Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat tahun 2025 menunjukkan angka yang mengungguli ekspektasi para analis. Meskipun capaian pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 tidak mencapai target pemerintah, data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tercatat paling rendah sejak krisis 1998.
Namun, hanya beberapa jam setelah pengumuman BPS, lembaga pemeringkat utang Moody’s mengubah outlook surat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski peringkatnya tetap di level Baa2, alasan penurunan outlook ini bukan karena data BPS terbaru, melainkan karena evaluasi atas kebijakan pemerintah dan kondisi fiskal. Moody’s menyampaikan kekhawatiran terhadap ketidakpastian dalam kebijakan pemerintah, serta risiko utang yang berasal dari ketergantungan pada belanja pemerintah dan basis penerimaan negara yang lemah. Selain itu, ketidakjelasan tata kelola Danantara dan arah kebijakan fiskal juga dinilai berpotensi menekan kepercayaan investor.
Peringatan serupa datang dari S&P Global Ratings, yang mempertahankan outlook utang Indonesia stabil namun memperingatkan bahwa peringkat bisa turun jika kondisi fiskal semakin memburuk. Dalam laporan tersebut, kinerja fiskal Indonesia menjadi catatan penting bagi kedua lembaga rating tersebut. Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN 2025 mencapai Rp 695,1 triliun atau 2,92% dari PDB, mendekati ambang batas aman 3% terhadap PDB yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Statistik Terlihat Solid: Konsumsi Terdongkrak
Kinerja 2025 menunjukkan bagaimana kerja dari setahun penuh pemerintahan Prabowo-Gibran. Tiga data BPS, yakni pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran, dan tingkat kemiskinan menunjukkan kondisi perbaikan. Salah satu yang menarik dari data pertumbuhan ekonomi BPS adalah tren konsumsi rumah tangga yang meningkat dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini membuat kinerja ekonomi kuartal keempat mencatatkan pertumbuhan secara tahunan paling tinggi pada tahun lalu, yakni mencapai 5,39%.
Konsumsi rumah tangga dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) memberikan kontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan terakhir tahun lalu. Konsumsi tumbuh 5,11% secara tahunan, sedangkan PMTB tumbuh 6,12%. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengaku tidak terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS kemarin. Data yang dimiliki BCA menunjukkan belanja konsumen di pengujung tahun lalu sangat kuat, baik pada kelompok masyarakat berpendapatan bawah maupun atas.
Masyarakat berpendapatan bawah terbantu bansos, sedangkan kelompok atas itu karena hasil investasi sedang bagus. Obligasi dan pasar saham sedang bagus sehingga mereka merasa kaya dan belanja lebih besar. Kinerja ekspor, menurut dia, juga tinggi karena banyak para pengusaha yang mengantisipasi kebijakan tarif Amerika Serikat. Namun, kinerja ini diperkirakan akan melemah pada kuartal pertama tahun ini.
Sebuah Anomali: Tingkat Pengangguran Turun di Tengah Ramai PHK
Data BPS juga menunjukkan dampak kinerja pertumbuhan ekonomi tahun lalu berdampak positif pada tingkat pengangguran. Jumlah orang menganggur di Indonesia pada November 2025 turun dari 7,47 juta orang pada Agustus 2024 menjadi 7,35 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada November 2025 turun menjadi 4,74%. Berdasarkan catatan Indonesiadiscover.com.co.id, ini adalah angka terendah satu dekade terakhir, bahkan sejak krisis 1998.
Ketimpangan Realitas di Balik Penurunan Kemiskinan
Secara statistik, angka kemiskinan juga menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin pada September 2025 turun menjadi 23,36 juta orang atau 8,25% dari total penduduk. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir, bahkan sejak krisis 1998 berdasarkan catatan Indonesiadiscover.com.co.id.
Ambisi Tumbuh 6%: Program Andalan vs Tantangan Modal Asing
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beberapa kali meyakini ekonomi Indonesia mampu tumbuh 6% pada tahun ini. Salah satunya berkat program unggulan, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, dorongan dari dalam negeri dinilai belum cukup untuk membawa ekonomi menembus 6%. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan stimulus fiskal dan pelonggaran moneter memiliki batas. “Program MBG memang bagus untuk ekonomi, tetapi untuk tumbuh di atas 5,5% agak susah kalau hanya mengandalkan kebijakan moneter dan fiskal. Hanya aliran modal asing yang bisa mendorong ekonomi tumbuh 6%, kecuali ada booming komoditas,” ujarnya.



