Google Menjelaskan Perannya dalam Pengadaan Chromebook di Indonesia
Google memberikan penjelasan terkait dugaan keterlibatan perusahaan dalam kasus korupsi pengadaan Chromebook yang dikaitkan dengan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Dalam pernyataan resmi mereka, Google menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah menjual perangkat Chromebook kepada pemerintah Indonesia.
Tak pernah jual Chromebook, hanya beri lisensi
Google menekankan bahwa Chromebook tidak diproduksi atau dijual langsung oleh perusahaan kepada pelanggan akhir, termasuk pemerintah. Proses pengadaan perangkat sepenuhnya dilakukan oleh produsen perangkat asli (Original Equipment Manufacturers/OEM) independen serta mitra lokal di Indonesia.
“Peran kami terbatas pada pengembangan dan pemberian lisensi sistem operasi ChromeOS serta Chrome Education Upgrade (CEU), sebelumnya dikenal sebagai Chrome Device Management,” tulis Google dalam keterangannya.
CEU disebut sebagai sistem pengelolaan dan keamanan perangkat yang memungkinkan sekolah dan kementerian mengatur penggunaan Chromebook secara terpusat, menyaring konten, hingga mengunci perangkat jika hilang. Google menyatakan sistem ini dirancang untuk melindungi aset publik dan memastikan investasi pendidikan bermanfaat dalam jangka panjang.
Google juga menyebut Chromebook telah digunakan secara luas oleh jutaan siswa dan pendidik di lebih dari 80.000 sekolah di Indonesia, termasuk di wilayah terpencil. Perangkat tersebut diklaim tetap dapat digunakan secara offline untuk membuat dokumen dan mengelola file meski tanpa koneksi internet.
Bantah beri imbalan ke pejabat

Google juga membantah adanya konflik kepentingan terkait hubungan investasinya dengan Nadiem Makarim. Perusahaan menegaskan investasi terhadap entitas yang terkait dengan Gojek dilakukan pada periode 2017–2021, sebagian besar jauh sebelum Nadiem ditunjuk sebagai Mendikbud Ristek.
“Investasi tersebut tidak memiliki hubungan apa pun dengan kerja sama kami dengan Kementerian Pendidikan maupun penggunaan produk Google di sektor pendidikan,” tulis Google dalam pernyataan mereka.
Google menegaskan tidak pernah menawarkan, menjanjikan, atau memberikan imbalan kepada pejabat Kementerian Pendidikan sebagai balasan atas keputusan penggunaan produk Google. Menurut Google, seluruh proses pengadaan berada di bawah kendali kementerian dan dilakukan secara kompetitif melalui pemasok lokal.
Komitmen jangka panjang di pendidikan Indonesia

Dalam klarifikasinya, Google juga menekankan komitmen jangka panjangnya terhadap pengembangan pendidikan dan transformasi digital di Indonesia yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade.
Perusahaan menyoroti sejumlah program, termasuk Bangkit yang dimulai pada 2019 dan telah melatih lebih dari 25.000 mahasiswa Indonesia dalam keterampilan teknologi. Selain itu, Google menyebut telah hampir 15 tahun mendukung peningkatan kapasitas digital masyarakat, UMKM, pencari kerja, serta guru.
Dalam beberapa tahun terakhir, Google mengklaim telah melatih lebih dari 290.000 guru di berbagai provinsi melalui program Gemini Academy terkait kecerdasan buatan generatif. Sebanyak lebih dari 58.000 guru disebut telah lulus program internasional Gemini Certified Educator, jumlah tertinggi dibandingkan negara lain.
“Komitmen kami terhadap Indonesia telah dimulai jauh sebelum kepemimpinan saat ini maupun keputusan pembelian tertentu,” tulis Google.
Google menegaskan akan terus mendukung transformasi digital Indonesia dengan menjunjung tinggi prinsip transparansi dan integritas, seraya menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan.



