Perjalanan Karier Nicke Widyawati di Sektor Energi
Nicke Widyawati kembali menjadi perhatian publik setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti dugaan kasus korupsi pengadaan Liquefied Natural Gas (LNG) di PT Pertamina (Persero). Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai Direktur Utama, rekam jejak karier Nicke dan keterkaitannya sebagai saksi dalam perkara hukum membuat publik semakin memperhatikannya.
Nicke lahir di Tasikmalaya pada 25 Desember 1967. Ia menamatkan pendidikan Sarjana Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1991, lalu melanjutkan Magister Hukum Bisnis di Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 2009.
Karier Panjang di Sektor Energi dan BUMN
Sebelum memimpin Pertamina, Nicke lebih dulu menghabiskan lebih dari dua dekade kariernya di sektor energi dan BUMN. Ia sempat menjabat Direktur Bisnis serta Vice President Corporate Strategy Unit di PT Rekayasa Industri. Langkah kariernya berlanjut ke PT Mega Eltra, anak usaha BUMN, dengan posisi Direktur Utama.
Dari sana, Nicke masuk ke PT PLN (Persero) dan dipercaya mengisi posisi strategis sebagai Direktur Pengadaan Strategis I serta Direktur Perencanaan Korporat selama kurang lebih tiga tahun. Di Pertamina, Nicke awalnya menjabat Direktur Sumber Daya Manusia. Pada April 2018, ia ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama, sebelum akhirnya resmi menjabat Dirut Pertamina pada Agustus 2018.
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) kembali mempercayainya untuk periode kedua pada Oktober 2022. Masa jabatannya berakhir pada 4 November 2024. Selain itu, Nicke juga tercatat sebagai Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Panas Bumi Indonesia untuk periode 2023–2026.
Pengakuan di Tingkat Internasional
Selama memimpin Pertamina, Nicke memperoleh sejumlah pengakuan internasional. Namanya masuk dalam daftar Fortune’s Most Powerful Women selama empat tahun berturut-turut, dari 2020 hingga 2023. Penghargaan tersebut menempatkannya sebagai salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh di dunia sektor energi.
Usai purna tugas, Nicke kembali muncul dalam pemberitaan terkait penyidikan dugaan korupsi pengadaan LNG di Pertamina. Kasus ini mencuat setelah mantan Direktur Gas Pertamina periode 2012–2014, Hari Karyuliarto, menyebut nama Nicke dan mantan Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam persidangan.
Kuasa hukum Hari Karyuliarto menyatakan bahwa pihak-pihak terkait “harus bertanggung jawab” atas kerugian negara yang diperkirakan mencapai puluhan juta dolar AS.
Penyidikan oleh KPK dan Kejaksaan Agung
Menanggapi hal tersebut, KPK menyatakan akan menindaklanjuti keterangan yang muncul di persidangan. Nicke pun telah beberapa kali dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi. “Pemeriksaan dilakukan untuk mendalami proses pengadaan LNG di lingkungan Pertamina,” seperti dikutip dari detiknews terkait pemeriksaan KPK pada Januari 2025.
Selain kasus LNG, Nicke juga diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi jual beli gas antara PT PGN dan PT Inti Alasindo Energi pada Maret 2025. Pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung juga pernah dilakukan dalam konteks dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di Pertamina dan subholdingnya.
Hingga saat ini, Nicke Widyawati belum ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus-kasus tersebut. Seluruh pemeriksaan yang dijalani masih berstatus sebagai saksi.
Kehidupan Pasca-Jabatan Nicke Widyawati
Nicke Widyawati mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Pertamina dalam dua periode dengan reputasi internasional yang kuat. Namun, perjalanan pasca-jabatan membawanya ke pusaran penyidikan hukum yang masih berjalan. Publik kini menanti kejelasan proses hukum, seiring komitmen aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan korupsi di sektor energi nasional.



