Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2025
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan proyeksi terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,25%, sementara untuk keseluruhan tahun 2025 diproyeksikan sebesar 5,07%. Meskipun angka ini menunjukkan proyeksi yang masih solid, namun belum cukup untuk mencapai target pemerintah yang ditetapkan sebesar 5,45% pada kuartal IV dan 5,2% untuk seluruh tahun.
Josua menjelaskan bahwa untuk mencapai target tersebut, diperlukan lonjakan tambahan dari konsumsi dan investasi yang lebih besar dibandingkan pola musiman normal di akhir tahun. Ia mengatakan hal ini melalui wawancara dengan media.
Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Dari segi konsumsi, Josua menyebut bahwa aktivitas konsumen tetap kuat meskipun inflasi masih terjaga. Keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis, serta tekanan harga tahunan yang moderat menjadi faktor pendukung utama. Selain itu, aktivitas dunia usaha juga terlihat stabil, dengan industri pengolahan tetap berada pada fase ekspansi. Hal ini membantu produksi dan distribusi barang pada periode akhir tahun.
Sementara itu, dari sisi permintaan, penjualan eceran meningkat pada November dan diperkirakan akan tumbuh pada Desember 2025. Namun, laju pertumbuhan tidak menunjukkan akselerasi yang cukup besar untuk mendorong pertumbuhan melebihi 5,45% tanpa dukungan dari belanja pemerintah dan percepatan realisasi proyek.
Dukungan Lain yang Penting
Selain itu, dukungan lain yang penting adalah likuiditas dan penyaluran kredit yang menguat pada akhir tahun. Biasanya, hal ini membantu pembiayaan kegiatan usaha dan belanja masyarakat. Sepanjang tahun 2025, penopang terbesar pertumbuhan ekonomi tetap berasal dari kombinasi konsumsi rumah tangga yang relatif resilien dan investasi yang kuat. Realisasi investasi mencapai target tahunan dan tetap tumbuh, dengan kontribusi besar dari proyek hilirisasi dan sektor-sektor terkait.
Strategi Masa Depan untuk Pertumbuhan Ekonomi
Ke depan, Josua memperkirakan bahwa tumpuan pertumbuhan yang paling realistis adalah menjaga mesin investasi tetap meningkat sambil memperkuat daya beli. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong percepatan proyek hilirisasi yang makin menyebar ke luar mineral. Selain itu, penguatan industri pengolahan agar menyerap tenaga kerja lebih luas, pengembangan kawasan industri dan perumahan, serta investasi infrastruktur penunjang seperti listrik, pelabuhan, dan logistik juga menjadi fokus.
Dengan adanya penurunan biaya usaha dan peningkatan kapasitas produksi, pertumbuhan ekonomi dapat lebih stabil. Di sisi lain, stabilitas harga dan ketersediaan pembiayaan perlu dijaga supaya konsumsi tidak melemah. Tanpa konsumsi yang lebih kuat, pertumbuhan ekonomi mudah tertahan di sekitar 5% meskipun investasi tinggi.



