Penyakit Brucellosis: Ancaman Kesehatan dan Ekonomi yang Perlu Diwaspadai
Brucellosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia melalui berbagai cara, termasuk konsumsi susu mentah atau produk olahan susu yang belum dipasteurisasi. Selain itu, kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan terinfeksi juga menjadi jalur penularan yang umum.
Pada ternak, brucellosis sering kali menyebabkan keguguran, penurunan produksi susu, dan gangguan reproduksi yang bisa berujung pada kemandulan. Penyakit ini tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi peternak.
Gejala Brucellosis pada Manusia
Gejala brucellosis pada manusia biasanya menyerupai flu berat, sehingga sulit dikenali secara dini. Penderita umumnya mengalami demam tinggi yang datang dan pergi (demam bergelombang), nyeri otot dan sendi yang parah, serta kelelahan yang berkepanjangan. Beberapa penderita juga mengalami keringat berlebih di malam hari, sakit kepala, dan penurunan berat badan secara bertahap. Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jalur Penularan yang Umum
Penularan brucellosis paling sering terjadi melalui konsumsi susu mentah atau produk olahan susu seperti keju dan mentega yang belum melalui proses pasteurisasi. Selain itu, risiko penularan juga tinggi pada pekerja peternakan, dokter hewan, atau orang yang sering berinteraksi dengan cairan tubuh atau jaringan hewan terinfeksi, terutama saat proses kelahiran ternak.
Selain melalui konsumsi makanan, paparan udara yang terkontaminasi bakteri juga bisa menjadi jalur penyebaran dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit ini, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor peternakan.
Cara Mencegah Brucellosis
Pencegahan brucellosis dapat dilakukan dengan memastikan semua produk susu dan daging dikonsumsi dalam kondisi matang atau sudah melalui proses pasteurisasi. Masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi susu mentah secara langsung karena berisiko membawa bakteri berbahaya.
Bagi peternak dan tenaga medis hewan, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat menangani ternak sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko penularan. Selain itu, vaksinasi pada ternak juga bisa menjadi langkah pencegahan yang efektif.
Dampak Ekonomi pada Sektor Peternakan
Brucellosis dikenal sebagai penyakit keluron menular atau penyakit Bang pada hewan ternak. Infeksi ini dapat menyebabkan keguguran pada hewan bunting, terutama saat usia kebuntingan memasuki lima hingga delapan bulan. Selain keguguran, penyakit ini juga menyebabkan penurunan produksi susu dan gangguan kesuburan hingga kemandulan pada ternak.
Kondisi tersebut membuat brucellosis menjadi ancaman serius bagi industri peternakan karena berdampak langsung terhadap produktivitas dan ekonomi peternak. Kerugian ekonomi bisa terjadi jika hewan terinfeksi tidak segera dipotong untuk mencegah penularan ke hewan lain maupun manusia.
Kesiapan Daerah Menghadapi Potensi Penyebaran
Kepala Balai Besar Veteriner (BBV) Wates, Nur Saptahidhayat, meminta pemerintah provinsi Jawa Tengah agar waspada terkait potensi munculnya penyakit hewan ternak brucellosis. Meskipun saat ini kasus brucellosis masih cukup rendah, ia meminta daerah untuk siap menghadapi kemungkinan munculnya penyakit ini.
Sapto menjelaskan bahwa meski belum ada laporan soal kasus brucellosis di Jawa Tengah, pihaknya tetap meminta pemerintah daerah untuk menyiapkan anggaran untuk biaya pemotongan hewan reaktor jika terjadi kasus. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah penularan lebih lanjut dan mengurangi kerugian ekonomi yang bisa terjadi.
Perbedaan dengan Penyakit Lain
Brucellosis berbeda dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang lebih mematikan. Namun, brucellosis bisa merugikan peternak karena menyerang reproduksi hewan. Jika tidak segera ditangani, hewan yang terinfeksi harus segera dipotong untuk mencegah penularan.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, populasi sapi di Jateng mencapai 1.393.159 ekor, domba 1.421.246 ekor, dan kambing 3.598.605 ekor. Hewan-hewan ini mudah terpapar penyakit brucellosis.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menegaskan bahwa solusi pengananan hewan ternak yang terpapar penyakit brucellosis harus dimusnahkan. Meskipun belum ada temuan kasus di Jateng, pihaknya tetap menyiapkan skema pengganti kerugian kepada peternak jika kasus ini ditemukan.



