Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 30 Maret 2026
Trending
  • Mitsubishi Xpander HEV Versi Terbaru, Harga Rp 480 Jutaan
  • Kisah Yuma Soerianto, Anak Indonesia Jadi Pengembang Apple di Usia 10 Tahun
  • Pemimpin intelijen Bali, ini jejak karier Kombes Pol Andy Ervyn yang mengesankan
  • Dinamika Politik Denmark: Pemilu 2026 dan Isu Greenland
  • Prediksi Skor Chile vs Cape Verde: Head-to-Head dan Statistik di FIFA Series 2026
  • Ramalan Zodiak Besok: Leo, Virgo, Libra, Scorpio, 29 Maret 2026 – Kenaikan Saldo & Hadapi Konflik
  • Renungan Katolik Jumat 27 Maret 2026: Bapa Ada dalam Aku
  • ENRG turun dari puncak, analis rekomendasikan beli, target tembus rekor baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Kisah Yuma Soerianto, Anak Indonesia Jadi Pengembang Apple di Usia 10 Tahun
Teknologi

Kisah Yuma Soerianto, Anak Indonesia Jadi Pengembang Apple di Usia 10 Tahun

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 Maret 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Yuma Soerianto: Anak Muda Indonesia yang Menginspirasi Dunia Teknologi

Yuma Soerianto adalah seorang anak muda asal Indonesia yang kini tinggal di Australia. Ia berprofesi sebagai programmer dan telah mendapatkan beasiswa dari Apple Worldwide Developers Conference (WWDC) selama lima tahun berturut-turut pada 2017-2021. Yuma juga menjadi pemenang termuda pada WWDC 2017 yang ditampilkan oleh Apple CEO Tim Cook dalam presentasi keynote-nya.

Anak kelahiran 2007 ini menjadi salah satu penerima penghargaan 74 Ikon Pancasila 2019 yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Kini, Yuma tengah mengenyam pendidikan S1 di Stanford University jurusan Computer Science (Conversion).

Berikut adalah beberapa hal menarik tentang Yuma Soerianto:

Yuma tertarik coding sejak umur 6 tahun dan belajar secara otodidak



Yuma mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia coding sejak usia 6 tahun, saat ia melihat sang Papa menulis kode. Rasa penasaran itu berkembang menjadi minat yang serius hingga akhirnya ia mulai belajar secara mandiri di usia 8 tahun.

Ia memanfaatkan berbagai sumber daring, seperti YouTube dan bahkan mengikuti kursus online dari Stanford untuk memperdalam kemampuannya dalam dunia coding.

Menciptakan aplikasi pertama di usia 9 tahun



Tak butuh waktu lama, Yuma berhasil menciptakan aplikasi pertamanya pada tahun 2016 yang diberi nama ‘Kid Calculator’. Aplikasi ini dirancang untuk membantu anak-anak belajar berhitung dengan cara yang menyenangkan, menggunakan animasi alien dan roket sebagai daya tarik utamanya.

Pada tahun 2017, Yuma mendapatkan kesempatan untuk mengikuti WWDC, sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Apple untuk para developer dari seluruh dunia. Dalam kesempatan tersebut, ia berhasil membuat aplikasi perjalanan udara dari Australia ke Amerika Serikat dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan kemampuan teknisnya sejak usia dini.

Menariknya, sebelum membuat aplikasi, Yuma terlebih dahulu belajar dengan membuat permainan berbasis web. Cara ini membantunya memahami dasar-dasar coding dengan lebih mudah. Selain itu, ia juga aktif membagikan perjalanan belajarnya melalui media sosial, sehingga bisa menginspirasi banyak orang.

Raih banyak penghargaan berkat aplikasi buatannya



Selama menekuni dunia programming, Yuma berhasil meraih beasiswa WWDC selama lima tahun berturut-turut dari 2017 hingga 2021. Kesempatan ini juga membawanya bertemu dengan berbagai tokoh inspiratif dunia, termasuk Tim Cook sebagai CEO Apple.

Tak hanya itu, Yuma juga menerima penghargaan World Youth Forum Award yang diberikan oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sisi. Sejumlah aplikasi yang ia kembangkan juga meraih berbagai penghargaan, seperti App Store of the Day Award untuk ‘Let’s Stack AR!’ serta Victorian Games and Apps Challenge 2018 untuk ‘Swipy Trash’. Saat berkunjung ke Indonesia, ia juga menerima penghargaan 74 Ikon Pancasila 2019.

Diakui sebagai developer termuda di dunia yang berfokus pada ekosistem Apple



Yuma Soerianto merupakan seorang developer aplikasi iOS yang telah diakui secara internasional. Sebagai salah satu iOS developer termuda di dunia, Yuma dikenal fokus mengembangkan aplikasi dalam ekosistem Apple. Ia telah menghasilkan sejumlah karya, seperti ‘Let’s Stack AR’, ‘Swipy Trash’, dan ‘Hunger Button’.

Semangat belajarnya yang tinggi membawanya hingga kini melanjutkan pendidikan di Stanford University. Berkat pencapaian tersebut, Yuma kini dikenal sebagai salah satu ikon programmer muda Indonesia yang sukses menembus panggung teknologi global.

Kini berkuliah di S1 Stanford



Pada Januari 2025, Yuma mengumumkan kepada publik bahwa dirinya sebagai mahasiswa S1 Stanford University jurusan Computer Science (Conversion). Ini merupakan pencapaian luar biasa bagi developer muda Indonesia yang telah menembus dunia Apple dan Stanford.

“Perjalananku dengan Stanford dimulai ketika aku berusia delapan tahun. Saat itu, saya belajar pengembangan aplikasi melalui kelas online gratis. Sejak itu, aku bertekad untuk bergabung dengan sekolah bergengsi ini. Kalian bisa membayangkan betapa senangnya aku akhirnya bisa belajar di sana secara langsung sepuluh tahun kemudian,” cerita Yuma dalam caption Instagramnya.

Daftar aplikasi yang telah diciptakan Yuma Soerianto



Sejak menciptakan aplikasi pertamanya di tahun 2016, Yuma telah mengembangkan total 11 aplikasi berbasis iOS yang dirilis di App Store. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Kid Calculator

    Aplikasi pertama yang dibuat Yuma saat berusia sembilan tahun. Aplikasi ini berfungsi sebagai kalkulator untuk melakukan berbagai jenis perhitungan matematika dan menggunakan cara seru dengan melibatkan animasi alien serta roket.

  • Let’s Stack AR!

    Aplikasi permainan yang dibuat oleh Yuma saat berusia 10 tahun. Dalam permainan ini, pengguna dapat menumpukkan balok diatas balok lainnya dan membuat menara yang tinggi. Aplikasi ini menggunakan fitur Augmented Reality (AR) yang di mana kreasi balok dapat dibandingkan dengan objek-objek realita lainnya. Aplikasi ini telah memenangkan App Store of the Day Award.

  • Weather Duck

    Aplikasi yang memberitahu penggunanya tentang ramalan cuaca dan rekomendasi pakaian untuk dipakai pada cuaca tersebut. Menariknya, aplikasi telah diadaptasi pada Apple Watch dan Widget.

  • Ant Panic AR

    Aplikasi permainan yang menggunakan fitur Augmented Reality (AR). Yuma menciptakan aplikasi terinspirasi dari sebuah kaca pembesar yang ia dapatkan. Pada aplikasi tersebut, pengguna dapat memanfaatkan telepon genggamnya sebagai kaca pembesar yang digunakan untuk memusnahkan robot-robot semut pada permainan tersebut.

  • Swipy Trash

    Aplikasi game yang dikembangkan oleh Yuma bersama beberapa teman sekelasnya saat masih duduk di kelas 6 SD. Game ini memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) dengan tujuan untuk membantu menjaga kelestarian habitat hewan lokal melalui aktivitas membersihkan dan memilah sampah. Aplikasi ini pun sukses meraih penghargaan dalam ajang Victorian Games and Apps Challenge 2018.

  • Let’s Stack

    Let’s Stack merupakan game yang membantu karakter anak bebek dalam membangun menara setinggi mungkin dengan menggunakan balok-balok berwarna. Permainan ini juga dilengkapi dengan fitur papan peringkat, sehingga para pengguna dapat saling bersaing dan mengetahui siapa yang berhasil membangun menara paling tinggi.

  • Hunger Button

    Hunger Button adalah aplikasi permainan yang memudahkan pengguna saat kesulitan menentukan tempat makan. Melalui aplikasi ini, pengguna cukup melakukan satu klik untuk mendapatkan rekomendasi tempat makan secara acak yang berada di sekitarnya.

  • Pocket Poké

    Pocket Poké merupakan aplikasi yang berfungsi sebagai panduan informasi mengenai berbagai jenis karakter Pokémon.

  • WaveSavr

    WaveSavr adalah aplikasi Mac pertama yang dikembangkan oleh Yuma. Aplikasi ini dirancang khusus untuk membantu para programmer atau developer dalam membuat file katalog ShazamKit secara otomatis.

  • Fireworks Builder

    Fireworks Builder merupakan game yang memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR). Dalam permainan ini, pengguna dapat merancang kembang api dengan mencampurkan bahan-bahan yang sesuai, lalu melihat hasil peluncurannya secara langsung melalui fitur Augmented Reality (AR).

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

6 tanda otak putih anak tak berkembang, apakah gadget penyebabnya?

30 Maret 2026

Mampukah Jadi Foldable Multi-Day? Samsung Galaxy Z Fold 8 Siap Lompat ke 5.000mAh

29 Maret 2026

Baterai 6.000mAh dan Diskon Jadi Senjata Utama, Galaxy M17e Mulai Dijual

29 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mitsubishi Xpander HEV Versi Terbaru, Harga Rp 480 Jutaan

30 Maret 2026

Kisah Yuma Soerianto, Anak Indonesia Jadi Pengembang Apple di Usia 10 Tahun

30 Maret 2026

Pemimpin intelijen Bali, ini jejak karier Kombes Pol Andy Ervyn yang mengesankan

30 Maret 2026

Dinamika Politik Denmark: Pemilu 2026 dan Isu Greenland

30 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?