Kedatangan Burung Migran ke Trenggalek
Kabupaten Trenggalek kembali menjadi tempat singgah bagi burung migran yang datang dari belahan bumi utara. Salah satu spesies yang terlihat adalah Burung Gajahan Pengala (Numenius phaeopus), yang merupakan salah satu jenis burung langka dan menarik perhatian para peneliti serta penggemar alam.
Burung-burung ini ditemukan di kawasan hutan mangrove Pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo. Keberadaannya diketahui oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur saat melakukan pemantauan terhadap burung migran.
Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia Putra, menjelaskan bahwa daerah-daerah seperti Kabupaten Tulungagung dan Kediri juga menjadi lokasi persinggahan burung migran. Namun, jenis burung yang ditemukan di Trenggalek berbeda dengan yang ada di daerah lain.
“Di Tulungagung dan Kediri kami menemukan burung Trinil yang singgah di area persawahan. Sementara di Trenggalek justru kami menemukan jenis yang berbeda, yakni Gajahan Pengala yang berada di kawasan mangrove Pantai Cengkrong,” ujar David.
Di lokasi tersebut, ia menemukan tiga individu Burung Gajahan Pengala. Selain itu, juga ditemukan Burung Trinil Pantai, yang jenisnya serupa dengan yang dijumpai di Tulungagung dan Kediri. Menurut David, kedua jenis burung ini berasal dari wilayah Rusia dan sekitarnya.
Perjalanan Migrasi Burung
Burung-burung tersebut bermigrasi ke daerah tropis antara bulan Oktober hingga Maret untuk mencari makan. Saat musim dingin di daerah asalnya, sumber makanan sangat terbatas sehingga mereka harus berpindah ke wilayah yang lebih hangat.
Tujuan mereka ke Indonesia, termasuk Trenggalek, adalah untuk mencari makan. Setelah mengumpulkan energi, burung-burung ini akan kembali ke habitat asalnya untuk berkembang biak.
David menjelaskan bahwa selama singgah, burung-burung migran akan makan sebanyak mungkin hingga berat tubuhnya bisa meningkat dua kali lipat. Dalam beberapa kasus, ada burung remaja yang tertinggal dan tinggal satu hingga dua periode migrasi sebelum akhirnya kembali.
Perlindungan Ekosistem Lokal
Ia memastikan bahwa kehadiran burung migran tidak mengganggu ekosistem lokal. Hal ini karena jenis pakan Gajahan Pengala berbeda dengan burung-burung mangrove setempat.
“Gajahan Pengala memakan krustasea kecil dan cacing-cacing kecil, sementara burung lokal di Cengkrong tidak memakan jenis pakan tersebut,” terangnya.
David mengimbau masyarakat agar tidak menangkap burung migran tersebut. Menurutnya, burung migran tidak dapat dikembangbiakkan di daerah persinggahan karena proses berkembang biak hanya dilakukan di habitat asalnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik dengan membiarkan burung-burung tersebut hidup alami, serta cukup mendokumentasikan dan mencatat keberadaannya.
“Dengan membiarkan mereka menikmati alam dan sumber pakan di sini, kita turut berkontribusi menjaga kelestarian burung migran agar tidak punah di negara asalnya,” imbuh pria asal Tuban tersebut.
Respons Warga Sekitar
Dari hasil pengamatan BBKSDA, warga sekitar Pantai Cengkrong dinilai cukup ramah terhadap kehadiran burung migran. Tidak ditemukan aktivitas perburuan, bahkan warga setempat menyebut burung Trinil Pantai sebagai ‘ancul bumi kecil’ dan Gajahan Pengala sebagai ‘ancul bumi besar’.
“Warga justru senang dengan hadirnya burung-burung tersebut,” pungkas David.



