Peresmian Sekretariat Noken Pelangi di Kampung Manda
Bupati Jayawijaya, Athenius Murib, melakukan pengguntingan pita untuk meresmikan Sekretariat Noken Pelangi di Kampung Manda. Noken Pelangi ini merupakan salah satu ciri khas dari Suku Walak, yang berasal dari rajutan atau anyaman benang dengan berbagai warna yang menggambarkan pelangi.
Noken Pelangi ini menjadi identitas khas bagi warga Suku Walak, yang terdiri dari tiga sub-suku yaitu Suku Walak Mbarlima, Suku Walak Iiluga Wologa, dan Suku Walak Ergarayam. Produk Noken Pelangi ini tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari, seperti membawa barang atau hasil pertanian.
Latar Belakang Peresmian
Peresmian Sekretariat Noken Pelangi di Kampung Manda berlangsung di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang. Namun, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme ratusan warga yang hadir dalam acara tersebut. Kampung Manda terletak di Distrik Bugi, sekitar 35 kilometer dari ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Wamena.
Acara peresmian ini dihadiri oleh Bupati Jayawijaya, Athenius Murib, bersama para Kepala OPD, jajaran Forkopimda, Wakil Ketua I DPRD, serta anggota DPRK Jayawijaya. Selain itu, hadir juga masyarakat Suku Walak dari lima distrik, yaitu Bugi, Mbipiri, Manda, Wolo, dan Yalengga.
Ciri Khas Noken Pelangi
Noken Pelangi dibuat dengan bahan benang berwarna-warni, sehingga menonjolkan keunikan dibandingkan noken tradisional yang biasanya menggunakan serat kayu. Proses pembuatan Noken Pelangi memakan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung kompleksitas desain.
Warna-warna pelangi pada Noken Pelangi melambangkan persatuan, harapan, dan jati diri orang Walak. Produk ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat. Bupati Jayawijaya, Athenius Murib, menyampaikan bahwa Noken Pelangi diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di lima distrik dan sekitarnya.
Dukungan Pemerintah
Selain peresmian Sekretariat Noken Pelangi, pemerintah juga menyalurkan bantuan beras dan minyak goreng kepada masyarakat dari lima distrik. Bantuan ini adalah bagian dari program ketahanan pangan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut Bupati, penyaluran beras ini merupakan jatah Desember yang terlambat karena keterbatasan transportasi udara. Kini, bantuan tersebut telah lengkap dan siap dibagikan kepada masyarakat.
Pentingnya Pelestarian Tradisi Anyaman Noken
Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Jayawijaya, Yulius Huby, menekankan pentingnya pelestarian tradisi anyaman noken di wilayah ini. Menurutnya, pelestarian noken sangat penting, terutama bagi mama-mama dan gadis-gadis yang memiliki kemampuan menganyam.
Ia menegaskan bahwa mereka perlu mengetahui teknik anyaman tradisional maupun modernisasi yang bisa dikembangkan. Noken Pelangi, yang telah dikembangkan oleh mama-mama di Walak, menjadi contoh sukses dalam pengembangan UMKM lokal.
Yulius Huby menjelaskan bahwa noken memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat lokal. “Noken itu untuk mengisi semua, segala kepentingan ada di dalam dulu kemudian kita kembangkan,” ujarnya.
Sejarah Suku Walak
Suku Walak tinggal di kawasan Lembah Kobagma, Ilugwa, Eragayam, Wolo, dan Yalengga serta di pinggir Sungai Mamberamo. Suku ini terbagi menjadi tiga sub-suku yaitu Suku Walak Mbarlima, Suku Walak Iiluga Wologa, dan Suku Walak Ergarayam.
Selain itu, Suku Walak memiliki enam wilayah adat yang dibagi antara dua kabupaten, yaitu Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah. Kabupaten Jayawijaya memiliki dua wilayah adat yaitu Wodlo dan Mbalima, sedangkan Kabupaten Mamberamo Tengah memiliki empat wilayah adat yaitu Eragayam, Winam, Ilugwa, dan Telegai.



