PSIM Yogyakarta Kembali Kalah, Krisis Pemain Jadi Penyebab Utama
PSIM Yogyakarta kembali mengalami kekalahan dalam pertandingan pekan ke-18 BRI Super League 2025/2026. Tim asuhan Jean-Paul van Gastel ini kalah telak dengan skor 0-3 dari Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (25/1/2026). Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi tim tidak stabil, terutama karena masalah cedera dan krisis pemain.
Banyak Pemain Cedera, Lini Belakang Kacau
Kekalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah banyaknya pemain yang cedera. PSIM Yogyakarta tampil tanpa empat pemain asing, termasuk dua bek tengah utama, Yusaku Yamadera dan Franco Ramos Mingo. Yusaku masih menjalani pemulihan cedera, sementara Franco harus absen akibat sanksi kartu merah. Dua pemain asing lainnya, Anton Fase dan Donny Warmerdam, juga belum pulih sepenuhnya.
Dengan situasi tersebut, PSIM hanya bisa mengandalkan empat pemain asing di laga ini. Keempat pemain tersebut adalah Ze Valente, Nermin Haljeta, Ezequiel Vidal, dan Rahmatsho Rahmatzoda. Padahal, aturan kompetisi memperbolehkan sembilan pemain asing dalam line-up dan tujuh yang bisa tampil.
Masalah Semakin Buruk di Babak Kedua
Masalah PSIM Yogyakarta semakin parah saat babak kedua berlangsung. Dua bek tengah lokal, Andy Setyo dan Rendra Teddy, terpaksa ditarik keluar pada menit ke-68 dan ke-78 akibat cedera. Rotasi darurat dilakukan oleh pelatih untuk mengisi posisi bek tengah yang kosong.
Rahmatsho Rahmatzoda, yang biasanya bermain sebagai gelandang bertahan, dipindahkan ke posisi bek tengah. Sementara itu, Rio Hardiawan yang biasanya bermain sebagai full back juga diminta mengisi posisi yang sama. Perubahan ini membuat lini belakang PSIM semakin rapuh dan rentan dijebol lawan.
Persebaya Memanfaatkan Kesempatan
Persebaya Surabaya yang unggul 1-0 di babak pertama mampu memanfaatkan situasi tersebut dengan baik. Tim tamu berhasil mencetak dua gol tambahan di sisa pertandingan dan memastikan kemenangan 3-0. Kekalahan ini menjadi bukti bahwa PSIM Yogyakarta kesulitan menghadapi tekanan dari lawan.
Jean-Paul van Gastel mengakui bahwa timnya terpaksa mengambil risiko besar untuk mengejar ketertinggalan. Namun, hal ini justru berdampak negatif karena lini belakang yang sudah lemah semakin tertekan.
“Pada menit ke-65 kami masih tertinggal satu gol, jadi kami harus mengambil risiko dengan bermain lebih ofensif. Kami menambah penyerang,” ujar Van Gastel, Senin (26/1/2026).
“Masalahnya, bek tengah kami tumbang. Kami harus memasukkan pemain yang belum pernah bermain di posisi itu. Saya tidak menyalahkan mereka,” tambahnya.
Pelatih Akui Kekalahan karena Kondisi Tim
Van Gastel menegaskan bahwa kekalahan PSIM Yogyakarta atas Persebaya bukanlah hasil dari kesulitan bermain, melainkan karena kondisi tim yang tidak ideal. “Jadi saya tidak mengatakan kami kesulitan, saya katakan kami adalah korban dari keadaan,” tegas pelatih asal Belanda tersebut.



