Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 21 Februari 2026
Trending
  • Hoki Mengalir di Tahun Kuda Api 2026! 7 Shio Ini Dibuka Jalan Kesuksesan Karier
  • Cek Pajak Motor 2026: Naik atau Tidak? Ini Cara Mudah via E-Samsat dan SIGNAL
  • Ingin Maraton The Art of Sarah? Persiapkan 5 Hal Ini!
  • Renungan Katolik Harian: Bapamu Melihat yang Tersembunyi
  • Diskotek dan Karaoke di Jakarta Wajib Tutup Selama Ramadan 2026
  • Ekonomi Syariah Indonesia: Tumbuh di Angka, Tertinggal dalam Keadilan
  • Land Rover Defender MY26 Hadir di Indonesia, Teknologi Terkini, Harga Mulai Rp3,6 Miliar
  • Suzuki Fronx Terjepit Rival Baru, Masih Jadi Pilihan Cerdas 2026?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»Penjualan mobil melambat, cek prospek saham otomotif 2026
Otomotif

Penjualan mobil melambat, cek prospek saham otomotif 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Penjualan Mobil Nasional Tahun 2025

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa penjualan mobil nasional secara wholesales pada tahun 2025 mencapai 803.687 unit. Angka ini menurun sebesar 7,2% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang sebesar 865.723 unit. Meski mengalami penurunan, realisasi tersebut masih berada di atas target Gaikindo yang ditetapkan sebanyak 780.000 unit.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, menyatakan bahwa prospek saham otomotif pada tahun 2026 cenderung mengarah pada fase pemulihan bertahap, bukan langsung kembali agresif. Menurutnya, katalis utama sektor ini tetap berasal dari faktor makroekonomi, terutama potensi arah suku bunga yang lebih longgar, yang dapat menopang penyaluran kredit kendaraan serta daya beli masyarakat. Selain itu, normalisasi strategi diskon dinilai dapat membuat persaingan industri menjadi lebih rasional.

Meski demikian, Ekky mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu dicermati. “Risikonya jelas yaitu pelemahan rupiah bisa mengerek biaya komponen impor dan kompetisi merek tetap ketat,” ujarnya.

Prospek Saham Otomotif di 2026

Di sisi lain, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, berpendapat bahwa prospek saham otomotif di 2026 masih relatif menarik meskipun penjualan mobil nasional pada 2025 mengalami penurunan secara tahunan. Hari menyebutkan emiten otomotif diperkirakan akan fokus memperbaiki kinerja keuangan melalui efisiensi biaya, penyesuaian portofolio produk, serta optimalisasi segmen kendaraan yang lebih terjangkau.

Selain itu, arah kebijakan pemerintah yang memperluas insentif tidak hanya untuk kendaraan listrik murni (BEV), tetapi juga kendaraan berbahan bakar bensin (ICE) dan hybrid (HEV) dengan batasan harga tertentu, berpotensi menjaga permintaan domestik. “Penekanan pada peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga mendorong produksi lokal yang dalam jangka menengah dapat memperbaiki struktur margin emiten,” sebut Hari.

Pemberian Insentif

Terkait wacana penghentian insentif fiskal kendaraan listrik (electric vehicle/EV), Ekky menilai sentimen ini berpotensi menjadi faktor penahan pertumbuhan pada segmen tertentu, khususnya EV yang harga jualnya sangat sensitif terhadap subsidi dan insentif pajak. Jika insentif benar-benar dihentikan, harga on-the-road EV berpeluang naik sehingga laju pertumbuhan penjualan dapat melambat.

Dampak ini diperkirakan akan lebih terasa pada merek yang masih sangat bergantung pada insentif, sementara pemain dengan basis produksi lokal serta portofolio hybrid atau mesin pembakaran internal (ICE) yang kuat dinilai relatif lebih resilien. “Sentimen tersebut bukan berarti prospek EV berakhir, melainkan pasar akan menjadi lebih selektif dan fokus pada emiten dengan produk yang tepat serta jaringan distribusi yang kuat,” ujar Ekky.

Sementara itu, Hari menerangkan tidak dilanjutkannya insentif bea masuk nol persen untuk mobil listrik impor utuh (CBU) berpotensi mengubah peta persaingan, namun tidak serta-merta menjadi penghambat bagi industri otomotif. “Justru, kebijakan ini dapat menguntungkan produsen dengan basis produksi dalam negeri karena kompetisi menjadi lebih seimbang,” terang Hari.

Insentif yang kini lebih merata untuk ICE, HEV, dan BEV berbasis TKDN membuat pertumbuhan industri otomotif ke depan lebih inklusif dan tidak hanya bergantung pada segmen EV impor. Hari juga bilang emiten dengan ekosistem terintegrasi, basis produksi lokal kuat, serta portofolio yang seimbang antara ICE, HEV, dan EV berpeluang lebih prospektif. Grup dengan skala besar, jaringan distribusi luas, serta eksposur pada pembiayaan otomotif juga berpotensi mencatatkan kinerja lebih stabil di tengah pemulihan permintaan domestik.

Rekomendasi Saham

Dari sisi saham, Ekky berpendapat emiten otomotif yang tetap menarik pada 2026 umumnya memiliki diversifikasi bisnis dan jaringan penjualan yang kuat, mendapat manfaat dari pemulihan kredit, atau memiliki eksposur ke bisnis aftermarket sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan unit baru. Ekky menyebut PT Astra International Tbk (ASII) masih kerap menjadi pilihan utama berkat diversifikasi usaha dan posisinya dalam transisi industri kendaraan, dengan rekomendasi beli dengan target harga di kisaran Rp 7.700–Rp 8.000 per saham. Selain itu, saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga dinilai layak untuk dicermati sebagai penunjang sektor otomotif.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Land Rover Defender MY26 Hadir di Indonesia, Teknologi Terkini, Harga Mulai Rp3,6 Miliar

21 Februari 2026

Suzuki Fronx Terjepit Rival Baru, Masih Jadi Pilihan Cerdas 2026?

21 Februari 2026

Honda BeAT 125 2026: Desain Berani, Fitur Lebih Tinggi?

21 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Hoki Mengalir di Tahun Kuda Api 2026! 7 Shio Ini Dibuka Jalan Kesuksesan Karier

21 Februari 2026

Cek Pajak Motor 2026: Naik atau Tidak? Ini Cara Mudah via E-Samsat dan SIGNAL

21 Februari 2026

Ingin Maraton The Art of Sarah? Persiapkan 5 Hal Ini!

21 Februari 2026

Renungan Katolik Harian: Bapamu Melihat yang Tersembunyi

21 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?