Teknologi sebagai Tetangga yang Baik dalam Masyarakat Modern
Di tengah perkembangan pesat teknologi, kita sering melupakan bahwa teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, istilah hyperreality menjadi relevan untuk menggambarkan situasi di mana realitas semu dianggap lebih nyata daripada objek nyata itu sendiri. Teknologi tidak hanya meniru realitas, tetapi juga menciptakan pengalaman yang terasa lebih autentik.
John Tiffin, seperti dikutip dalam buku “Sisi Liar Manusia” karya Hariansyah, menjelaskan bahwa hyperreality berbeda dengan realitas virtual. Baginya, realitas virtual hanyalah teknologi yang menampilkan dunia komputer sebagai alternatif dari realitas fisik. Sementara itu, hyperreality menciptakan hyperworld, yaitu ruang di mana batas antara yang riil dan virtual mulai kabur, sekaligus terasa alami.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya berhasil meniru realitas, tetapi juga memberikan makna baru atasnya. Realitas palsu ini mudah dikonsumsi karena lebih menarik dan mudah diakses. Teknologi mampu memberi suasana realitas yang tidak bisa ditemukan dalam alam (nature). Tawaran teknologi ini menembus dan menguasai ruang privat kepribadian manusia, serta mulai mengendalikannya.
Perubahan dalam Relasi dan Paradigma Manusia
Ada beberapa kenyataan yang menunjukkan dampak teknologi pada manusia, antara lain:
- Konektivitas relasi intersubjektif antar-manusia tergerus.
- Mental model atau paradigma manusia cenderung bersifat teknologistik.
- Manusia tidak lagi melihat teknologi sebagai alat, tetapi menyesuaikan diri dengan cara kerja mesin (didikte oleh algoritma).
- Cara berperasaan manusia menjadi “terkuantifikasi”, dihitung dalam reaksi seperti like, super, share, dan sebagainya.
McLuhan menyebut fenomena ini sebagai global village. Istilah ini muncul dalam bukunya The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man dan Understanding Media: The Extensions of Man. Global village merujuk pada akibat dari munculnya penemuan listrik dan alat komunikasi elektronik. Bola bumi menyusut menjadi seukuran desa, memungkinkan setiap orang mengirim pesan dalam waktu singkat.
McLuhan terinspirasi dari lingkungan pedesaan, di mana penduduk saling mengenal dan berinteraksi secara intensif. Konsep desa global menjelaskan bahwa dengan adanya jaringan, tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dengan cepat dan mudah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Teknologi sebagai Wacana Ekspresi Diri
Media sosial, sebagai bentuk teknologi, menjadi wacana ekspresi diri, pencurahan isi hati, ajang pencarian hal-hal baru, hingga ladang mata pencaharian. Sebagai konsekuensi, perkembangan teknologi turut membentuk cara manusia menilai hingga membuat keputusan. Dalam pandangan yang sekarang tampak lumrah, sukses selalu identik dengan viral. Popularitas menjadi profesi baru yang terus diburu oleh banyak orang. Algoritma hanya menampilkan sosok-sosok yang memiliki viewers yang banyak.
Keberadaan mereka menjadi panutan atau setidaknya menjadi target capaian dari para pengemarnya.
Dignitas Homo Digitalis
Konsep martabat pada manusia sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno, yang dikenal dengan sebutan “dignitas”. Dalam konteks itu, dignitas diartikan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan yang diberikan kepada seseorang karena kontribusinya bagi masyarakat. Dignitas juga mengacu pada kapabilitas atau karakteristik fungsional; tindakan yang dilandasi oleh keutamaan-keutamaan.
The Center for Bioethics and Human Dignity menilai martabat manusia sebagai pengakuan terhadap manusia karena memiliki nilai intrinsik khusus atas kemanusiaannya dan layak untuk dihargai karena manusia adalah manusia. Rinie Steinmann, seorang pakar hukum asal Amerika, memberi tiga unsur dasar martabat manusia:
- Pertama, ontological claim, yang mengacu pada kualitas unik manusia yang tak ternilai harganya, tak tergantikan, dan terdapat dalam diri setiap orang.
- Kedua, dignity of recognition, yang merupakan pengakuan dan penghargaan terhadap sesama manusia.
- Ketiga, relational claim dengan berlandaskan pada ide Kantian, yang mempertegas bahwa negara harus hadir dan menjamin hak setiap individu, di mana manusia (dan nilai-nilai kemanusiaannya) harus selalu menjadi tujuan akhir dari setiap kebijakan.
Otonomi Manusia dalam Era Teknologi
Salah satu unsur penentu dignitas manusia adalah otonominya. Saat ini kita melihat adanya automasi, seperti pada kecerdasan buatan (teknologi), yang mampu mengerjakan tugas-tugas tertentu tanpa pengawasan manusia. Di sisi lain, pandangan transhumanisme melihat teknologi sebagai variabel pelengkap yang dapat ditanamkan ke dalam tubuh manusia (teknologi nano) demi meningkatkan kapasitasnya.
Namun, alat-alat ini hanya melakukan tugasnya sesuai dengan program dan algoritma berdasarkan data yang ada. Meski kemudian pertumbuhan kecerdasan buatan dapat menembus atau mengakses dimensi esensial pada manusia, seperti ruang privasi dan kebebasannya, hal tersebut tidak bisa merebut otonomi dari manusia. Teknologi sejauh diperlakukan sebagai alat, mungkin tidak membuat kita didikte olehnya.
Namun, ketika teknologi beralih dari mesin pembantu menjadi mesin intervensi manusia. Pada saat yang sama, teknologi bukan lagi alat eksternal bagi manusia, melainkan menjadi unsur primer dan bagian yang tak terpisahkan dari kemanusiaan. Dengan demikian, manusia bukan lagi bermartabat dalam arti bebas dan otonomi, melainkan tidak lebih dari sebuah mesin yang dapat diaktif atau dinonaktifkan seperti mesin pada umumnya.



