Buku Madilog yang Masih Relevan di Era Digital
Buku Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog) karya Tan Malaka tidak akan pernah mati. Ini adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sebuah karya yang terbit pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Meskipun sudah lama diterbitkan, buku ini masih mendapat tempat yang strategis di toko buku Gramedia. Salah satunya di Gramedia Panakukkang Makassar, yang saya kunjungi awal tahun 2026 ini.
Buku dengan sampul merah dan berukuran tebal 560 halaman ini ditempatkan di deretan rak buku Best Seller yang mudah ditemukan oleh masyarakat saat berkunjung ke Gramedia. Meskipun merupakan karya lawas, Madilog telah mengalami cetakan baru. Hal ini membuktikan bahwa buku ini tetap memiliki tempat di tengah masyarakat modern.
Namun, bukan hanya fisiknya yang membuat Madilog relevan. Gagasan yang terkandung dalam buku ini menjadi referensi yang penting dalam rentang waktu, bahkan di antara puluhan ribu buku baru yang terbit setiap pergantian generasi. Karena itulah, keberadaan Madilog patut diapresiasi sebagai salah satu karya original yang layak menjadi referensi terhadap dunia literasi di tanah air.
Bagi generasi kekinian yang hidup di era digitalisasi, mungkin akan berpikir untuk mengoleksi dan membaca Madilog. Karena butuh pengetahuan lebih untuk memahami dan mendalami isi buku tersebut. Mengingat isi buku yang berorientasi pada aspek logika mustika, filsafat, ilmu alam, science dialektika, logika, dan pandangan madilog, sebagaimana termuat dalam daftar isi buku tersebut.
Bagi yang pertama kali melihat dan membaca Madilog, mungkin akan merasa bosan dan tidak tertarik. Ini wajar mengingat gaya tulisan yang ilmiah, serta buku ditulis dalam kondisi masyarakat Indonesia di masa revolusi lalu. Di mana menjadikan peristiwa sebagai sebuah takdir, sehingga harus diterima sebagai realitas kehidupan. Termasuk praktek penjajahan oleh kolonialisme, sebagai sebuah takdir yang menimpa bangsa Indonesia.
Inilah yang menurut Tan Malaka selaku penulis buku, sebagai logika mistika yang harus dihilangkan dalam paradigma masyarakat Indonesia. Bahwa penjajahan bukanlah takdir, tapi praktek nyata kolonialisme untuk menguras kekayaan alam Indonesia. Dan neo kolonialisme berlangsung di era kekinian di bangsa ini, lewat praktek penguasaan dominasi ekonomi oleh pemodal besar.
Logika mistika menurut Tan Malaka dalam Madilog berangkat dari sebuah kesesatan pikir. Sehingga tidak melihat peristiwa (materialisme) sebagai sebuah realitas, dalam pendekatan yang rasional dan logis.
Kesesatan Pikir Membuat Kemunduran
Praktek kesesatan pikir ini yang membuat Indonesia susah untuk maju. Bahkan berpotensi membuat kemunduran. Karena itu, kesesatan berpikir harus dirubah dengan pendekatan Madilog, agar menghadirkan pikiran yang lebih terbuka dan maju.
Kesesatan pikir di era digitalisasi ini bukannya diminimalisir, justru semakin menjadi. Bukan hanya dilingkup masyarakat awam, namun di tingkat elit politik dan penguasa serta kaum intelektual. Lihat saja setiap masalah yang mencuat bukannya dicarikan solusi, namun justru menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Lewat berbagai perdebatan yang tak berujung dengan argumentasi yang sesat pikir.
Perdebatan (dialektika) yang harusnya menghadirkan perubahan, justru menjadi kontra produksi dan tidak memberikan edukasi di ruang publik. Namun seolah dilanggengkan sebagai olahan politik para elit atau publik figur.
Apa yang ditulis oleh Tan Malaka dalam Madilog soal sesat pikir, justru semakin tak terbendung disaat kita sudah memasuki era digital. Era dimana Indonesia semakin maju karena kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi lewat platform digitalisasi seharusnya mengantar bangsa ini pada kemajuan kolektif. Namun yang terjadi sebaliknya, sesama anak bangsa saling terpolarisasi karena terjadinya post truth. Yakni masyarakat menerima informasi dengan pendekatan perasaan, bukan secara rasional salah satunya lewat instrumen digitalisasi. Sehingga, sesuatu yang sesat, dianggap sebagai kebenaran karena terus diulang-ulang.
Madilog Sebagai Metode Analisis
Artikel ini bukan dimaksudkan untuk mengulas (resensi) buku Madilog. Namun lebih pada melihat Madilog sebagai metode analisis dalam mengatasi berbagai masalah (problem solving) yang terjadi di masa kini. Metode analisis yang relevan dengan beragam problematika yang melingkupi berbagai multi dimensi kehidupan di bangsa ini. Baik dimensi sosial, politik, budaya, ekonomi, pendidikan, pangan, kesehatan, energi hingga lingkungan.
Metode analisis yang dimaksud yakni, menggabungkan pendekatan materialisme, dialektika, dan logika dalam memahami realitas (problematika) sosial, sekaligus pemecahan (solusi) masalah. Materialisme fokus pada komponen materi sebagai dasar dari kehidupan sosial. Bahwa komponen materi berupa ekonomi dan infrastruktur, adalah dasar dari semua fenomena sosial yang dibutuhkan manusia.
Dialektika melihat perubahan sebagai hasil dari kontradiksi dan konflik. Adapun Logika menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan rasional dalam pemecahan masalah. Sejatinya komponen materialisme dianggap menjadi penentu kedaulatan nasional. Bahkan berkolerasi terhadap keberadaan multi dimensi kehidupan bangsa.
Namun distribusi ekonomi yang dilakukan lewat pengelolaan sumber daya alam, belum sepenuhnya memberikan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat. Bahkan cenderung menghamparkan kesenjangan yang mencolok. Pun dengan infrastruktur yang harusnya menjadi kebutuhan dasar masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, juga menghadirkan kesenjangan antara wilayah pedalaman dan perkotaan dengan fasilitasnya yang moderen.
Distribusi ekonomi dan infrastruktur merata dan adil yang harusnya menjadi penentu kedaulatan bangsa, justru menjadi problem krusial, ketika implementasinya oleh penentu kebijakan tidak sesuai kenyataan. Problematika yang berkepanjangan menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Dialektika yang harusnya berbuah perubahan, tidak terwujud, karena solusi penanganan tidak berbasis logika keadilan.
Pada akhirnya tanpa solusi kongkrit, masyarakat pedalaman melihat kemiskinan dan keterisolasian sebagai takdir yang harus diterima. Bahwa kesenjangan merupakan realitas yang entah sampai kapan tertangani dan oleh siapa yang dapat menangani. Paradigma (sesat pikir) penerimaan atas takdir yang bermuara pada sikap apriori ini, harus diubah. Bahwa tanggung jawab mewujudkan keadilan, ada pada pemerintah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat lewat pemberdayaan.
Bahwa kesenjangan dan ketidakadilan bisa diatasi, jika saja pemerintah mau berpihak terhadap masyarakat pedalaman yang tertertinggal dan terisolir. Lewat kebijakan, program dan anggaran yang memadai. Selama keberpihakan tersebut tidak tersentuh, maka sama dengan terus melanggengkan kesenjangan. Maka pemerintah bukan saja mengabaikan amanat konstiusi, namun juga sesat terhadap produk kebijakanan maupun anggaran, karena tidak berbasis keadilan.
Diinilah menjadikan Madilog sebagai pisau analisis yang relevan terhadap penanganan berbagai problem bangsa ini. Terutama oleh pemangku kebijakan dengan dasar rasionalitas yang cemerlang. Lewat Madilog, pemangku kebijakan dapat mengurai setiap materi yang menjadi problem krusial. Mengurai dialektika sebagai potensi perubahan, serta mengurai logika sebagai solusi berupa matriks yang rasional, adil dan tepat sasaran.
Maka jika Madilog masih mendapat di rak utama toko buku Gramedia, tidak lain karena gagasan dalam buku tersebut masih dibutuhkan hingga saat ini.



