Kenaikan Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Menghimpit Kelas Menengah
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi yang terjadi secara bersamaan telah menjadi keluhan bagi warga kelas menengah. Mereka merasa terjepit karena tidak mendapatkan subsidi, meskipun mampu namun juga bukan berarti kaya. Hal ini membuat posisi mereka semakin sulit dalam mengatur pengeluaran.
Harga Bright Gas 12 kg melonjak drastis menjadi Rp 228.000 per tabung. Dampaknya, banyak warga mulai mempertimbangkan untuk beralih ke gas 5,5 kg atau 3 kg. Namun, ketersediaan gas subsidi di beberapa wilayah masih terbatas, sehingga membuat warga kesulitan.
Pemerintah pastikan bahwa harga gas 3 kg tetap stabil, sementara LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar. Meski begitu, kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok lainnya semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat.
Keluhan Warga Terhadap Kenaikan Harga
Lydia (34), warga di kawasan Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek), mengaku terkejut saat mengetahui harga gas 12 kg kembali naik. Ia menilai, meskipun elpiji 12 kg ditujukan bagi masyarakat mampu, kenyataannya banyak pengguna berasal dari kalangan menengah.
“Yang pakai 12 kg sih mampu, tapi bukan crazy rich. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi ya kita juga kaget pas naik,” ucap Lydia saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026).
Lydia menuturkan, kenaikan harga semakin terasa karena sebelumnya warga di lingkungannya telah beralih ke Bright Gas (tabung merah) yang harganya relatif lebih mahal dibandingkan elpiji subsidi 3 kg.
“Emang dari komplek itu serentak dipasangin yang merah (bright gas). Itu aja udah mahal dari yang biru. Kemaren beli Rp 200.000, mau nambah berapa lagi,” lanjut Lydia.
Ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk kembali menggunakan elpiji 3 kg. Namun, ketersediaan gas subsidi di tempat tinggalnya di Cikarang terbatas.
“Mau banget sih balik ke 3 kg. Tapi di tempat tinggal saya di Cikarang susah dapetinnya. Di satu sisi paham lah lagi krisis, tapi jangan nyusahin rakyat juga,” katanya.
Masalah Ekonomi yang Semakin Berat
Menurut Lydia, kondisi ini membuat masyarakat serba salah dalam mengatur pengeluaran. Bahkan, biaya kebutuhan sehari-hari lainnya juga ikut terdampak.
“Mau berhenti beli gas, jadinya beli makan aja. Eh tapi plastiknya mahal, kanan kiri kena deh,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Ismail Alburji (40). Ia mengatakan kenaikan harga gas 12 kg cukup membebani pengeluaran rumah tangganya.
“Kalau naik sedikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau terus-terusan naik ya berat juga. Pengeluaran bulanan jadi semakin besar,” kata Ismail.
Menurut dia, sebagai bagian dari kelas menengah, ia tidak bisa beralih ke gas subsidi karena keterbatasan distribusi dan aturan yang berlaku.
“Kita ini di tengah-tengah. Tidak pakai subsidi, tapi jangan naikin harga terus-terusan,” katanya.
Kenaikan Harga Energi dan Dampaknya
Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat, mengatakan bahwa kenaikan harga gas semakin memberatkan karena terjadi bersamaan dengan melambungnya harga BBM dan sembako.
“Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp 40.000 kan, berasa juga kenaikannya,” kata Michael, Minggu (19/4/2026).
Michael menilai kenaikan harga gas semakin memberatkan karena terjadi bersamaan dengan melambungnya harga BBM dan sembako.
Ia meyakini, kenaikan harga energi akan diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan lain di pasaran.
Meski baru sekitar satu tahun menggunakan elpiji nonsubsidi, Michael mengaku sudah memperkirakan kenaikan tersebut, seiring eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
“Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul,” ucap Michael.
Perlu Solusi dari Pemerintah
Keluhan serupa disampaikan Pudji (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari 30 tahun. Ia mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi yang dirasanya semakin berat.
Menurut Pudji, kenaikan harga gas terasa semakin membebani karena terjadi bersamaan dengan kenaikan berbagai komoditas lain, termasuk BBM dan bahan dapur.
“Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan lah gitu,” ucap Pudji.
Ia berharap pemerintah dapat mengendalikan harga kebutuhan dasar di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
“Ya semoga bisa terkendali lagi lah, enggak naik-naik terus biar enggak semakin menyusahkan, namanya juga ekonomi saat ini semuanya lagi susah,” ujarnya.
Alternatif Beralih ke Gas 5,5 kg
Terhimpit kondisi ekonomi yang semakin mahal, Michael mulai mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi 3 kg yang sempat ia tinggalkan setahun lalu.
Sebelumnya, ia beralih ke gas 12 kg karena kerap kesulitan mendapatkan gas melon yang langka dan distribusinya dinilai belum optimal.
“Karena punya juga tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau subsidi kan sering kosong, jadi mau enggak mau tetap pakai yang 12 kg. Kalau ganti ke 5,5 kg harus beli tabungnya lumayan, jadi kalau hitung-hitungan, masih efisien yang 12 kg,” tuturnya.
Senada, Pudji mengaku harus memutar otak untuk mencari alternatif lain. Ia kini mempertimbangkan beralih ke gas elpiji 5,5 kg agar pengeluaran rutinnya tidak terus membengkak.
“Mau enggak mau harus cari alternatif yang lebih meringankan. Bisa jadi (pindah ke gas 5,5 kg). Yang jelas sih ya harus dihemat-hemat gasnya,” tuturnya.
Harga Elpiji Nonsubsidi Naik
Berdasarkan laman resmi Pertamina Patra Niaga yang dikutip Minggu (19/4/2026), harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kg di tingkat agen distribusi untuk wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp 228.000 per tabung.
Harga tersebut naik cukup signifikan dari sebelumnya sekitar Rp 192.000 per tabung. Sementara itu, di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga elpiji nonsubsidi bahkan mencapai sekitar Rp 230.000 per tabung.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan elpiji nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat mampu.
“Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Menurut dia, negara hadir untuk seluruh rakyat, tetapi bantuan energi diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu.
“Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok,” ucapnya.
Ia memastikan harga LPG 3 kg bersubsidi tidak mengalami kenaikan di tengah gejolak global, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan,” kata Bahlil.
Namun, ia menegaskan harga LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga dapat mengalami penyesuaian.
Bahlil juga mengingatkan masyarakat berpenghasilan tinggi agar tidak menggunakan LPG subsidi 3 kg.



