Peran Pemimpin Arab dan Turki dalam Membahas Kekacauan di Timur Tengah
Pemimpin dari beberapa negara Arab dan Turki telah melakukan pertemuan penting di Riyadh, Arab Saudi. Pertemuan ini berlangsung selama akhir pekan lalu dan membahas isu-isu kritis yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Salah satu topik utamanya adalah perang antara Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Republik Islam Iran.
Perang akan Berlangsung Lebih Lama dari yang Diperkirakan
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyampaikan bahwa para pemimpin Arab meyakini perang yang sedang berlangsung akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Mereka memperkirakan bahwa konflik ini akan berlangsung selama dua hingga tiga minggu lagi. Namun, sulit untuk memprediksi apakah AS-Zionis atau Iran akan bersedia masuk ke meja perundingan untuk mencapai gencatan senjata.
- Para pemimpin Arab mengkhawatirkan bahwa usaha untuk mencapai perdamaian akan menjadi sia-sia karena adanya penolakan dari pihak Israel dan AS. Mereka juga merasa bahwa negosiasi selama perang ini sangat tidak mungkin terjadi.
Pengaruh Netanyahu terhadap Trump
Fidan juga menjelaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus memengaruhi Presiden AS Donald Trump agar tidak menghentikan serangan terhadap wilayah Iran. Hal ini membuat segala upaya untuk membawa pihak Israel dan AS serta Iran ke meja perundingan untuk mencapai gencatan senjata menjadi tidak efektif.
- Israel terus berusaha mencegah terjadinya gencatan senjata, sehingga situasi ini akan memperpanjang konflik. Netanyahu ingin agar perang berlangsung hingga Iran mengalami kerusakan yang lebih besar.
Kesenjangan antara Israel dan AS
Selain itu, Fidan menunjukkan bahwa ada ketegangan antara posisi Israel dan AS. Netanyahu memengaruhi Trump agar tidak melakukan gencatan senjata, sehingga memperkuat kesenjangan antara kedua negara tersebut.
- Israel ingin mempertahankan perang hingga Iran mengalami kehancuran total. Mereka menginginkan perpanjangan periode perang sampai kerusakan yang lebih besar terjadi pada Iran.
Arab Menjaga Netralitas
Fidan juga menyampaikan bahwa para pemimpin negara Arab sejak awal menyatakan tidak terlibat dalam membantu Zionis maupun AS dalam memerangi Iran. Mereka juga memastikan bahwa wilayah udara mereka tidak digunakan sebagai basis untuk menyerang Iran.
- Negara-negara Arab mengecam tindakan Iran yang menargetkan wilayah-wilayah negara Teluk Arab. Mereka menganggap bahwa serangan Iran tidak hanya menargetkan pangkalan militer AS tetapi juga aset ekonomi dan infrastruktur sipil di negara-negara Arab.
Ultimatum Arab terhadap Iran
Para pemimpin Arab memberikan ultimatum kepada Iran jika situasi tetap berlanjut. Meskipun mereka khawatir dengan risiko yang tinggi, mereka menegaskan bahwa tindakan balasan Iran tidak dapat dibenarkan.
- Turki sejak awal menegaskan bahwa agresi Zionis-AS terhadap Iran tidak dapat diterima dan ilegal. Namun, mereka juga menilai bahwa serangan Iran terhadap negara-negara tetangga di Teluk juga tidak dapat dibenarkan.
Perubahan Geopolitik di Timur Tengah
Meskipun gencatan senjata saat ini sulit, para pemimpin Arab mulai melihat Iran sebagai kiblat baru untuk kerja sama pertahanan dan keamanan. Mereka percaya bahwa setelah perang berakhir, Iran akan menjadi mitra penting dalam perlindungan keamanan bersama negara-negara Teluk.
- Setelah perang, negara-negara Teluk mungkin akan secara jelas menyatakan harapan mereka terhadap Iran. Jika kondisi tertentu terpenuhi, fokus pertahanan dan ekonomi kawasan juga akan melibatkan Iran. Namun, Iran mungkin akan menuntut penghapusan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut.



