Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Setelah sepuluh hari tanpa Pemimpin Tertinggi pascagugurnya Ayatollah Ali Khamenei, Iran akhirnya memiliki sosok baru yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan. Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran pada Senin (9/3/2026). Penunjukan ini dilakukan melalui sidang luar biasa oleh Majelis Ahli, lembaga keagamaan-politik terpenting dalam sistem Republik Islam Iran.
Latar Belakang dan Proses Penunjukan
Majelis Ahli terdiri dari 88 orang ulama Syiah senior yang dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat Iran. Lembaga ini memiliki fungsi krusial: memilih, mengawasi, dan secara teoritis bisa memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran. Dalam sidang luar biasa tersebut, Majelis Ahli menyatakan bahwa mereka dengan suara bulat menunjuk Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran.
Penunjukan ini dilakukan di tengah situasi perang dan ancaman keamanan guna menjaga stabilitas politik serta konstitusi Iran. Meskipun negara sedang menghadapi kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi rakyat, termasuk pengeboman kantor Sekretariat Majelis Ahli yang menewaskan sejumlah staf serta tim keamanan, Majelis Ahli tetap menjalankan tugas konstitusionalnya.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir di kota Mashhad, Iran, pada 8 September 1969. Ia adalah putra kedua Ayatollah Ali Khamenei dan memiliki latar belakang militer di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang ulama bergelar hojatoleslam. Meski posisi ini sempat menimbulkan perdebatan karena biasanya posisi Pemimpin Tertinggi Iran dipegang oleh ulama dengan gelar ayatollah yang lebih tinggi, Mojtaba jarang tampil di depan publik dan hampir tidak pernah memberikan pidato politik atau khutbah terbuka.
Mojtaba Khamenei menjadi sorotan ketika kerusuhan terjadi dalam unjuk rasa yang terjadi dalam sengketa pemilihan umum Presiden Iran 2019. Ia diyakini bertanggung jawab atas kerusuhan itu. Selain itu, ia disebut-sebut pernah mengambil alih kendali Basij yang digunakan untuk menekan protes atas pemilihan presiden 2009.
Perjalanan Karier Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei mengenyam pendidikan di Sardasht dan Mahabad, lalu lulus SMA dari Teheran. Setelah itu, ia mempelajari teologi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan Mahmoud Hashemi Shahroudi. Pada 1987, ia bergabung dengan IRGC dan bertugas dalam Perang Iran-Irak. Pada tahun 1999, ia melanjutkan studinya di Qom untuk menjadi seorang ulama, dan kemudian bergabung dengan Seminari Qom sebagai guru teologi.
Pernyataan Resmi Majelis Ahli
Setelah menunjuk Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Majelis Ahli langsung membuat pernyataan resminya. Berikut kutipan pernyataan resmi Majelis Ahli Iran:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Salam dan berkah Allah tercurah kepada rakyat Iran yang mulia dan merdeka.
Majelis Ahli Kepemimpinan, sembari menyampaikan belasungkawa atas syahidnya pemimpin besar Yang Mulia Ayatullah Imam Khamenei (semoga Allah menyucikan jiwanya yang murni) dan para syuhada lainnya, khususnya para komandan kehormatan, angkatan bersenjata yang setia, serta para siswa Sekolah Shajareh Tayyebeh di Kabupaten Minab, dengan ini menginformasikan bahwa Majelis tidak ragu sesaat pun dalam proses pemilihan dan pengenalan kepemimpinan sistem Islam.
Meskipun negara tengah menghadapi kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi rakyat, termasuk pengeboman kantor Sekretariat Majelis Ahli Kepemimpinan yang menewaskan sejumlah staf serta tim keamanan, Majelis Ahli tetap menjalankan tugas konstitusionalnya. Sesuai dengan peraturan internal, langkah-langkah dan pengaturan yang diperlukan telah dilakukan untuk mengadakan sidang luar biasa guna memperkenalkan pemimpin baru. Perencanaan dan koordinasi dilakukan secara cermat untuk mengumpulkan para perwakilan Majelis dari seluruh pelosok negeri.
Dengan demikian, meskipun Pasal 111 Konstitusi mengatur pembentukan dewan sementara, negara tidak akan mengalami kekosongan kepemimpinan. Majelis Ahli Kepemimpinan menegaskan penghormatan terhadap posisi tinggi Kepemimpinan Ulama (Wilayat al-Faqih) di era kegaiban Imam Mahdi (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), serta pentingnya kepemimpinan dalam sistem Republik Islam. Majelis juga mengenang 47 tahun pemerintahan bijaksana yang berlandaskan martabat, kemerdekaan, dan otoritas para Imam Revolusi.
Setelah melalui tinjauan mendalam dan memanfaatkan kapasitas Pasal 108 Konstitusi, dalam sidang luar biasa hari ini, Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei (semoga Allah menjaganya) resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran berdasarkan suara bulat para perwakilan Majelis Ahli. Sebagai penutup, Majelis menyampaikan apresiasi kepada dewan sementara sesuai Pasal 111 Konstitusi, serta mengundang seluruh rakyat Iran, khususnya para elit dan intelektual seminari maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan (ba’at) kepada kepemimpinan baru. Majelis juga menyerukan persatuan di sekitar poros Kepemimpinan, sembari memohon rahmat dan karunia Allah Yang Maha Kuasa bagi bangsa dan rakyat Iran.
Salam, rahmat, dan berkah Allah atas Anda sekalian.
Majelis Ahli Kepemimpinan
17/12/1404 (Kalender Iran)
Mengenal Majelis Ahli Iran
Majelis Ahli Iran atau Assembly of Experts (Persia: Majles-e Khobregan-e Rahbari) adalah lembaga keagamaan-politik paling penting dalam sistem Republik Islam Iran. Lembaga ini memiliki satu fungsi yang sangat krusial: memilih, mengawasi, dan secara teoritis bisa memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader).
Latar Belakang dan Sejarah Pembentukan
Majelis Ahli lahir setelah Iranian Revolution tahun 1979, ketika rezim monarki Shah digantikan oleh negara teokrasi yang dipimpin ulama Syiah. Tokoh utama revolusi, Ruhollah Khomeini, memperkenalkan konsep Wilayat al-Faqih (kepemimpinan ulama). Dalam konsep ini, seorang ulama tertinggi memimpin negara sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar). Untuk menentukan siapa ulama yang berhak memegang posisi tersebut, konstitusi Iran membentuk Majelis Ahli.
Komposisi dan Keanggotaan
Majelis Ahli terdiri dari ulama Syiah senior yang ahli dalam hukum Islam (fiqh). Fakta utama:
– Jumlah anggota: 88 orang
– Masa jabatan: 8 tahun
– Dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat Iran
– Kandidat harus ulama dengan kemampuan ijtihad (kemampuan menafsirkan hukum Islam)
Tugas Utama Majelis Ahli
Konstitusi Iran memberi dua kewenangan utama kepada Majelis Ahli.
– Memilih Supreme Leader
– Jika posisi Rahbar kosong (misalnya wafat), majelis ini akan:
– Mengidentifikasi kandidat ulama yang memenuhi syarat
– Membahas kandidat secara tertutup
– Memilih satu orang melalui voting mayoritas



