Seorang Ibu di Gang Sempit yang Menjaga Nyala Al-Qur’an
Di tengah kota Samarinda, terdapat sebuah gang sempit yang terletak di Jalan KH Samanhudi (eks Jalan Rajawali), Gang Al Hikam, Kelurahan Pelita Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, Provinsi Kalimantan Timur. Di sana, suara lantunan ayat suci Al-Quran dan bacaan dari buku iqro terdengar dengan jelas. Tempat ini menjadi lokasi kecil yang penuh makna, di mana seorang wanita paruh baya, Sumiati, mengajar anak-anak dan orang tua dalam membaca Al-Qur’an secara gratis.
Rumah kontrakan sederhana yang berada di ujung gang tersebut memiliki spanduk bertuliskan “Rumah Pintar Santi, belajar mengaji gratis anak-anak dan orangtua”. Di sana, Sumiati (49) menjalani perannya sebagai guru ngaji dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Meskipun hidupnya dipenuhi tantangan, ia tetap mempertahankan semangat untuk menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitarnya.
Sumiati merantau dari Kota Surabaya sejak tahun 1996 mengikuti sang suami. Ia membawa bekal ilmu dari pesantren untuk dibagikan kepada anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya. Perjalanan tidak selalu mulus. Tantangan ekonomi sering kali membuatnya harus mengajar dari rumah ke rumah demi memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ia tetap setia menjalani profesi ini hingga saat ini, artinya sekitar 30 tahun sudah ia mengajar.
Perpindahan tempat tinggal juga menjadi bagian dari cerita hidupnya. Dari Kelurahan Sungai Dama, ia akhirnya berpindah ke hunian yang sekarang menjadi tempat puluhan murid mengaji. Rumah tersebut merupakan hasil pertemuan dengan seorang dermawan yang memberinya kebebasan untuk tinggal tanpa biaya sewa. Keikhlasan dan keyakinan pada Tuhan menjadi dasar hidupnya.
Tahun 2013 menjadi momen terberat bagi Sumiati. Suaminya, yang selalu mendukungnya, meninggal dunia secara mendadak saat bekerja. Kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam. Namun, ia tetap bertekad untuk menjadi ibu sekaligus bapak bagi tiga anaknya. Dengan doa dan usaha, ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya dan terus mengajar ngaji.
Anak-anak Sumiati kini telah menempuh pendidikan masing-masing. Anak pertama, Mufarrohattul Muttaqien, sudah menikah dan memiliki dua anak. Anak kedua, Mas’ud Bi’adillah, sedang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Sedangkan anak ketiganya, Maulidatus Sya’adah, masih duduk di Sekolah Dasar.
Selama 30 tahun mengajar, Sumiati tidak pernah mematok biaya. Ia mengajarkan dengan ikhlas, dan hanya menerima sedekah dari orang tua murid. Namun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya, ia rela bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di kawasan Kadrie Oening. Setelah bekerja, ia kembali mengajar anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya.
Keikhlasan Sumiati tidak hanya terlihat dalam bacaan mengaji para muridnya, tetapi juga dalam pembentukan karakter. Ia menekankan pentingnya etika, salam, sopan santun, serta kasih sayang antar sesama. Baginya, ilmu agama tidak cukup hanya dalam bentuk bacaan, tetapi juga dalam bentuk akhlak yang baik.
Memasuki bulan Ramadan 2026, semangat Sumiati semakin berkobar. Baginya, Ramadan adalah momentum untuk mendekatkan diri dengan kitab suci. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tidak pernah memohon hal-hal materi. Doa sederhananya adalah bisa puasa penuh, khatam Al-Qur’an, dan murid semakin banyak. Ia juga berharap dapat mendapatkan Lailatul Qadar.
Di tengah hiruk pikuk Kota Samarinda, Sumiati membuktikan bahwa cahaya kebaikan tidak perlu panggung megah untuk tetap bersinar. Ia hanya butuh keikhlasan dan keyakinan.



