menghilangkan ancaman eksistensial’. Dalam pernyataan video yang dirilis dikutip dari The Jerusalem Post, Netanyahu berterima kasih kepada Trump ‘atas kepemimpinannya yang bersejarah’.
“Saudara dan saudariku, warga Israel, beberapa saat yang lalu, Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi untuk menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh rezim teroris di Iran,” kata Netanyahu. “Aksi gabungan kita akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk mengambil kendali atas nasib mereka sendiri,” tambahnya. Netanyahu kemudian menyerukan pergantian rezim di Teheran dan menyerukan rakyat Iran untuk bersatu melawan pemerintah mereka.
“Waktunya telah tiba bagi seluruh rakyat Iran… untuk melepaskan belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan cinta damai,” cetus PM Israel tersebut dalam pernyataan yang ditujukan pada rakyat Iran. Seruan serupa juga disampaikan Netanyahu saat Israel terlibat perang 12 hari dengan Iran pada Juni 2025 lalu. Senada dengan Trump, Netanyahu menegaskan Iran tidak diperbolehkan untuk mendapatkan senjata nuklir.
“Rezim teroris yang kejam ini tidak boleh diizinkan untuk mempersenjatai diri dengan senjata nuklir yang akan memungkinkan mereka untuk mengancam seluruh umat manusia,” tegasnya. “Bersama kita akan berdiri, bersama kita akan berjuang, dan bersama kita akan memastikan keabadian Israel,” pungkasnya.



