Infomalangraya.com.CO.ID, TEHERAN — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan televisi pada hari Minggu (8/3/2026) menyatakan bahwa Iran tidak akan menyetujui permintaan gencatan senjata dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Araghchi menegaskan bahwa situasi saat ini berbeda dibandingkan perang 12 hari yang terjadi pada Juni 2025 lalu.
Araghchi mengingat kembali peristiwa Juni tahun lalu ketika Israel menyerang Iran dan Presiden AS Donald Trump membagikan pesan “menyerah tanpa syarat” di media sosial. Namun, ia menekankan bahwa Iran melawan dan setelah perang berlangsung selama 12 hari, justru Israel yang meminta gencatan senjata tanpa syarat.
“Kami tidak pernah menyerah, dan kami terus melawan sejauh mungkin diperlukan. Kami mempertahankan wilayah, rakyat, dan martabat kami. Dan martabat kami tidak bisa dijual,” ujar Araghchi.
Presenter televisi kemudian bertanya tentang syarat apa yang diajukan Iran agar perang berakhir. Araghchi menjawab bahwa Iran belum sampai pada titik itu. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. Pada kali sebelumnya, Iran menerima gencatan senjata karena hanya melakukan aksi membela diri. Namun, hasilnya tidak membawa perdamaian.
“Sekarang mereka kembali menyerang kami. Lalu mereka meminta gencatan senjata lagi? Ini tidak akan berhasil seperti sebelumnya. Jadi harus ada penyetopan perang secara permanen. Jika tidak, kami akan terus melawan,” tegas Araghchi.
Presenter kembali bertanya apakah Iran akan setuju pada gencatan senjata untuk kembali ke meja negosiasi. Araghchi menjawab bahwa pertama-tama mereka harus menjelaskan mengapa agresi dilakukan. Ia menekankan bahwa perang bukanlah pilihan Iran, tetapi agresi yang diberikan oleh AS dan Israel. “Ini bukan perang kami, tapi perang yang diterapkan kepada kami. Karena itu, tindakan pembelaan diri kami sah dan kami punya hak untuk melakukannya,” katanya.
Rudal Baru
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada hari Minggu (8/3/2026) mulai menggunakan rudal generasi baru dalam gelombang serangan ke-28 Operasi Janji Setia 4. Rudal-rudal tersebut digunakan untuk menargetkan kota-kota di Israel dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip Al Mayadeen, IRGC mengatakan telah mengerahkan rudal Kheibar generasi terbaru yang dilengkapi hulu ledak sangat berat. Serangan dilaporkan menargetkan Bir al-Sabe’ dan Tel Aviv, serta infrastruktur di Pangkalan Udara Al-Azraq, Yordania.
Menurut pernyataan IRGC, skala dan kedalaman serangan militer Iran akan berkembang lebih besar dalam beberapa jam dan hari ke depan sebagai respons terhadap agresi AS dan Israel. Sementara itu, pejabat Iran mensinyalkan kesiapan mereka untuk melanjutkan perang. Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, mendeklarasikan bahwa Iran akan terus menekan “hingga musuh-musuh menyerah dan menyesal”.
Aliabadi menyebutkan bahwa persenjataan Iran saat ini lebih canggih dan memiliki fleksibilitas serta presisi tinggi dalam penggunaan rudal dan drone. Ia menambahkan, “musuh-musuh bilang mereka tahu jumlah rudal yang kami punya, dan kami bilang kepada mereka untuk terus menghitung mereka di medan perang.”
Rudal Khorramshahr-4 diluncurkan oleh IRGC.
Asesmen Intelijen
Sebuah dokumen rahasia berisi laporan asesmen intelijen menyimpulkan bahwa serangan militer skala besar tidak akan bisa menggulingkan Republik Islam Iran. Laporan yang diperoleh Washington Post dan dikutip Al Mayadeen pada Sabtu (7/3/2026) menyebutkan bahwa struktur ulama dan militer di Iran sangat kokoh dan mampu mempertahankan sistem pemerintahan bahkan dalam kondisi tekanan hebat dari pihak luar.
Temuan ini terungkap di tengah pemerintahan Donald Trump yang mensinyalkan kemungkinan perang panjang dengan Iran. Beberapa pejabat menyatakan bahwa perang “baru saja dimulai”. Menurut tiga orang yang mengetahui dokumen rahasia itu, kalangan intelijen AS meragukan tujuan Trump “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan pemimpin pilihannya.
Asesmen lengkap disusun oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC) AS sepekan sebelum AS dan Israel melancarkan serangan. NIC menguji sejumlah skenario termasuk serangan terbatas pada pemimpin senior dan juga serangan yang lebih luas menyasar institusi pemerintahan dan kepemimpinan politik Iran.
Dari dua skenario tersebut, para analis intelijen menyimpulkan bahwa ulama Iran dan kepemimpinan militer akan pasti merespons pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dengan mengaktivasi mekanisme konstitusional untuk memastikan keberlanjutan kekuasaan. Laporan itu juga menilai bahwa oposisi yang terfragmentasi di Iran kemungkinan tidak bisa mengambil alih kontrol kekuasaan dalam kondisi sekarang.



