Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Wednesday, 21 October 2026
Trending
  • Kisah Penangkapan Widi Prasetijono, Eks Ajudan Jokowi yang Jadi Terdakwa Kasus Lahan
  • Jejak Tegas Brigjen Ade Safri: Dari Jerat Firli Hingga Pucuk Pimpinan Dirtipideksus
  • Strategi PM Lawrence Wong Lindungi Pekerja Singapura dari Gelombang PHK AI
  • Harga komputer makin mahal, pengiriman PC dunia anjlok 20 persen
  • Apakah mobil hybrid perlu di cas? Ini jawaban dan fakta lengkapnya!
  • Prediksi skor LASK Linz vs Liverpool: The Reds siap pesta gol di Raiffeisen Arena!
  • Duel argumen: Ahmad Doli Kurnia dan Hasyim Asy’ari terkait pasal selundupan PKPU
  • Kronologi Lengkap Penyerangan Bus Persib U-18 di Batang
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»Film Sunghai angkat misteri prasasti Kamulan, sineas Trenggalek bikin kisah lebih memikat
Daerah

Film Sunghai angkat misteri prasasti Kamulan, sineas Trenggalek bikin kisah lebih memikat

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover10 July 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Ringkasan Berita:

  • Sineas Trenggalek Yanu Andi memproduksi film dokumenter ‘Sunghai’ yang mengangkat nilai sejarah Prasasti Kamulan, penanda Hari Jadi Trenggalek. 
  • Produksi film difasilitasi Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, dengan proses riset melibatkan budayawan, sejarawan, dan arkeolog. 
  • Yanu berharap film menjadi media edukasi sejarah dan pelestarian budaya agar lebih mudah dipahami generasi muda melalui medium audiovisual.

 

Indonesiadiscover.comTRENGGALEK– Geliat perfilman terus berkembang di Trenggalek. Sineas muda Yanu Andi kembali menelurkan karyanya ‘Sunghai’ dengan mengambil objek Prasasti Kamulan.

Dimana Prasasti Kamulan menjadi dokumen otentik dalam penanggalan Hari Jadi Trenggalek tahun 1116 Saka, bertepatan tanggal 31 Agustus 1194 Masehi.

Sutradara dan Produser Film Dokumenter ‘Sunghai’, Yanu Andi mengungkapkan produksi film ini bermula dari fasilitasi yang diberikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.

Yaitu mulai dari tahapan produksi, riset, hingga diseminasi berupa pemutaran film dan diskusi.

Yanu mengaku, keputusannya memilih Prasasti Kamulan didorong oleh rasa penasaran pribadinya.

Karena sebagai putra daerah, ketika melihat peninggalan sejarah ini di depan pendopo kabupaten seperti hanyalah benda mati.

“Saya melihat di depan pendopo ada batu. Saya penasaran, apakah benda tersebut hanya seonggok batu, dalam tanda kutip. Ternyata setelah ditelusuri, isinya sangat menarik dan menjadi legitimasi Hari Jadi Trenggalek,” ujar Yanu saat ditemui di acara diseminasi film, Gedung Bhawarasa, Senin (6/7/2026).

Berangkat dari rasa penasaran itulah, Yanu berkomitmen untuk mengemas nilai sejarah benda mati tersebut, ke dalam bentuk audio visual agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Menurut Yanu, penyampaian pesan sejarah kini tidak boleh hanya mengandalkan kunjungan fisik masyarakat untuk melihat batu prasasti secara langsung.

Media Pendidikan Serta Sosialisasi Mengenai Cagar Budaya 

Pria yang pernah menyabet Film Dokumenter Terbaik dalam Anugerah Piala Citra ke-43 Festival Film Indonesia (FFI) 2023 silam bersama timnya ini mengaku dalam membaca prasasti juga diperlukan medium lain yang lebih kreatif, seperti film maupun animasi.

“Peradaban atau nilai-nilai yang ada di Prasasti Kamulan ini bisa dikenal lebih luas. Salah satu cara pengarsipan nilai dari sebuah prasasti adalah melalui audio visual, termasuk film dokumenter,” imbuhnya.

Ia berharap, film ‘Sunghai’ dapat disebarluaskan secara masif guna menjadi media pendidikan serta sosialisasi mengenai cagar budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) bagi generasi muda.

Saat disinggung mengenai proses pembuatan, Yanu membeberkan bahwa tahapan yang paling memakan waktu adalah proses riset.

Yanu melibatkan berbagai pihak, mulai dari pelaku budaya, pegiat sejarah, hingga ahli arkeologi untuk melakukan pembacaan prasasti dan mengumpulkan testimoni masyarakat setempat.

Sebab, ia menyadari memproduksi film dokumenter bertema sejarah atau kronologis peradaban memiliki risiko yang sangat tinggi jika dikerjakan secara terburu-buru.

“Saya membuat film ini juga ditunjukkan ke ahli untuk memastikan kebenarannya. Makanya, kami memakai sudut pandang masyarakat umum terlebih dahulu, bagaimana cerita-cerita di ingatan mereka tentang Kamulan masa lalu beserta temuan-temuan di sana,” paparnya.

Dikatakannya, berbeda dengan risetnya yang panjang, proses pengambilan gambar atau syuting tergolong singkat, yakni hanya memakan waktu satu minggu.

Menariknya, selama proses syuting tim produksi menemukan beberapa temuan arkeologis secara spontan di lapangan.

Yanu menambahkan, ada temuan-temuan secara spontan, misalnya penemuan cobong atau benda lainnya di situs tersebut. Hal ini menjadi kejutan yang menarik di meja penyuntingan (editing). 

“Tugas saya sebagai produser dan sutradara adalah menjahit potongan-potongan teka-teki (puzzle) itu menjadi sebuah sajian film dokumenter yang utuh,” jelasnya.

Terkait adanya isu-isu mistis atau hal ganjil yang kerap menyelimuti situs bersejarah, Yanu menanggapi hal tersebut dengan bijak. 

Cerita Misteri Dari Penuturan Warga Setempat

Ia tidak menampik adanya cerita-cerita misteri dari penuturan warga setempat.

Namun, alih-alih berfokus pada hal mistis, Yanu memilih merespons fenomena tersebut sebagai konten kebudayaan yang bernilai tinggi.

Menurut Yanu, masyarakat lokal mempercayai wilayahnya, hingga mitos-mitos yang berkembang. Justru itulah yang menarik karena memperlihatkan bagaimana cara masyarakat menjaga wilayahnya.

“Kepercayaan lokal itu akhirnya menjadi sebuah nilai yang autentik dari masyarakat,” tegasnya.

Mengenai rencana distribusi film ke depan, Yanu mengaku belum memikirkan langkah komersial atau penyebaran lebih jauh.

Fokus utamanya saat ini adalah melakukan koordinasi dan diskusi mendalam dengan Balai Pelestarian Kebudayaan selaku penyedia dana (funding) utama film dokumenter ini. (Madchan Jazuli)

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kisah Penangkapan Widi Prasetijono, Eks Ajudan Jokowi yang Jadi Terdakwa Kasus Lahan

18 October 2026

Jejak Tegas Brigjen Ade Safri: Dari Jerat Firli Hingga Pucuk Pimpinan Dirtipideksus

18 October 2026

Strategi PM Lawrence Wong Lindungi Pekerja Singapura dari Gelombang PHK AI

18 October 2026

Harga komputer makin mahal, pengiriman PC dunia anjlok 20 persen

18 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?