Kebahagiaan di Lapangan Sepak Bola Desa Renah Alai
Di tengah suasana Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah, lapangan sepak bola Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, menjadi tempat yang penuh dengan kegembiraan. Debu tanah beterbangan, namun sorak sorai dan tawa warga mengisi udara. Di sini, para ibu-ibu berlomba memacu motor matic di lintasan sederhana yang dibuat di dalam lapangan.
Para peserta, baik yang berdaster maupun bercelana panjang, menunjukkan semangat luar biasa. Mereka adu cepat seperti pebalap profesional, meski tidak memiliki pengalaman balap sebelumnya. Dalam video tersebut, terlihat beberapa ibu-ibu melakukan cornering dengan leg out atau satu kaki turun ala pebalap grasstrack. Ada juga yang melakukan kneedown, tetapi tidak ada yang melakukan wheelie.
Suasana semakin meriah dengan sorakan dari warga, keluarga, dan anak-anak yang memberi dukungan. Tidak ada wajah tegang seperti di arena balap profesional. Yang terlihat justru senyum lepas dan tawa renyah. Para peserta tampak antusias, meskipun sebagian dari mereka lebih akrab dengan jalan kebun daripada lintasan balap.
Inisiatif Karang Taruna
Kepala Desa Renah Alai, Hasan Basri, menjelaskan bahwa turnamen balap motor matic ini merupakan inisiatif pemuda Karang Taruna untuk memeriahkan suasana Lebaran di desa. “Benar, itu kegiatan Karang Taruna dalam rangka memeriahkan Idulfitri 1447 H,” ujarnya.
Pemerintah desa mendukung kegiatan ini agar warga tidak berkendara jauh ke luar desa dan menghindari kecelakaan. “Kami dari pemerintah desa mendukung, supaya warga tidak berkendara jauh ke luar desa dan menghindari kecelakaan,” tambahnya.
Dari Laki-laki ke Perempuan
Awalnya, lomba balap motor ini dirancang untuk peserta laki-laki. Namun, antusiasme justru datang dari kalangan ibu-ibu. Tergiur hadiah dan ingin mencoba sensasi berbeda, mereka pun ikut mendaftar. “Awalnya untuk laki-laki, tapi ibu-ibu malah ikut. Ternyata yang paling meriah justru emak-emak,” kata Hasan Basri sambil tertawa.
Banyak dari mereka biasa naik motor ke kebun, jadi merasa tertantang. Turnamen itu digelar selama empat hari, mulai Sabtu hingga Selasa, bertepatan dengan suasana libur Idulfitri. Setiap peserta hanya perlu membayar uang pendaftaran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Pemenang langsung mendapatkan hadiah di setiap putaran lomba.
Lebih dari Sekadar Balapan
Lebih dari sekadar balapan, kegiatan ini menjadi ruang hiburan sekaligus perekat kebersamaan warga. Di tengah meningkatnya arus wisata ke kawasan Jangkat saat Lebaran, pemerintah desa sengaja menghadirkan kegiatan lokal agar warga tak perlu bepergian jauh.
“Daripada warga ‘round’ ke luar desa, jalanan ramai dan rawan macet, lebih baik kita buat kegiatan di desa sendiri,” jelas Hasan Basri. “Yang penting warga senang, aman, dan kebersamaan tetap terjaga.”
Menurut Hasan Basri, di Desa Renah Alai, Idulfitri tahun ini bukan hanya tentang silaturahmi dan hidangan khas Lebaran. Ini tentang keberanian ibu-ibu menarik gas motor, tawa yang lepas, dan kebahagiaan sederhana yang lahir dari kebersamaan.



