BENGKULU, Indonesiadiscover.com
Keempat warga Kota Bengkulu yang tertipu dan diperlakukan tidak manusiawi selama bekerja sebagai scammer judi online di Kamboja akhirnya berhasil melarikan diri ke KBRI di Phnom Penh. Mereka mengalami berbagai bentuk kekerasan, termasuk disetrum, kurang makan, dan dipaksa bekerja tanpa istirahat. Keempat korban adalah Ardi, Deni Febriansyah, Imron, dan Engga.
Para istri dari keempat pria tersebut kini sedang berharap suaminya bisa segera pulang ke Kota Bengkulu dengan bantuan gubernur dan wali kota. Mereka menemui keluarga Imron di Kelurahan Belakang Pondok untuk menyampaikan harapan mereka.
Awal Kebijakan yang Tidak Menyenangkan
Yuli, istri Ardi, menjelaskan bahwa awal keberangkatan suaminya dimulai ketika ia diajak oleh rekannya untuk bekerja di Vietnam sebagai marketing peralatan elektronik pada awal Januari 2026. Gaji yang dijanjikan mencapai Rp 12.800.000 per bulan.
Namun, Yuli sempat merasa ragu karena ia tidak mengetahui secara pasti siapa rekan suaminya yang menawarkan pekerjaan itu. Sosok pengajak tersebut terkesan misterius karena tidak pernah bertemu langsung dengan keluarga korban di Bengkulu.
“Suami hanya bilang ada temannya yang menawarkan kerja ke Vietnam sebagai marketing peralatan elektronik. Saya tidak tahu yang mana temannya, suami hanya bilang temannya itu tinggal di Palembang, Sumatera Selatan,” ujar Yuli.
Ia juga mengatakan bahwa ajakan tersebut membuatnya curiga karena orang yang mengajak tidak pernah mampir ke rumah. “Kalau teman suami setidaknya mereka mampir ke rumah untuk meyakinkan dan menenangkan kami para isteri,” tambahnya.
Perjalanan yang Tidak Sesuai Harapan
Pada akhirnya, keinginan suaminya untuk bekerja di Vietnam semakin kuat. Pada tanggal 6 Januari 2026, Ardi bersama Deni Febriansyah, Imron, dan Engga berangkat ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta, mereka menuju Bekasi untuk membuat paspor.
Katanya, akan ada pelatihan selama dua bulan dan para istri akan diberi upah sebesar Rp 100.000 per hari. Namun, hingga saat ini, keluarga hanya menerima Rp 700.000.
Terbongkar Penipuan di Kamboja
Sustri, istri Imron, menambahkan bahwa setelah membuat paspor, keempat orang tersebut diterbangkan ke Malaysia, Singapura, lalu ke Kamboja. Mereka baru menyadari bahwa mereka ditipu ketika sudah sampai di lokasi tujuan.
“Saat di Malaysia dan Singapura, kami masih bisa berkomunikasi dengan suami. Kemudian kami dapat kabar bahwa suami kami sudah di Kamboja bukan ke Vietnam seperti yang dijanjikan,” jelas Sustri.
Ternyata, keempat pria itu bekerja sebagai scammer judi online. Awalnya, suami belum mau mengungkapkan kebenaran tersebut. Namun, akhirnya mereka mengaku bahwa mereka tidak bekerja sebagai pemasaran barang elektronik, tetapi sebagai penipu judi online.
Pengalaman Buruk di Tempat Kerja
Selama bekerja, para korban tidak diberi waktu istirahat dan dipaksa bekerja selama 24 jam. Jika mengantuk, mereka akan disetrum. Jatah makan hanya diberikan satu kali dalam sehari.
“Mereka yang tidak memenuhi target akan didenda,” ujar Sustri.
Akibat penyiksaan yang terjadi, keempat orang ini akhirnya melarikan diri dari tempat kerja mereka ke KBRI di Phnom Penh.
Upaya untuk Membantu Pulang
Ketua DPD Garda Relawan Indonesia Semesta (GARIS) Provinsi Bengkulu, Iman SP Noya, yang menjadi pendamping keluarga korban, mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi untuk membantu kepulangan para warga tersebut.
“Dengan kementerian kami sudah berkoordinasi, dengan pak gubernur juga sudah saya minta petunjuk. Kami berharap keempat warga Kota Bengkulu itu secepatnya pulang,” ujar Iman.



