Tidur lebih awal belum berhasil dipraktikan sebagai resolusi. Meski tidak ada gangguan, aku masih tergoda untuk tidur larut. Tidak baik.
Aku memasang alarm berlapis pukul 5.30 dan jam 06.00 WIB. Ini adalah antisipasi agar tidak kesiangan. Aku bangun jam 5.45 WIB. Mata masih berat, tapi matahari telah tinggi memanggil untuk bekerja.
Buka gembok gerbang, nyalakan motor. Rutinitas pagi. Aku melakukan sedikit peregangan supaya badan tidak kaku.
Aku tinggal memasak sayur tambahan. Telor balado yang dimasak tadi malam menjadi gong untuk makan siang.
Aku “semedi” sebentar melepaskan muatan sambil berkhayal. Lalu mandi dan keramas. Segar rasanya. Aku sudah menyiapkan roti dan selai srikaya oleh-oleh dari Siantar untuk teman kantor.
Ajaib, aku bisa berangkat jam 6.35 WIB, jauh lebih awal dari biasanya. Suatu pencapaian. Aku menjadi orang kedua yang tiba di ruang briefing. Ada temanku yang tiba jauh lebih awal, bahkan ada kelompok kecil yang datang sangat pagi untuk persekutuan doa. Keren sih.
Datang lebih awal berarti persiapannya lebih matang dari rumah. Tidak tergesa-gesa di jalan. Tenang masuk ke ruang briefing. Lebih siap untuk bekerja hari ini.
Tapi, kalau ada anak istri di rumah, kenapa aku berangkatnya malah mepet terus ya?
Hari Rabu menjadi agak istimewa buatku. Aku hanya mengajar 2 jam pelajaran. Jadi banyak waktu longgar untuk mengerjakan tugas administrasi. Minggu ini, lebih istimewa lagi. Hari Kamis ada Natal guru/karyawan Kristen sekota. Anak belajar di rumah. Aku akan punya lebih banyak waktu longgar.
Meski di awal bulan, aku sudah merancang daily task untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak ingin seperti tahun sebelumnya, sering mepet. Ini bisa jadi resolusiku dalam pekerjaan. Buku PBL yang aku rancang bersama rekan guru Javanese Culture juga sudah hampir jadi. Senangnya jika bisa produktif pasca-liburan.
Waktunya pulang. Aku “melapor” ke mesin presensi, lalu bergegas menuju ke parkiran. Koper di jok belakang motorku sudah menunggu dikembalikan. Ceritanya, kami meminjam koper adik rohani untuk pulkam. Dengan beberapa pertimbangan, kami batal memakai koper itu, memilih kardus untuk membawa oleh-oleh.
Aku mampir dulu ke pasar untuk membeli bumbu bawang merah-putih, cabe dan sayur serta tempe. Paketan bumbu Rp15 ribu, sawi putih Rp5 ribu sekilo, tempe Rp4 ribu. Bisa buat masak dua hari. Bapak satu ini bahagia bisa belanja murah!
Meski hanya tahu “jurus tumis”, pokoknya ada unsur hijau pada makananku. Namanya juga mode bertahan. Makan sayur dan lauk seadanya.
Setelah cukup rehat, aku ke kampung rumah orang tuaku untuk mengambil sereh dan buah sukun. Sereh untuk melengkapi pesanan empon-empon istriku. Buah sukun ini pohonnya aku tanam saat masih kuliah. Usaha bertahun-tahun ini akhirnya menghasilkan buah. Sama halnya penggundulan hutan menahun menghasilkan kayu gelondongan sebagai “buah”.
Sukunnya panen sendiri, jadi aku jual lima ribu per buah, ukuran setelapak tangan orang dewasa. Beberapa teman kantorku memesan. Bukan nominalnya, tapi kepuasan dari menanam sendiri, menunggu, panen sedikit, ternyata bisa dijual. Aku berikan satu untuk ibu petugas kebersihan sekolah.
Hari ini satu muridku sudah minta les. Lumayan, untuk mengisi waktu daripada sendirian di rumah. Bisa nambah cuan juga, hehe!
Urusan refund dana untuk tiket istri-anak belum kelar. Aku terus memantau email untuk mengetahui perkembangannya. Akhirnya, dananya berhasil dirilis. Namun, pihak jasa baru akan mengirim ke bank tujuan tanggal 8 Januari. Masih belum bisa beli tiket.
Aku segera membersihkan empon-empon pesanan istri dan sukun pesanan teman. Tak lupa, istri telepon video agar aku bisa mengobrol sebentar dengan anak. Kami berdoa bersama. Waktunya tidur. Besok punya masalahnya sendiri.



