Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 31 Maret 2026
Trending
  • Perputaran Ekonomi Pasar Jedogan Capai Rp3 M, DPRD Kota Serang Usulkan Penataan dan Lokasi Khusus
  • Redmi A7 Pro hadir, baterai 6000 mAh dan layar 120Hz dengan harga terjangkau
  • Waspadai Penipuan Link Denda Tilang ETLE, Ini Penjelasan Dirlantas Polda Jateng
  • Strategi Pemikiran, Persiapan Perang Iran
  • Tingkatkan Warisan Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert, John Herdman Janjikan Gaya Baru Timnas Indonesia
  • Tidak Selalu Cepat, Ini 7 Cara Tenang dengan Timeline Kariermu
  • Harga emas Antam turun ke Rp2,810.000, buyback anjlok Rp76 ribu hari ini Jumat 27 Maret 2026
  • Mulai Rp100 Juta, Toyota Rumion Tiruan Ertiga Gen 2 Layak Dimiliki 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Potret Iran Tanpa Internet: Gelap, Sunyi, dan Marah
Nasional

Potret Iran Tanpa Internet: Gelap, Sunyi, dan Marah

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 Januari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com.CO.ID, JAKARTA — Iran kembali menghadapi gelombang protes yang menyebar di berbagai kota. Demonstrasi besar yang awalnya terbatas berubah menjadi krisis nasional setelah pemerintah memutus akses internet secara hampir total. Selama hampir dua minggu, jutaan warga Iran terputus dari dunia luar, tidak hanya informasi, tetapi juga dari sumber penghidupan mereka. Ini dianggap sebagai pemadaman internet terpanjang dan paling menyeluruh sepanjang sejarah Republik Islam Iran.

Warga Iran telah menghadapi pemadaman internet nasional selama hampir dua minggu, yang membatasi akses informasi, komunikasi global, dan aktivitas ekonomi berbasis daring. Pemutusan ini langsung melumpuhkan ribuan usaha kecil yang bergantung pada media sosial dan platform digital. Pihak berwenang memutus akses internet pada 8 Januari, bersamaan dengan merebaknya protes nasional yang direspons dengan tindakan keras. Para aktivis melaporkan lebih dari 4.500 orang tewas, meskipun jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan lebih besar. Sejak saat itu, hanya sedikit situs domestik yang kembali berfungsi. Google mulai beroperasi sebagian, namun sebagian besar hasil pencarian tetap tidak dapat diakses.

Hingga kini, pemerintah belum memberikan kepastian kapan internet akan dipulihkan sepenuhnya. Ketidakjelasan ini memicu kecemasan luas, terutama di kalangan pelaku usaha. Seorang pemilik toko hewan peliharaan di Teheran mengatakan omzet bisnisnya anjlok hingga 90 persen. “Saya bergantung pada Instagram dan Telegram. Sekarang semuanya mati. Pemerintah menawarkan platform domestik, tapi pelanggan kami tidak ada di sana,” ujarnya dengan syarat anonim karena khawatir pembalasan.

Tekanan Ekonomi yang Berlapis

Pemadaman internet menjadi pukulan terbaru bagi perekonomian Iran yang sudah lama tertekan. Protes bermula pada 28 Desember setelah nilai tukar rial Iran anjlok hingga melewati 1,4 juta rial per dolar AS. Sepuluh tahun lalu, nilai tukar masih berada di kisaran 32.000 rial, dan sebelum Revolusi 1979 bahkan hanya 70 rial per dolar. Pelemahan mata uang memicu inflasi tajam, meningkatkan harga pangan dan kebutuhan pokok. Perubahan harga bensin pada Desember lalu semakin menyulut kemarahan publik.

Menurut kantor berita negara IRNA, Wakil Menteri Komunikasi Ehsan Chitsaz menyebut pemadaman internet merugikan Iran antara 2,8 hingga 4,3 juta dolar AS per hari. Namun, lembaga pemantau NetBlocks memperkirakan kerugian riil mencapai lebih dari 37 juta dolar AS per hari, berdasarkan indikator Bank Dunia dan Uni Telekomunikasi Internasional. Pada 2021, bisnis Iran diperkirakan menghasilkan hingga 833 juta dolar AS per tahun dari media sosial. Sementara gangguan internet selama protes Mahsa Amini pada 2022 diperkirakan merugikan ekonomi Iran hingga 1,6 miliar dolar AS.

Rezim di Bawah Tekanan

Akademisi Universitas Melbourne, Dara Conduit, menilai pemadaman internet memiliki konsekuensi ekonomi dan politik yang luas. Dalam artikelnya di jurnal Democratization, ia menulis bahwa gangguan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan sosial dan memicu gelombang mobilisasi anti-rezim baru, di saat Republik Islam menghadapi ancaman eksistensial serius. Pada 2022, lebih dari 500 orang dilaporkan tewas dan 22.000 orang ditahan dalam operasi penertiban. Kini, pola serupa kembali terlihat. Jaksa mulai menargetkan bisnis yang dianggap mendukung demonstrasi. Kantor berita Mizan melaporkan bahwa jaksa Teheran mengajukan penyitaan aset terhadap 60 kafe yang dituduh terlibat dalam aksi protes. Sejumlah kafe di Teheran dan Shiraz telah ditutup.

Kemurkaan publik terlihat jelas, bahkan di media semi-resmi. Seorang pembaca menulis di kolom komentar kantor berita Fars, “Tolong jangan biarkan pemadaman internet menjadi kebiasaan. Kehidupan bisnis kami hancur.”

Bisnis Sepi, Ketakutan Menyebar

Di Teheran, toko dan restoran tetap buka, namun nyaris tanpa pelanggan. Warga memprioritaskan kebutuhan paling dasar. “Orang-orang lewat tanpa minat belanja,” kata pemilik toko penjahit kelas atas. “Kami tetap membayar listrik dan gaji, tapi tidak ada pemasukan.” Di Shiraz, seorang pemilik toko bunga bernama Gholamreza Zareh dilaporkan tewas ditembak pasukan keamanan setelah memberi perlindungan kepada demonstran. Sumber lokal mengatakan ia ditembak di leher saat membuka pintu tokonya untuk memastikan situasi aman.

Kesaksian dari Jalanan

Mona Bolouri, warga Iran-Kanada berusia 40 tahun, menyaksikan langsung besarnya demonstrasi di Mashhad sebelum kembali ke Kanada. Ia meyakini Republik Islam akan runtuh setelah melihat skala dan persatuan massa. “Ini berbeda dari semua protes sebelumnya,” katanya. “Kerumunannya begitu besar. Mereka meneriakkan slogan melawan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan menyerukan kembalinya Reza Pahlavi.”

Vekilabad Boulevard, salah satu jalan utama di Mashhad, dipenuhi demonstran, sebuah pemandangan yang mengejutkan di kota yang dikenal sebagai basis konservatif dan dekat secara simbolis dengan kekuasaan Khamenei. Sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989, Ali Khamenei memegang otoritas tertinggi di Iran, melampaui presiden dan parlemen. Ia mengendalikan angkatan bersenjata, lembaga peradilan, media negara, serta memiliki pengaruh langsung atas Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menjadi tulang punggung keamanan dan kekuatan politik rezim. Struktur kekuasaan ini membuat setiap bentuk oposisi bukan sekadar perlawanan terhadap pemerintah, tetapi terhadap sistem ideologis negara itu sendiri.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, otoritas simbolik dan moral Khamenei terus terkikis. Krisis ekonomi, inflasi, pembatasan kebebasan sipil, serta represi berdarah telah menggerus legitimasi rezim di mata generasi muda. Seruan terbuka menentang Khamenei yang dulu dianggap tabu, kini menggema di jalanan, menandai pergeseran psikologis penting dalam politik Iran: dari ketakutan menuju perlawanan terbuka.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Perputaran Ekonomi Pasar Jedogan Capai Rp3 M, DPRD Kota Serang Usulkan Penataan dan Lokasi Khusus

31 Maret 2026

Harga emas Antam turun ke Rp2,810.000, buyback anjlok Rp76 ribu hari ini Jumat 27 Maret 2026

31 Maret 2026

Waspadai Penipuan Link Denda Tilang ETLE, Ini Penjelasan Dirlantas Polda Jateng

31 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Perputaran Ekonomi Pasar Jedogan Capai Rp3 M, DPRD Kota Serang Usulkan Penataan dan Lokasi Khusus

31 Maret 2026

Redmi A7 Pro hadir, baterai 6000 mAh dan layar 120Hz dengan harga terjangkau

31 Maret 2026

Waspadai Penipuan Link Denda Tilang ETLE, Ini Penjelasan Dirlantas Polda Jateng

31 Maret 2026

Strategi Pemikiran, Persiapan Perang Iran

31 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?