Semarang, Indonesia
Inspirasi dan Konsep Unik di Kota Lama Semarang
Di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Jinawi Rana Putri (31) membuka lapak kecil bernama Piknik Puisi yang menawarkan jasa penulisan puisi berdasarkan cerita pengunjung menggunakan mesin tik lawas. Ide ini muncul dari keinginan Jinawi untuk lebih percaya diri menampilkan karyanya. Sebelumnya, ia telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Sabda Diri, namun belum berani meluncurkannya secara resmi karena merasa minder.
“Aku merasa buku puisi itu enggak se-laku novel atau buku edukasi. Aku bahkan belum pernah launching buku puisiku,” katanya saat ditemui di lapaknya di depan Toko Ola, Minggu (1/11/2026).
Inspirasi konsep ini datang dari unggahan media sosial seorang seniman di London yang menulis puisi menggunakan mesin tik di ruang publik. Jinawi memilih Kota Lama sebagai lokasi karena ramai wisatawan dan orang dari berbagai daerah.
“Aku pengin eksperimen juga. Ketemu orang, dengar ceritanya, lalu aku tulis puisi dari situ,” ujarnya.
Kota Lama dipilih karena merupakan destinasi wisata paling populer di Jawa Tengah. Penggunaan mesin tik manual juga kerap memancing rasa penasaran, terutama di kalangan generasi muda.
“Di mesin tik kamu enggak bisa salah. Jadi harus pelan, harus hati-hati. Ada jedanya,” tutur Jinawi.
Proses dan Dampak Piknik Puisi
Sejak memulai lapaknya pada 19 Juli 2025, Jinawi biasanya membuka Piknik Puisi setiap akhir pekan. Dalam sehari, ia mampu menulis satu hingga lima puisi, dengan harga mulai dari Rp 20.000 per jasa. Hingga kini, lebih dari 30 puisi telah diketik, baik secara langsung maupun melalui pesanan daring dari luar Semarang seperti Pekalongan dan Salatiga.
Bagi Jinawi, Piknik Puisi bukan sekadar lapak jualan, melainkan sarana untuk terhubung dengan orang lain, menyerap cerita, dan menjadikannya sumber kontemplasi. Banyak pengunjung datang untuk bercerita tentang perasaan, harapan, hingga kehilangan.
“Ada orang yang datang berkali-kali karena merasa puisinya membantu menyalurkan perasaan yang sulit diungkapkan,” ujarnya. Jinawi menceritakan pengalaman seorang ibu rumah tangga yang melalui percakapan panjang, puisinya membantu perempuan itu menemukan letak kesedihannya. Ia merasa puisinya seperti membongkar kata-kata yang terkunci di “laci perasaan” seseorang.
“Dia bilang, dari puisiku dia akhirnya tahu selama ini sakitnya di mana,” kenang Jinawi. Bagi Jinawi, puisi sejak awal merupakan terapi pribadi. Menulis adalah cara ia berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa disangka, terapi puisinya itu juga dapat membantu orang lain.
“Ternyata dampak positifnya sama. Enggak cuma ke aku,” katanya.
Respons Pengunjung
Salah satu pengunjung, Najwamudin (20), mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mencoba Piknik Puisi saat berlibur ke Semarang. Ia menceritakan harapannya terhadap orang tua yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan.
“Kata-katanya sesuai dengan apa yang aku rasakan,” katanya. Najwamudin menilai Piknik Puisi sebagai pengalaman yang menarik dan jarang ditemui. Ia sempat mengobrol dengan Jinawi mengenai sastra, lalu membaca buku kumpulan puisi sembari menunggu proses pengetikan puisinya.
“Sangat menarik. Ini pertama kali aku menemukan konsep seperti ini,” ujarnya.
Melalui Piknik Puisi, Jinawi berharap orang-orang bisa lebih jujur pada perasaan mereka. Ia melihat puisi tidak hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai media untuk mengekspresikan diri dan memahami emosi.



