Pengalaman Wali Kota Bengkulu dalam Pembangunan Jembatan Air Cugung Patil
Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, menceritakan perjalanan awal pembangunan Jembatan Air Cugung Patil di kawasan Kebun Tebeng. Proses ini dimulai dari pengalihan anggaran hingga mendapat protes dari warga saat akses jalan ditutup sementara.
Dedy menjelaskan bahwa setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, ia segera melakukan pengecekan terhadap anggaran yang dikeluarkan sesuai Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran. Hal ini memaksa pemerintah untuk mengalihkan dana ke infrastruktur prioritas yang lebih dibutuhkan masyarakat.
Alihkan Anggaran untuk Infrastruktur Prioritas
Pengalihan anggaran tersebut bertujuan untuk fokus pada pembangunan infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kota Bengkulu. Secara bertahap, berbagai infrastruktur mulai diperbaiki, termasuk jalan dan penerangan jalan.
Selama tahun 2025, pemerintah berhasil membangun 77 link jalan sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur. Meski demikian, Dedy mengakui bahwa masih banyak warga yang menyampaikan aspirasi karena beberapa wilayah belum tersentuh perbaikan.
Tuntutan tinggi dari masyarakat memaksa pemerintah untuk menangani masalah secara bertahap sesuai kemampuan anggaran. “Ada 77 link jalan yang kita bangun selama tahun 2025. Masyarakat masih banyak yang berkata, ‘Pak, di tempat kami belum, Pak.’ Memang banyak sekali tuntutan,” ujarnya.
Kebun Tebeng dan Pembangunan Jembatan Air Cugung Patil
Salah satu wilayah yang menjadi prioritas adalah Kebun Tebeng. Kawasan ini dikenal sebagai titik banjir setiap kali hujan deras turun. Awalnya, masyarakat meminta pelebaran gorong-gorong untuk mengurangi genangan.
Setelah melakukan pengecekan langsung di lapangan, pemerintah memutuskan solusi terbaik adalah pembangunan Jembatan Air Cugung Patil. Perhitungan teknis menunjukkan bahwa pembangunan jembatan ini memerlukan anggaran sekitar Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar.
Alokasi dana tersebut sebelumnya tidak tersedia dalam APBD 2025. Pemerintah lalu melakukan pergeseran anggaran dengan mencoret beberapa pos yang dapat ditunda dan mengalihkan dana untuk pembangunan jembatan tersebut.
“Kemudian juga soal Kebun Tebeng. Kalau orang lama tahu, Kebun Tebeng itu, Bang, setiap hujan pasti banjir. Lalu apa masalah di sana? Masyarakat meminta gorong-gorongnya diperlebar. Saya datang ke sana, saya cek, kemudian saya ajak tim untuk menghitung risiko. ‘PR ini bagaimana caranya? Bisa tidak dibikin dulu?’ Mereka bilang, ‘Pak, tanggung, Pak. Jembatan saja.’ Oke, saya bilang, berapa kebutuhan untuk jembatan? Hitung-hitung, hasilnya Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar. Wah, uang kita tidak ada, kan? Saya lihat lagi APBD itu. Coret, coret, coret. Alihkan. Jadi, kemarin begitu prosesnya,” jelas Dedy.
Sempat Picu Kemacetan dan Kritik
Keputusan pembangunan jembatan tersebut sempat memicu reaksi masyarakat. Akses jalan harus ditutup cukup lama sehingga menyebabkan kemacetan. Kritik pun bermunculan, terutama di media sosial.
Namun, penutupan jalan dinilai dibutuhkan demi percepatan penyelesaian proyek. “Wah, itu juga pada ribut. Kenapa? Karena jalan lama ditutup, sehingga terjadi kemacetan. Itu termasuk akses yang padat, dan memang harus ditutup karena kita sedang membangun jembatan. Saya pun dibilang macam-macam, katanya tidak becus, lambat, dan sebagainya. Di media sosial juga sama saya harus menebalkan telinga, lalu mencoba untuk tetap bersabar. Singkat cerita, setelah selesai, kita resmikan. Alhamdulillah, atas izin Allah, hujan lebat apa pun sekarang tidak lagi menyebabkan banjir di sana,” tambah Dedy.
Penanganan Banjir dan Penerangan Jalan
Selain Kebun Tebeng, pemerintah juga menangani titik banjir lain di Pekan Sabatu, terutama kawasan di belakang Asrama Haji yang selama puluhan tahun dilanda genangan. Di wilayah tersebut, jembatan baru juga dibangun sebagai bagian dari janji kampanye.
Setelah rampung, kawasan itu tidak lagi mengalami banjir besar seperti sebelumnya. Selain pembangunan jembatan dan jalan, pemerintah juga memasang ratusan titik lampu penerangan. Pada tahun 2026, lebih dari seribu titik lampu tambahan direncanakan untuk dipasang guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Dedy menegaskan seluruh program tidak bisa diselesaikan sekaligus karena keterbatasan anggaran. Meski demikian, ia memastikan upaya pembangunan telah berada di jalur yang tepat. “Tidak bisa langsung tuntas, tetapi langkah-langkahnya sudah on the track,” tutup Dedy.



