Pengalaman Seru di Purwakarta
Akhir pekan lalu, saya dan beberapa teman Kompasianer menghabiskan waktu dengan melakukan perjalanan ke Kabupaten Purwakarta. Kami diundang oleh komunitas Wartakota dan Pemda Purwakarta untuk menjelajahi keindahan kota ini. Perjalanan dimulai dengan naik kereta lokal Walahar yang membawa kami ke stasiun Purwakarta.
Stasiun Purwakarta meskipun tidak terlalu besar, memiliki daya tarik tersendiri. Di depannya terdapat beberapa patung ikonik, termasuk patung Diponegoro yang dikelilingi lima patung harimau. Setelah tiba, kami sempat mampir ke seberang stasiun di mana ada penjual bacang yang menarik. Bacang Jando dengan harga 10 ribu Rupiah dibelah dan diberi isian berupa bahan-bahan tertentu. Menurut teman-teman yang mencicipinya, rasanya cukup enak.
Setelah itu, Kang Soni, admin Wartakota, datang dengan motor untuk menyambut kami. Selanjutnya, sebuah mobil Hiace putih menjemput kami menuju alun-alun. Di sana, kami bertemu dengan Kabid Dodi Samsul Arif dan berfoto bersama di pendopo serta depan pintu gerbang patung Semar. Pak Dodi berharap kolaborasi antara Kompasianer dapat memperkenalkan dan meningkatkan pariwisata Purwakarta.
Petualangan River Tubing yang Mengasyikkan
Destinasi pertama kami adalah Ngaprak Adventure, tempat di mana peralatan dan perlengkapan untuk aktivitas river tubing tersedia. Setelah menggunakan pelampung dan helm, kami naik pikap menuju sungai yang akan menjadi arena petualangan kali ini. Semua peserta tampak antusias dan penuh semangat.
Beberapa ratus meter ke bawah melewati pemukiman penduduk desa, kami tiba di sebuah jembatan kecil. Di situ ada tumpukan ban yang akan digunakan untuk river tubing. Awalnya saya salah mengira bahwa river tubing menggunakan perahu karet, ternyata ban besar dengan anyaman tali di tengah untuk kita duduk.
Masing-masing mendapatkan satu ban dan diangkat sendiri melewati pematang sawah hingga tiba di sungai. Di sana sudah bersiaga personel Ngaprak River Adventure. Tak lupa kami berdoa sebelum melanjutkan kegiatan. Sungai ini penuh dengan batu-batu besar, dengan aliran air yang cukup deras. Namun, kami tidak perlu khawatir tenggelam karena sungai itu tidak dalam. Lokasi yang terdalam hanya 130 cm, jadi cukup aman untuk kami meskipun terguling dari ban.
Satu persatu peserta naik dan duduk di bangku, mengikuti arus melewati bebatuan. Kadang ada yang nyangkut di antara batu, harus dibantu peserta lain atau petugas ngaprak adventure. Saya juga berulang kali nyangkut di bebatuan. Terpaksa mengerahkan tenaga, menggapai dengan tangan dan mengayun kaki agar kembali pada aliran air yang terus mengarah ke bawah. Ada jeram-jeram kecil yang memacu adrenalin, membuat kami basah kuyup.
Paling lucu adalah Giovani yang sering nyungsep, ban yang ditumpanginya terbalik. Dia sampai kelelep, untung di dekatnya ada Kevin, admin Indonesiadiscover.com yang ikut serta dalam petualangan ini. Kevin menahan dan membantu Giovani agar bisa bangkit naik ban lagi.
Setelah menikmati serunya river tubing sejauh 500 meter, kami pun berhenti dekat jembatan bambu. Satu persatu naik ke atas untuk kembali ke tempat parkir mobil pikap. Senangnya melihat sawah yang hampir panen dengan padi yang menguning.
Kunjungan ke Desa Wisata Parakanceuri
Destinasi wisata yang kedua adalah desa wisata Parakanceuri yang ada di kaki gunung Burangrang. Desa ini ada di ketinggian 900 MDPL, jadi lumayan dingin udaranya. Sebagian peserta yang sudah berganti baju naik hiace sedangkan yang masih basah kuyup karena river tubing naik pikap.
Di tengah perjalanan hujan deras turun, bahkan belum berhenti saat kami keluar mobil. Dengan sebuah motor kami diantar bergantian ke atas, desa wisata Parakanceuri. Terpaksa hujan-hujanan lagi daripada ketinggalan.
Di atas, dalam sebuah homestay mungil dari anyaman bambu, sudah digelar daun pisang. Nasi liwet pun dituang berikut lauk pauk berupa tahu tempe goreng, ikan asin, lalapan dan sambal. Nasi liwet hangat di tengah hujan deras adalah sesuatu yang membangkitkan nafsu makan. Kami makan dengan lahapnya.
Alhamdulillah hujan mulai mereda, kami pindah tempat ke saung, 50 meter dari tempat makan. Di sana telah menunggu Pak Agus, yang membina desa wisata ini. Desa Wisata Parakanceuri ini adalah tempat edukasi untuk mengenal dan menjaga lingkungan alam. Antara lain, jelajah alam, edukasi pertanian, Ngagobyag, sosial budaya dan juga produksi UMKM.
Karena itu desa wisata ini sangat cocok untuk keluarga supaya anak-anak belajar tentang pertanian dan lingkungan alam. Udara segar dan indahnya lingkungan membuat kita merasa bersemangat menjalani kehidupan.
Kunjungan ke Rumah Kopi Poesaka
Tujuan terakhir adalah rumah kopi Poesaka yang berada beberapa ratus meter ke bawah. Hujan turun lagi, tapi kami masih bersemangat mampir ke rumah kopi Poesaka. Apalagi bagi pecinta kopi, ini tidak boleh dilewatkan.
Di rumah kopi Poesaka, ada hasil panen kopi yang masih fresh lho. Kebun kopi yang berada di kaki gunung Burangrang tersebut ada dua jenis, Arabika dan Robusta. Rumah Kopi ini tidak hanya menyimpan biji kopi yang telah dipetik, tapi juga mesin giling dan kemasan.
Kami mencicipi kopi espresso yang nikmat dan hangat. Aku minum dua kali, supaya lebih terasa. Nah, siapa yang tidak mau minum kopi di tengah kebun? Apalagi dengan suasana yang syahdu dengan rinai hujan. Saya senang mencium harumnya kopi. Akhirnya saya memesan kopi robusta 100 gram untuk dinikmati di rumah.
Puas minum kopi, kami segera naik mobil kembali ke stasiun. Soalnya beberapa peserta, termasuk aku, rencana pulang lagi menggunakan kereta Walahar pukul 18.05. Jadi kami tidak boleh terlambat. Betul saja, tiba sekitar pukul setengah enam sudah sampai, kereta sudah tersedia.
Ah, petualangan yang mengasikkan. Semoga kami bisa datang lagi di lain waktu. Pengalaman yang tak terlupakan.



