Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA
Kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diperkirakan akan meningkat seiring dengan kembalinya produksi tambang Batu Hijau ke kondisi normal pada tahun 2026. Faktor-faktor seperti harga komoditas dan kebijakan ekspor konsentrat juga diproyeksikan menjadi pendorong utama kinerja perusahaan di tahun tersebut.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan menyatakan bahwa kinerja AMMN di kuartal I-2026 berpeluang membaik dibanding tahun 2025 karena tekanan pada penjualan mulai lebih longgar setelah adanya rekomendasi ekspor konsentrat hingga sekitar April 2026. Namun, ia menekankan bahwa perbaikan tidak akan terjadi secara mulus. Kuartal I masih sangat bergantung pada stabilitas operasional smelter yang sedang dalam fase perbaikan dan ramp-up, sehingga masih ada tantangan.
Menurut Ekky, beberapa tantangan utama yang harus diperhatikan antara lain:
Eksekusi perbaikan serta konsistensi operasi smelter*
Operasi smelter masih dalam proses perbaikan dan ramp-up, sehingga perlu diperhatikan apakah proses ini dapat berjalan secara konsisten dan efisien.
Kepastian realisasi ekspor konsentrat selama masa transisi hingga April 2026
Pemerintah akan melanjutkan kebijakan ekspor konsentrat hingga periode tersebut. Investor perlu memantau bagaimana kebijakan tersebut berlanjut setelah masa transisi berakhir.Aspek biaya dan cashflow di fase transisi
Biaya tetap yang terus berjalan dan sensitivitas pasar terhadap efisiensi biaya serta beban pendanaan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Ekky menyarankan investor untuk memantau update operasional smelter dan progres perbaikan hingga semester I-2026. Selain itu, kelancaran ekspor atau penjualan konsentrat juga menjadi fokus utama. Di luar faktor internal, harga tembaga dan emas juga menjadi driver utama karena AMMN sangat sensitif terhadap siklus komoditas. Faktor kurs dan risk appetite global juga bisa memperbesar volatilitas.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi AMMN. Setelah transisi ke Fase 8, tambang Batu Hijau mulai memasuki fase produksi yang lebih normal. Hal ini diharapkan mendorong pemulihan volume penjualan dan penurunan biaya per unit. Pemulihan operasi pada tahun 2026 diharapkan mendorong peningkatan margin dan laba yang lebih signifikan.
Selain itu, penguatan rantai nilai juga mendukung momentum ini melalui smelter dan fasilitas Precious Metals Refinery (PMR), yang mulai memberikan produk dengan nilai tambah lebih banyak. Perluasan konsentrator smelter PMR ditargetkan beroperasi pada awal tahun 2026 untuk memperkuat kapasitas dan menyederhanakan proses.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan dan laba bersih AMMN tahun 2026 masing-masing mencapai US$ 3,52 miliar dan US$ 1,52 miliar. Sementara untuk tahun 2025, pendapatan dan laba bersih diproyeksikan mencapai US$ 1,14 miliar dan US$ 130 juta. Adapun tahun 2024, AMMN mengantongi pendapatan US$ 2,66 miliar dan laba bersih US$ 642 juta.
Dari sisi saham, Andreas Yordan Tarigan, Analis Sucor Sekuritas, menyatakan potensi kenaikan harga tembaga akan mendorong peningkatan peringkat saham AMMN. Secara historis, harga saham AMMN cenderung tertinggal dari pergerakan harga tembaga, tetapi secara konsisten berhasil mengejar ketertinggalan dari waktu ke waktu. Saat ini, rasio harga tembaga terhadap emas berada di dekat titik terendah dalam 40 tahun, menandakan potensi kenaikan yang signifikan.
Ekky merekomendasikan strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap, bukan mengejar saat euphoria. Hal ini karena newsflow smelter dan komoditas bisa membuat pergerakan harga cepat atau volatile.
Tim riset Phintraco Sekuritas dan Andreas merekomendasikan Buy saham AMMN dengan target harga masing-masing Rp 8.700 per saham dan Rp 11.000 per saham. Sementara Ekky merekomendasikan Buy on Weakness saham AMMN dengan target harga Rp 9.850–Rp 10.000 per saham. Meski demikian, disiplin manajemen risiko tetap diperlukan karena setiap gangguan operasional atau isu kebijakan ekspor bisa langsung memicu volatilitas.



