Perubahan Mendasar dalam Pengelolaan Sampah di Balikpapan
Tumpukan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar Kota Balikpapan kini mulai berubah makna. Di kawasan TPAS Manggar, yang setiap harinya menerima ratusan ton sampah rumah tangga dan residu non-daur ulang, lahir sebuah inisiatif transformatif berbasis teknologi dan kolaborasi.
Tim Solid Recovered Fuel (SRF) dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK), dengan dukungan Program Pertamina PFsains kategori implementation, mengembangkan sistem pengolahan sampah menjadi pellet SRF (Solid Recovered Fuel), bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi industri dan pembangkit listrik.
Program ini tidak hanya menghadirkan solusi teknis berupa instalasi mesin pencacah dan pelletizer, tetapi juga membangun ekosistem baru di sekitar TPAS: masyarakat dilibatkan dalam proses pemilahan dan produksi, volume sampah yang ditimbun berkurang, dan nilai ekonomi tercipta dari limbah yang sebelumnya tak bernilai.
Inovasi ini menandai babak baru pengelolaan sampah di Balikpapan dari sekadar pembuangan akhir menjadi pusat produksi energi berbasis ekonomi sirkular yang berdampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara nyata.
Dampak Sosial: Dari Masalah Menjadi Harapan
Selama bertahun-tahun, keberadaan TPAS identik dengan bau, pencemaran, dan stigma negatif bagi warga sekitar. Melalui program ini, paradigma tersebut perlahan berubah. Sampah residu yang sebelumnya hanya ditimbun kini dipilah dan diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Kehadiran fasilitas pengolahan SRF membuka ruang partisipasi masyarakat, khususnya kelompok pemilah dan pekerja informal. Mereka mendapatkan pelatihan teknis, peningkatan kapasitas, serta pemahaman tentang ekonomi sirkular dan energi terbarukan.
Aktivitas produksi pellet SRF juga mengurangi volume sampah yang masuk ke landfill, sehingga memperpanjang umur operasional TPAS dan menekan risiko pencemaran lingkungan. Secara sosial, program ini memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Warga tidak lagi sekadar menjadi “penonton” persoalan sampah, melainkan bagian dari solusi energi masa depan.
Dampak Ekonomi: Tambahan Pendapatan dan Rantai Nilai Baru
Dari sisi ekonomi, pengembangan teknologi pellet SRF menciptakan rantai nilai baru di tingkat lokal. Masyarakat yang terlibat dalam pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan bahan baku memperoleh tambahan pendapatan dari setiap ton bahan yang diproses. Skema operasional berbasis komunitas memungkinkan distribusi manfaat ekonomi secara lebih merata.
Selain upah tenaga kerja, terdapat potensi usaha turunan seperti penyediaan bahan pendukung, transportasi, hingga jasa perawatan mesin. Lebih jauh, pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar alternatif mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil murni, sekaligus membuka peluang insentif berbasis pengurangan emisi karbon.
Dengan demikian, dampak ekonomi tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga strategis dalam jangka panjang.
Instalasi Peralatan: Pencacah Kayu dan Mesin Pelletizer
Sebagai bagian dari implementasi teknologi, Tim SRF ITK memasang unit peralatan utama berupa mesin pencacah kayu (wood crusher) dan mesin pelletizer di area pengolahan.
Mesin pencacah berfungsi mereduksi ukuran material biomassa dan sampah non-daur ulang agar homogen dan sesuai standar kadar air serta ukuran partikel. Selanjutnya, material tersebut diproses melalui pelletizer untuk dipadatkan menjadi pellet SRF dengan nilai kalor yang stabil dan densitas tinggi.
Teknologi ini dirancang agar adaptif terhadap karakteristik sampah lokal. Sistemnya mengedepankan efisiensi energi, kemudahan operasional, dan potensi replikasi di daerah lain. Dengan instalasi ini, TPAS Manggar tidak lagi hanya menjadi lokasi pembuangan akhir, tetapi berubah menjadi pusat produksi bahan bakar alternatif.
Potensi Carbon Credit: Kontribusi terhadap Pengurangan Emisi
| Parameter | Nilai Asumsi |
|---|---|
| Jumlah sampah padat residual yang diproses per tahun | 10.000 ton |
| Kandungan organik + biomassa efektif menjadi SRF | 60 persen (6.000 ton) |
| Reduksi emisi metana terhadap landfill | 50 persen dari potensi CH₄ |
| Faktor Kemanasan Global (GWP) CH₄ terhadap CO₂ | 28 |
| Substitusi bahan bakar fosil (batubara) di PLTU | 20 persen co-firing SRF |
| Emisi CO₂ batubara per MWh | 0,9 ton CO₂eq |
| Dampak | Nilai Per Tahun |
|---|---|
| Penghindaran emisi CH₄ dari landfill | ~8.400 ton CO₂eq |
| Substitusi emisi dari batubara | ~3.780 ton CO₂eq |
| Emisi proses produksi | ~700 ton CO₂eq |
| Potensi penurunan emisi bersih | ~11.480 ton CO₂eq |
Setiap ton sampah yang dialihkan dari landfill mengurangi potensi emisi metana (CH₄), gas dengan daya pemanasan global jauh lebih tinggi dibanding CO₂. Selain itu, penggunaan SRF sebagai substitusi sebagian batubara dalam skema co-firing di pembangkit listrik mampu menekan emisi CO₂ dari sektor energi.
Potensi ini memperkuat posisi proyek sebagai model integrasi pengelolaan sampah dan transisi energi rendah karbon.
Konversi Sampah Padat TPAS Manggar Menjadi Pellet SRF
Konversi sampah padat TPAS Manggar menjadi pellet SRF tidak hanya bernilai energi dan ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan gas rumah kaca. Dengan pendekatan LCA, proyek ini layak dikembangkan sebagai:
- Proyek karbon kredit bersertifikasi;
- Model pengelolaan sampah berstandar rendah karbon;
- Solusi bagi sektor energi untuk transisi energi bersih.
Potensi Implementasi di PLTU Kaltim Teluk
Pellet SRF hasil produksi dirancang untuk mendukung program co-firing biomassa di PLTU Kaltim Teluk, Balikpapan. Melalui skema ini, sebagian konsumsi batubara digantikan oleh bahan bakar alternatif berbasis limbah dan biomassa. Langkah ini sejalan dengan agenda transisi energi nasional dan target net zero emissions Indonesia.
Co-firing tidak hanya menurunkan intensitas emisi pembangkit, tetapi juga menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dan sektor ketenagalistrikan dapat terhubung dalam satu ekosistem ekonomi sirkular.
Inisiatif Tim SRF ITK bersama dukungan PFsains menunjukkan bahwa inovasi teknologi lokal mampu menjawab tantangan global. Dari TPAS Manggar, lahir solusi yang mengubah sampah menjadi energi, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Sebuah langkah konkret menuju Balikpapan yang lebih bersih dan masa depan energi yang lebih berkelanjutan.



