Program Magang Orientasi Panggilan Profesi (OPP) SMA PL Van Lith Berasrama
Lebih dari 180 siswa SMA PL Van Lith Berasrama, Muntilan, mengikuti program magang orientasi panggilan profesi (OPP) di sejumlah 7 kota di Pulau Jawa. Program tahunan yang dirancang sekolah untuk memberikan wawasan, terjun langsung ke dunia kerja, serta mempersiapkan siswa kelas XI menuju jenjang perguruan tinggi dan karier mereka.
Ada pilot, pengusaha, dokter, jaksa, ASN, wartawan, pekerja digital, teknik sipil, arsitek, analis data, bagian HRD, R&D, IT, perawat, pangan, dan sebagainya. Program ini menjadi ajang pembelajaran nyata bagi para pelajar, dengan berbagai profesi yang bisa diakses melalui magang langsung.
Pengalaman Nyata dalam Program OPP
Saat acara penyambutan siswa OPP, suasana antusias terlihat di aula Lantai 8 Kampus Universitas Bina Nusantara (Binus University), Kemanggisan, Jakarta, Minggu (7/6/2026). Siswa Caroline, yang bercita-cita menjadi pramugari, maju ke depan forum bersama Willy Resubun, seorang pilot maskapai penerbangan komersial. Willy akan membawa peserta OPP terbang menumpang pesawat, sehingga punya kesempatan dan pengalaman langsung berinteraksi dengan pramugari di pesawat.
Hari itu, pukul 09.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB, kurang lebih 150 orang, terdiri atas orangtua siswa merangkap panitia, narasumber dan orangtua asuh, serta pihak Binus University. Mereka mengikuti acara penyambutan 43 siswa/i kelas XI SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama dari Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Program OPP adalah program tahunan yang dirancang sekolah untuk memberikan wawasan, terjun langsung ke dunia kerja, serta mempersiapkan siswa kelas XI menuju jenjang perguruan tinggi dan karier masa depannya. Tujuan utama OPP adalah simulasi karier. Praktiknya, siswa diberi kesempatan untuk observasi dan praktik langsung sesuai dengan cita-cita atau minat profesinya di berbagai instansi/lembaga negara, BUMN maupun perusahaan swasta.
Para pelajar putra dan putri akan mengikuti program OPP, kombinasi live-in di rumah sekaligus magang di kantor narasumber, yang profesinya sesuai cita-cita pelajar. Misalnya, siswa bercita-cita jadi pramugari atau pilot, maka dia ikut bersama narasumber yang bekerja sebagai pramugari/pilot. Ikut live-in, menginap di rumah narasumber. Kemudian magang untuk mengenali seluk-beluk profesi dengan ikut ke kantor. Durasi OPP selama seminggu.
Setiap tahun, SMA Van Lith menerima 200 siswa/i dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia; 100 orang putri, dan 100 putra. Mereka tinggal di asrama terpisah. Asrama putra di dalam kompleks SMA Van Lith di Jalan Kartini Muntilan. Sementara asrama putri di luar kompleks sekolah, berjarak sekira 500 meter ke sekolah.

Kegiatan OPP 2026 diselenggarakan di 7 kota besar di Pulau Jawa. Selain di Jabodetabek, lainnya adalah Magelang, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Bandung. Aneka profesi yang mereka ikuti. Selain pilot, ada pengusaha, dokter (spesialis), pengusaha, jaksa, ASN, wartawan, pekerja digital, teknik sipil, arsitek, analis data, bagian HRD, Litbang (research and development), IT, perawat, pangan, dan sebagainya.
Guru pendamping OPP yang ikut serta berangkat dari Muntilan ke Jabodetabek, Heribertus Eko Prasetyo, S.S., mengaku sudah belasan tahun mengikuti kegiatan OPP. Eko yang juga guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, bercerita pengalamannya.
Sekali waktu, Eko mendampingi siswa yang bercita-cita sebagai dokter spesialis bedah. Anak OPP yang pengin jadi dokter spesialis bedah, mendapat OPP pada dokter di RS Santo Yusup, Bandung. Hari pertama magang, siswa bertemu dan didampingi dokter umum. Dia sudah mulai protes, sebab tidak sesuai ekspektasi. Sehari kemudian, magang pada dokter gigi. Lalu si anak tak dapat menyembunyikan kekecewaannya, dengan menghubungi guru pendamping.
“Saya kecewa. Kan saya milih OPP ke dokter spesialis bedah. Kok ke dokter umum dan dokter gigi sih?” kata Eko menirukan si anak.

Hari berikutnya, narasumber memenuhi permintaan siswa, agar didampingi dokter spesialis bedah. Lalu, siswa diajak ke ruang operasi. Tempat bedah. Dokter pun melakukan operasi pada pasien. “Si anak tadi tiba-tiba pingsan. Katanya tidak kuat melihat darah pasien saat operasi,” kata Eko sembari berpesan, agar pelajar magang panjang sabar, menjaga sopan santun dan taat mengikuti proses. Jangan memaksakan diri.
Eko kemudian bercerita kisah mirip, seorang anak OPP sebagai manajer hotel. Dia sempat protes ketika diminta bertugas menjalankan fungsi Office Boy dan Cleaning Service. Barulah kemudian dijelaskan narasumbernya bahwa manajer hotel adalah jabatan, tetapi semua fungsi dari petugas kebersihan sampai menyambut tamu harus dapat dilakukan. Dari posisi rendahan barulah manajer.
Seorang narasumber, dr. Lila Wati Simamora adalah dokter umum di Jakarta Timur, kemudian menjelaskan, semua dokter spesialis, awalnya pasti dokter umum. “Jadi, seperti kuliah, sebelum S2 dan S3, harus S1 dulu,” kata dr. Lila.
Thomas, pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, mengaku sudah 14 tahun menjadi relawan, narasumber yang menerima peserta didik OPP SMA Van Lith. Selama itu, dia justru gunakan sebagai kesempatan belajar cara komunikasi dan mendidik anak remaja. Dia pun terkesan, akan keramahtamahan dan sopan-santun siswa-siswi SMA Van Lith.
Thomas cerita pengalaman yang sulit dilupakan. “Sekali waktu, anak saya cerita, tentang anak OPP. Saat di meja makan, terdapat dua potong tahu yang enak sekali memang. Sedangkan yang akan makan tiga orang. Si anak OPP tidak berani mengambil tahu, padahal anak saya bilang, silakan ambil dan habiskan. Rupanya si siswa, sangat sopan, dan bilang biar nanti bapakmu saja yang makan. Tadi pagi saya dibonceng naik motor ke kantor. Saya yang dibonceng saja capek, apalagi bapak pasti lebih lelah,” kata Thomas menirukan dialog anaknya dan peserta OPP.
Kenali Potensi dan Cita-cita
Ketua Pelaksana OPP Van Lith Angkatan Ke-34, Agustinus Sukirdjo, S.Pd., mengatakan OPP memberi ruang bagi siswa untuk melihat profesi secara lebih utuh. Menurutnya, profesi tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, jabatan, atau keterampilan, tetapi juga menyangkut nilai hidup, perjuangan, tanggung jawab, dan spiritualitas yang dihayati seseorang.
“OPP ini bukan sekadar mengenalkan anak pada dunia kerja. Yang lebih penting, anak-anak diajak melihat bagaimana sebuah profesi dihidupi dengan nilai, tanggung jawab, dan semangat pelayanan. Mereka belajar dari pengalaman nyata narasumber, dari perjuangan hidupnya, dari tantangannya, juga dari cara narasumber memberi makna pada profesinya,” ujar Kirdjo, sapaan Agustinus Sukirdjo.
Pengalaman tinggal bersama narasumber diharapkan membantu siswa menegaskan arah masa depan. Melalui OPP, siswa tidak hanya bertanya tentang pekerjaan apa yang ingin mereka pilih, tetapi juga hidup seperti apa yang ingin mereka bangun.
Harapan kami, setelah mengikuti OPP, para siswa semakin mampu mengenali potensi diri, menata cita-cita, dan mulai mendengarkan panggilan hidupnya. Mereka perlu belajar bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh pilihan studi atau karier, tetapi juga oleh nilai yang ingin diperjuangkan,” kata Kirdjo.
Guru pendamping OPP Heribertus Eko Prasetyo, S.S., menyampaikan kunci keberhasilan OPP terletak pada sikap terbuka para peserta. Ia mengingatkan siswa perlu hadir dengan rendah hati, menjaga sopan santun, dan sungguh-sungguh belajar dari keseharian narasumber maupun keluarga asuh.
Anak-anak datang bukan sebagai tamu yang hanya melihat dari luar, tetapi sebagai pribadi yang sedang belajar dari kehidupan. Mereka bisa belajar dari percakapan di rumah, dari dinamika di tempat kerja, dari kebiasaan keluarga, dari cara narasumber menghadapi masalah, dan dari nilai-nilai yang dipegang dalam hidup sehari-hari,” ujar Heribertus Eko.
Pengalaman OPP menjadi penting karena siswa dapat menyaksikan bahwa setiap profesi memiliki dimensi perjuangan. Di balik keberhasilan seseorang, selalu ada proses panjang, disiplin, pengorbanan, iman, relasi keluarga, dan keterlibatan sosial yang membentuk pribadi tersebut.
Yang ingin kita tumbuhkan adalah kepekaan. Anak-anak diharapkan mampu menangkap bahwa profesi bukan hanya soal cita-cita pribadi, tetapi juga soal kontribusi bagi masyarakat. Dari situlah mereka dapat berefleksi, apakah pilihan masa depan mereka kelak juga berguna bagi kehidupan banyak orang,” kata Eko.
Semangat Kekeluargaan
Koordinator Orangtua VL Angkatan 34 Wilayah Jabodetabek, Stanislaus Pujiono, menjelaskan penyelenggaraan OPP di Jabodetabek melibatkan kerja sama banyak pihak. Mulai dari pendamping sekolah, panitia wilayah, orang tua siswa, alumni, narasumber, hingga lembaga-lembaga yang bersedia menjadi ruang belajar bagi siswa. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata semangat kekeluargaan Van Lith.
OPP siswa Van Lith di Jabodetabek bukan hanya soal menempatkan siswa kepada narasumber. Ada proses panjang untuk mencarikan narasumber yang sesuai, menyiapkan penerimaan peserta, mengatur distribusi, melakukan monitoring, dan memastikan anak-anak dapat menjalani pengalaman ini dengan aman, nyaman, dan bermakna.
Ia menekankan OPP juga menjadi kesempatan untuk menghidupkan komunitas Van Lith di wilayah Jabodetabek. Melalui keterlibatan orang tua, alumni, dan para narasumber, jejaring Van Lith diharapkan semakin kuat dan mampu menjadi ruang pendampingan bagi generasi muda.
Kami ingin mengobarkan api Van Lith di Jabodetabek. Kegiatan ini mempertemukan banyak orang yang memiliki kepedulian pada pendidikan, pembentukan karakter, dan masa depan anak-anak. Dari sini, jejaring Van Lith tidak hanya menjadi jaringan sosial, tetapi juga jaringan nilai dan pelayanan,” kata Stanislaus Pujiono.
Panitia OPP Jabodetabek, Nancy Octavia, turut merasakan makna khusus dari kegiatan ini. Selain terlibat sebagai panitia di Jabodetabek, ia juga merupakan ibu dari seorang siswa yang sedang mengikuti OPP di kota lain. Pengalaman tersebut membuatnya melihat OPP dari dua sisi sekaligus, sebagai orang tua yang melepas anak untuk belajar mandiri dan sebagai panitia yang ikut mendampingi anak-anak lain.
Sebagai ibu, tentu ada rasa haru ketika anak sendiri mengikuti OPP di kota lain. Tetapi justru di situ saya melihat nilai besar dari kegiatan ini. Anak-anak belajar keluar dari kenyamanan, bertemu keluarga baru, mengenal dunia profesi secara nyata, dan belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri,” ujar Nancy.
Keterlibatan Nancy sebagai panitia di Jabodetabek menjadi bentuk kepercayaan dan solidaritas antar-orang tua. Ketika anaknya, siswa VL 34 didampingi oleh panitia dan narasumber di kota lain, ia pun ingin memberikan pendampingan terbaik bagi peserta yang datang ke Jabodetabek.
Saya merasa OPP ini seperti gerakan saling menjaga. Anak saya diterima dan didampingi di kota lain, sementara di Jabodetabek kami juga menerima dan mendampingi anak-anak dari keluarga lain. Di situlah terasa bahwa OPP bukan hanya program sekolah, tetapi pengalaman bersama antara sekolah, orang tua, alumni, dan masyarakat,” kata Nancy.
Menurut Nancy, OPP membantu orang tua melihat bahwa pendidikan anak tidak berhenti di ruang kelas. Anak-anak perlu mengalami kehidupan secara langsung, mendengar cerita perjuangan orang dewasa, menyaksikan etos kerja, dan belajar bahwa setiap pilihan hidup membawa tanggung jawab.
Harapan saya, anak-anak pulang dari OPP dengan hati yang lebih matang. Mereka mungkin belum langsung tahu akan menjadi apa, tetapi setidaknya mereka mulai mengerti bahwa hidup harus dipersiapkan, cita-cita harus diperjuangkan, dan profesi sebaiknya dijalani dengan nilai serta kepedulian kepada sesama,” ujarnya.
Selama menjalani OPP, para narasumber dan keluarga asuh diharapkan menyediakan waktu untuk berbincang dengan siswa mengenai riwayat cita-cita, perjuangan hidup, nilai keluarga, penghayatan profesi, tantangan pekerjaan, prinsip hidup, situasi sosial, serta harapan terhadap generasi muda. Peserta juga dapat diajak mengenal lingkungan kerja, mengikuti kegiatan yang menambah wawasan, atau berdiskusi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan profesi yang diminati.
Rangkaian OPP VL34 wilayah Jabodetabek akan dilanjutkan dengan proses live-in bersama narasumber pada 8–12 Juni 2026. Setelah itu, peserta akan mengikuti refleksi pada 13 Juni 2026 untuk merumuskan pengalaman, menemukan nilai yang mereka pelajari, mengevaluasi proses kegiatan, serta menyusun niat konkret bagi masa depan.
Pembukaan OPP VL34 di Binus @Kemanggisan menjadi awal dari perjalanan pembelajaran yang melampaui ruang kelas. Melalui perjumpaan dengan narasumber, keluarga asuh, alumni, orang tua, dan masyarakat, para siswa diajak mengenali bahwa panggilan profesi bukan hanya tentang pekerjaan masa depan, tetapi juga tentang keberanian menemukan arah hidup, membangun karakter, dan memberi makna bagi sesama.
Pembentukan Karakter
Rika, seorang alumnus SMA Van Lith mengatakan program orientasi panggilan profesi (OPP) SMA Van Lith, memang luar biasa. Ia memiliki cita-cita jadi pebisnis. Beberapa tahun silam, ia mengikuti OPP pada narasumber seorang pengusaha sukses.
Sang pengusaha pun mengajak Rika berkunjung ke pabrik, yang bangunan berdiri di hamparan areal luas. Rika sampai tertegun dan kagum, si pengusaha punya banyak sekali aset.
Rika merasakan betapa nyaman, hebat dan mewahnya jadi pengusaha. Saat makan, semua disiapkan dan disajikan pelayan. Piring diambilkan. Menu disendokkan ke piring. Pengusaha tinggal makan. Kerja tinggal komando melalui telepon. Lalu sang pengusaha memberi motivasi kepadanya. “Enak kan jadi pengusaha. Kalau mau sukses, lakukan blabla…,” katanya menirukan kiat sukses pebisnis.
OPP program tahunan untuk membentuk rasul awam lulusan SMA Van Lith yang memiliki karakter Katolik/Kristiani, cerdas, unggul, visioner dan peduli. Selain OPP, ada program lainnya. Pogram non-akademik.
Homestay (live in) pada kelas 10. Anak-anak tinggal sepekan bersama warga di pedesaan. Berinteraksi bersama keluarga petani, atau peternak yang hidupnya sederhana di pedesaan di seputar Magelang atau Yogyakarta. Tidur tanpa kasur empuk, makan tanpa meja besar, mandi di sumur, hidangan apa adanya. Anak-anak ikut ke ladang, atau sawah.
Mengalami Kerja; Siswa-siswi dimitna mencari tempat menalami kerja. Seperti menjadi pelayan toko, pramusaji pasar swalayan, karaywan toko bangunan, tukang cuci piring restoran, dan lain sebagainya. Lokasi kerja di seputar Kabuapten Magelang.
RKKS (Rekoleksi Kesadaran dan Kepekaan Sosial), dilaksanakan saat siswa kelas 11 semester 3. Mereka tinggal dan terlibat pekerjaan orang tua asuh yang umumnya kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD) di perkotaan di seputar Jawa Tengah. Misal, pedagang asongan, tukang jamu, pedagang cendol, pedagang daging ayam di pasar tradisional dan seterusnya.
Selain itu, dinamika bersosial di asrama, mendidik mereka mandiri, seperti mencuci dan setrika pakaian sendiri. Mengikuti jadwal kegiatan sejak pagi di asrama, siang di sekolah, dan hingga malam di asrama. Setiap hari, siswa wajib mengikuti ibadah misa, misalnya.



