Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 16 Februari 2026
Trending
  • Sambut Imlek, InJourney Hadirkan Budaya Tionghoa yang Kaya
  • Orang yang Lebih Suka Kerja di Kafe Daripada Rumah Ternyata Cari 9 Hal Ini, Menurut Psikologi
  • Cara cerdas memanfaatkan teknologi untuk bantu anak lancar mengaji
  • 4 Alasan Penggemar Motor Wajib Tonton MotoGP
  • Laporan Polresta: 55 Kecelakaan di Pontianak Awal 2026, Mayoritas Sepeda Motor
  • Nilai Kepahlawanan Abu Beureueh
  • Mantan Pelatih Real Madrid Bicara Soal Peran Ayah, Zidane: Harta Bukan Alasan Manjakan Anak
  • 5 Idol KPop yang Beri Hadiah Valentine untuk Penggemar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Nilai Kepahlawanan Abu Beureueh
Politik

Nilai Kepahlawanan Abu Beureueh

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehidupan dan Perjuangan Abu Beureueh, Pahlawan Nasional yang Tak Terlupakan

Abu Beureueh, atau dikenal dengan nama lengkap Teungku Muhammad Daud Beureueh, adalah sosok yang layak dianggap sebagai pahlawan nasional. Meskipun namanya tidak selalu terdengar sepopuler tokoh-tokoh dari Jawa atau Sumatera Barat, perannya dalam sejarah Indonesia sangat penting. Bagi masyarakat Aceh, ia adalah simbol keteguhan, keulamaan, dan pengabdian tanpa pamrih.

Lahir dalam Tradisi Keulamaan dan Perlawanan

Abu Beureueh lahir pada 17 September 1899 di sebuah wilayah yang kaya akan tradisi keulamaan dan semangat perlawanan. Ia dididik di Dayah Manyang, salah satu pesantren tertua di Aceh, tempat ia tumbuh dalam keprihatinan terhadap penjajahan Belanda. Semangat ini menjadi dasar bagi perjuangannya kelak. Ia menjadi arsitek utama konsep “Daerah Modal” bagi Republik Indonesia yang masih bayi, sebuah inisiatif untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan.

Peran Penting dalam Perang Kemerdekaan

Pada masa Agresi Militer Belanda I dan II, ketika Republik Indonesia terdesak dan ibukota berpindah-pindah, Aceh di bawah kepemimpinan Abu Beureueh menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus. Sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo (1947-1949), ia memimpin laskar rakyat yang kemudian dikonsolidasikan menjadi Divisi Rencong. Kontribusi material rakyat Aceh, yang digalang oleh Abu Beureueh dan para ulama, menjadi napas bagi kelangsungan Republik.

Salah satu bukti nyata yang paling monumental adalah sumbangan emas rakyat Aceh untuk membeli pesawat pertama Indonesia: Seulawah RI-001. Pesawat ini, yang dibeli dengan 20 kilogram emas, menjadi tulang punggung penerbangan awal Indonesia, mengangkut obat-obatan, senjata, dan para pemimpin Republik seperti Soekarno-Hatta dalam diplomasi internasional. Data sejarah mencatat, Seulawah menjadi cikal bakal maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesian Airways. Tanpa keteguhan dan pengorganisasian rakyat Aceh yang dipelopori Abu Beureueh, salah satu babak paling kritis dalam mempertahankan kemerdekaan itu mungkin akan berakhir berbeda.

Perjuangan Pasca-Kemerdekaan

Pasca pengakuan kedaulatan, harapan rakyat Aceh untuk otonomi dan penerapan syariat Islam, yang dijanjikan oleh pemimpin pusat, pupus. Aceh dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Kekecewaan inilah yang mendorong Abu Beureueh, pada 21 September 1953, memimpin pemberontakan Darul Islam (DI/TII). Namun, penting untuk dicatat bahwa pemberontakan Abu Beureueh bukanlah penolakan terhadap Indonesia. Dalam berbagai pidatonya, ia masih mengakui Soekarno sebagai presiden. Yang ditolaknya adalah kebijakan Jakarta yang sentralistik dan dianggap mengingkari janji.

Komitmen pada Nilai Kemanusiaan

Yang membedakan perjuangan Abu Beureueh adalah komitmennya pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia selalu menekankan kepada pengikutnya untuk menghindari aksi yang menyengsarakan rakyat sipil. Ini adalah etika perang yang langka, menunjukkan bahwa perjuangannya bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk prinsip.

Rekonsiliasi dan Kesederhanaan Hidup

Puncak dari kedewasaan politiknya terlihat pada tahun 1962. Setelah melalui jalan panjang, Abu Beureueh memilih meja perundingan. Melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh (MKRA), ia “turun gunung” dan mengakhiri pemberontakan secara damai. Keputusan ini bukan tanda kekalahan, tetapi sebuah kemenangan akal sehat dan kecintaan pada persatuan bangsa serta kemanusiaan. Ia membuktikan dirinya bukanlah pemberontak yang keras kepala, melainkan negarawan sejati yang berani mengalah untuk kepentingan yang lebih besar.

Setelah rekonsiliasi, Abu Beureueh tidak mengejar kekuasaan atau kemewahan. Ia memilih kembali ke jalur awalnya: pendidikan dan dakwah. Ia menghidupkan kembali dayah-dayah sebagai pusat pencerahan, menanamkan nilai-nilai Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan kepada generasi muda. Hidupnya adalah cerminan kesederhanaan dan asketisme yang tinggi.

Penghargaan sebagai Pahlawan Nasional

Menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Abu Beureueh bukanlah upaya menutup mata terhadap dinamika sejarah yang kompleks. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk melihat sejarah secara utuh dan adil. Pertama, pengakuan atas kontribusi besar. Perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa paling kritis adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Kedua, merupakan teladan negarawan sejati. Keputusannya untuk mengakhiri konflik secara damai adalah pelajaran berharga tentang kedewasaan politik, keberanian moral, dan cinta tanah air. Ketiga, rekonsiliasi sejarah bangsa. Pemberian gelar ini akan menjadi langkah monumental dalam proses rekonsiliasi antara Aceh dan pemerintah pusat. Keempat, inspirasi nasional tentang integritas. Di tengah krisis keteladanan nasional, kehidupan asketis dan integritas tinggi Abu Beureueh layak dijadikan inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia.

Penutup

Abu Beureueh meninggal bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai pejuang yang kesepian, yang lebih memilih martabat rakyatnya di atas segalanya. Mengangkatnya sebagai pahlawan nasional adalah bentuk pemulihan memori kolektif bangsa. Ia adalah pahlawan yang perjuangannya melampaui batas geografis Aceh. Ia adalah teladan bagi seluruh anak bangsa tentang makna pengabdian, integritas, dan cinta negara yang tulus. Saatnya negara membuka mata lebar-lebar, mengakui jasa besarnya, dan menjadikan Abu Beureueh sebagai nama yang harum dalam barisan pahlawan nasional Indonesia.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Warga Eks Transmigrasi Bakambit Kotabaru dan PT SSC Belum Sepakat Harga, Mediasi Digelar

15 Februari 2026

KONI Pusat Resmi Lantik PP ALTI, Era Bima Arya Bawa Trail Indonesia ke Dunia

15 Februari 2026

Khofifah Disidang Tipikor, Minta Maaf ke Rakyat Jatim

15 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sambut Imlek, InJourney Hadirkan Budaya Tionghoa yang Kaya

16 Februari 2026

Orang yang Lebih Suka Kerja di Kafe Daripada Rumah Ternyata Cari 9 Hal Ini, Menurut Psikologi

16 Februari 2026

Cara cerdas memanfaatkan teknologi untuk bantu anak lancar mengaji

16 Februari 2026

4 Alasan Penggemar Motor Wajib Tonton MotoGP

16 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?