Kehadiran Teror yang Mengguncang Ruang Demokrasi Mahasiswa
Suasana kampus yang selama ini identik dengan kebebasan berpikir mendadak dibayangi rasa cemas. Dari lingkungan mahasiswa, gelombang kekhawatiran merebak setelah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, mengungkap dugaan adanya teror sistematis yang menyasar dirinya dan puluhan pengurus BEM UGM. Pengakuan itu bukan disampaikan di ruang tertutup. Tiyo membeberkannya secara terbuka dalam Podcast Madilog, tak lama setelah BEM UGM melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah.
Sejak saat itu, perhatian publik pun tertuju pada satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Meski tekanan yang dihadapi terasa nyata dan mengkhawatirkan, Tiyo mengaku belum bisa memastikan siapa aktor di balik rangkaian intimidasi tersebut. Ia menahan diri untuk tidak menunjuk pihak tertentu, sembari menyadari bahwa situasi yang dihadapinya bukan perkara sederhana.
Siapa di Balik Teror? Jawaban yang Menggantung
Ketika pertanyaan soal pelaku teror mengemuka, Tiyo memilih langkah hati-hati. Ia tidak melontarkan tuduhan secara langsung, namun menegaskan bahwa kritik yang selama ini disuarakan BEM UGM memang diarahkan kepada pemerintah. “Bahwa kritik kita menimbulkan ketersinggungan, iya. Tapi apakah yang tersinggung itu yang mengirimkan teror?” tanyanya.
Pernyataan tersebut seketika membuka ruang spekulasi di tengah publik. Apakah kritik mahasiswa memiliki korelasi dengan munculnya dugaan teror? Atau ada kepentingan lain yang bermain di balik layar?
“Alarm bagi Demokrasi”
Bagi Tiyo, rangkaian ancaman yang diterimanya tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata. Ia melihatnya sebagai pertanda serius bagi kesehatan demokrasi di Indonesia. “Ini jadi alarm bagi demokrasi kita. Ketika ada orang yang berangkat dari kepeduliannya dengan bangsa… tapi justru malah mendapatkan ancaman, penculikan, bahkan pembunuhan,” katanya.
Nada pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran mendalam. Isu ini, menurutnya, jauh melampaui sosok Ketua BEM UGM. Yang dipertaruhkan adalah ruang aman bagi warga negara terutama mahasiswa untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.
Teror Tak Hanya Menyasar Tiyo
Tekanan yang dirasakan Tiyo ternyata tidak berhenti pada dirinya. Ia mengungkap bahwa teror juga menjalar hingga ke lingkaran terdekatnya: keluarga serta hampir 30 pengurus BEM UGM. “Orang tua kami, hampir 30 pengurus BEM UGM, semuanya mendapatkan teror,” tegasnya.
Pengakuan ini memperlihatkan dugaan pola intimidasi yang lebih luas dan terstruktur. Namun di tengah situasi mencekam itu, Tiyo memastikan satu hal: perlawanan tidak akan surut. “Seluruh teror itu tidak akan membuat BEM UGM gentar. Semakin ditekan justru kami semakin melawan,” ucap Tiyo.
Tidak Sendiri Menghadapi Tekanan
Di tengah bayang-bayang ancaman, BEM UGM disebut tidak berjalan sendirian. Sejumlah lembaga telah menyatakan dukungan dan memberikan pendampingan, mulai dari Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, pihak kampus Universitas Gadjah Mada, LPSK, hingga LBH. Pendampingan tersebut diharapkan mampu memberi perlindungan sekaligus mengawal setiap proses yang tengah berjalan, agar kasus ini tidak tenggelam tanpa kejelasan.
Jejak Teror: Nomor Asing dan Tuduhan Serius
Tiyo membeberkan bahwa intimidasi mulai terasa sejak 9 Februari. Salah satu bentuknya adalah pesan singkat dari nomor tak dikenal dengan kode internasional. “Kami menerima pesan dari nomor-nomor tidak dikenal. Kontaknya bukan +62, tetapi +44, justru Inggris Raya,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, teror juga menyasar orang tua para pengurus BEM UGM dengan pesan bernada tuduhan berat. “Pesan bahwa Ketua BEM UGM kalian itu nyolong uang,” katanya. Tiyo dengan tegas membantah tudingan tersebut. Ia menilai pesan itu sebagai upaya pembunuhan karakter yang sengaja dirancang untuk menjatuhkan kredibilitas.
Isu Paling Mencekam: Ancaman Pembunuhan
Dari seluruh rangkaian intimidasi, satu informasi menjadi yang paling mengkhawatirkan. Tiyo mengaku menerima pesan dari seseorang anonim yang mengaku sebagai dosen di Bandung. “Ada seseorang anonim mengaku dosen… mendapatkan bocoran informasi bahwa ada operasi intelijen yang targetnya adalah untuk membunuh Ketua BEM UGM,” ujar Tiyo.
Meski identitas pengirim tak bisa dilacak dan kebenarannya belum dapat diverifikasi, Tiyo menilai pesan tersebut tetap merupakan bentuk teror psikologis yang serius dan tidak bisa diabaikan.
Sikap BEM UGM: Kritik Tak Akan Padam
Hingga kini, sikap BEM UGM tetap teguh. Organisasi mahasiswa tersebut menegaskan tidak akan mengubah arah perjuangan mereka. Kritik terhadap kebijakan pemerintah akan terus disuarakan, dengan atau tanpa tekanan. Di tengah ancaman dan intimidasi, satu pilihan diambil dengan sadar: tetap bersuara, demi menjaga nalar kritis dan demokrasi.



