Peran Filsafat dalam Masa Kini
Ali Larijani, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, meninggal dalam serangan Israel pada 17 Maret 2026. Dalam peristiwa ini, filsuf Rusia Aleksandr Dugin mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan, “Mengapa kalian membunuh para filsuf? Mereka itu sangat langka. Sekarang, dia [Larijani] di surga. Kita justru masih di neraka.” Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya peran filsuf dalam dunia yang semakin pragmatis.
Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang tidak praktis dan tidak relevan dalam dunia modern. Namun, bagi sebagian orang, filsafat adalah cara untuk memahami makna hidup dan mencari kebijaksanaan. Sayangnya, banyak orang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat langsung dan bisa memberikan hasil cepat, seperti uang atau kekuasaan. Ini membuat filsafat menjadi kurang diminati, terutama oleh para politisi yang lebih mementingkan kekuasaan daripada pemikiran mendalam.
Filsafat vs. Materialisme
Dalam era materialisme, segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai ekonomi. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk filsafat dan ilmu agama, seringkali dianggap rendah dibandingkan sains, matematika, dan teknologi. Namun, Farish A. Noor, seorang ahli sejarah poskolonial, menggugat anggapan ini. Baginya, pertanyaannya bukanlah apakah kita membutuhkan ilmu-ilmu tersebut, tetapi apa akibatnya jika kita tidak lagi mempelajarinya.
Teknologi telah membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi hingga pengambilan keputusan. Namun, teknologi hanya alat. Penggunaannya bergantung pada manusia, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Teknologi tidak menjawab pertanyaan tentang makna hidup: Mengapa kita hadir di dunia ini? Apa tujuan hidup ini? Mengapa ada suka dan duka?
Filsafat dalam Budaya Modern
Meskipun filsafat masih dipelajari, semakin menjauh dari makna yang sebenarnya. Menurut Seyyed Hossein Nasr, filsafat dalam budaya Barat modern sering kali dianggap sebagai wacana akademis tanpa solusi nyata. Padahal, dalam pengertian klasik, filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Filsafat bukan sekadar olah pikir, tetapi upaya menemukan kebijaksanaan hidup.
Ibnu Rusyd, filsuf Muslim abad pertengahan asal Spanyol, menyatakan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dia menyebut agama sebagai ‘syariah’ dan filsafat sebagai ‘hikmah’. Syariah bersumber dari wahyu Allah, sedangkan hikmah berasal dari pengkajian akal dan indera manusia. Dengan mengkaji apa yang ada, manusia akan mengenali Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.
Ketimpangan di Masa Kini
Kemajuan sains dan teknologi telah membawa manusia ke era industri, informasi, dan digital. Namun, ketimpangan semakin parah. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Pemimpin dan kaum terpelajar sering kali jauh dari kebijaksanaan hidup, lebih memilih perang daripada damai, nafsu serakah daripada keadilan.
Ribuan tahun lalu, Socrates dibunuh oleh penguasa. Plato berpikir bahwa negara yang adil harus dipimpin oleh filsuf. Al-Farabi juga menyampaikan ide serupa dalam impiannya tentang ‘negara utama’. Namun, betapa langkanya filsuf yang bisa menjadi penguasa! Jika penguasa bukan seorang filsuf, mereka sebaiknya didampingi oleh filsuf sebagai penasihat. Sayangnya, seringkali penguasa angkuh dan enggan dinasihati.
Kesimpulan
Sains dan teknologi penting bagi kemudahan hidup manusia. Namun, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh dan otak, tetapi juga jiwa dan ruh. Jika manusia hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya bendawi dan jasmani, maka kehilangan kemanusiaannya. Mesin dan manusia, akhirnya tak ada beda!



