Kisah Sukses Pande Komang Gunadhi, Perajin Tempe dari Lampung di Jepang
Pande Komang Gunadhi, seorang perajin tempe asal Lampung, berhasil membuktikan bahwa produk tradisional Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Ia sukses memasarkan tempe buatannya ke sekitar 150 toko di berbagai daerah Jepang dengan omzet mencapai sekitar 3 juta yen per bulan. Keberhasilan ini tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Awal Mula Kesuksesan
Gunadhi lahir di Lampung dan lulus dari Universitas Lampung jurusan Biologi pada tahun 1989. Sebelum menetap di Jepang, ia pernah bekerja sebagai guru di SMAN 1 Lampung dan bahkan ditawari menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun, tawaran untuk bekerja di Jepang pada akhir 1997 mengubah arah hidupnya. Setelah mengikuti pendidikan bahasa Jepang selama tiga bulan di Bandung, ia berangkat ke Prefektur Hyogo dan bekerja sebagai pegawai tetap selama dua tahun.
Tahun 2003, ia menikah dengan perempuan Jepang asal Hiroshima dan menetap di kota tersebut. Selama sekitar 15 tahun, Gunadhi membantu usaha keluarga istrinya dengan status kontrak. Di sela-sela pekerjaan itu, sejak 2017 ia mulai melakukan uji coba pembuatan tempe secara serius. Hingga akhir 2019, ia memutuskan berhenti bekerja dan fokus penuh menekuni usaha tempe—dengan dukungan penuh sang istri.
Memperluas Pasar
Awalnya, tempe Gunadhi hanya dipasarkan ke restoran Matahari di Hiroshima dan toko Hiroshima Halal Food. Namun berkat kualitas rasa dan konsistensi produksi, jangkauan pemasarannya meluas hingga sekitar 150 toko di Jepang, termasuk sekitar 50 toko jaringan Vietnam. Bahan baku ragi didatangkan langsung dari Indonesia, sementara kedelai diimpor dari Kanada.
Menurut Gunadhi, kunci kualitas tempe terletak pada pengaturan suhu dan aliran oksigen selama proses fermentasi. “Kalau fermentasi tidak baik, tempe bisa jadi asam. Kontrol suhu dan oksigen itu sangat penting,” jelasnya. Setiap bulan, Gunadhi memproduksi sedikitnya 12.000 pak tempe dengan berat 280 gram per pak.
Menembus Pasar Premium
Pembeli tempe Gunadhi tidak hanya berasal dari Hiroshima, tetapi juga dari Hokkaido, Ibaraki, Osaka, Fukui, Okinawa, hingga daerah lain di Jepang. Sejumlah restoran yang sebelumnya berlangganan produsen lain pun beralih ke produknya. Bahkan, tempe produksinya dipesan oleh hotel internasional seperti Hyatt Fukuoka dan Rihga Royal Hotel, serta sejumlah hotel besar lain di Jepang bagian selatan.
Sertifikasi Ketat Jepang
Gunadhi menekankan bahwa usaha pangan di Jepang memiliki tanggung jawab hukum yang sangat berat. Ia mengantongi sertifikat dan lisensi resmi dari dinas kesehatan Jepang setelah lulus ujian khusus. Selain itu, izin usaha dan inspeksi rutin juga wajib dipenuhi. “Kontrol pemerintah sangat ketat. Kalau ada komplain dan tidak ditangani dengan detail, bisa bangkrut,” tegasnya.
Keunggulan tempe Gunadhi, menurutnya, adalah selalu dikirim dalam kondisi fresh, bukan hasil pembekuan berulang. Dari hasil usaha tempe, Gunadhi mampu membiayai pendidikan kedua putrinya. Putri sulungnya (22) memperoleh beasiswa dan sempat berkeliling dunia untuk studi, sementara putri keduanya (20) kini menempuh pendidikan di California, Amerika Serikat.
Fokus pada Pasar Jepang
Gunadhi juga kerap diundang memberi ceramah, termasuk oleh Japan Post, untuk berbagi pengetahuan mengenai proses fermentasi tempe. Ke depan, ia memilih tetap fokus mengembangkan pasar Jepang yang dinilainya masih sangat luas. “Kalau ada tawaran dari negara lain tentu dipertimbangkan, tapi fokus saya sekarang tetap Jepang,” pungkasnya.
Kisah Gunadhi menjadi bukti bahwa produk tradisional Indonesia seperti tempe mampu bersaing di pasar internasional bahkan di negara dengan standar kualitas dan hukum seketat Jepang.



