Indonesia memiliki potensi besar dalam menarik investasi, namun beberapa faktor memengaruhi laju penyerapan tenaga kerja dari realisasi investasi. Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, perlambatan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pada 2025 tidak hanya disebabkan oleh meningkatnya biaya investasi, tetapi juga oleh komposisi sektor dan fase proyek yang berjalan.
Pada tahun 2025, jumlah tenaga kerja yang terserap dari realisasi investasi mencapai 2,71 juta orang, dengan pertumbuhan sebesar 10,4% secara tahunan. Meskipun angka ini menunjukkan kenaikan, laju pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan capaian tahun sebelumnya, yaitu 34,7% pada 2024. Penurunan ini mengindikasikan adanya perubahan dalam kualitas investasi yang dilakukan.
Josua menjelaskan bahwa struktur investasi pada 2025 didominasi oleh sektor-sektor padat modal seperti industri logam dasar dan pertambangan. Sektor-sektor ini memiliki nilai investasi yang tinggi, tetapi kontribusi tambahan tenaga kerja per rupiah investasi relatif lebih rendah dibandingkan sektor padat karya.
Selain itu, dalam agenda hilirisasi mineral, pemerintah menekankan penggunaan teknologi yang terus diperbarui. Hal ini menyebabkan alokasi belanja proyek lebih besar untuk mesin dan peralatan daripada perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Fase proyek juga turut memengaruhi penyerapan tenaga kerja. Ketika proyek-proyek besar beralih dari tahap konstruksi ke tahap operasi, kebutuhan tenaga kerja biasanya menurun setelah melewati puncak pembangunan.
Menurut Josua, biaya investasi yang meningkat bisa mendorong perusahaan lebih hemat dalam penggunaan tenaga kerja. Namun, faktor utama yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah campuran sektor dan karakter proyek yang masuk pada tahun tersebut.
Menghadapi 2026, peluang investasi masih terbuka lebar meski tantangannya juga signifikan. Dari sisi penanaman modal dalam negeri (PMDN), arah kebijakan dinilai cukup kuat. Pertumbuhan PMDN pada 2025 mencapai 26,6%, dan pemerintah berencana melanjutkan dorongan ini pada 2026.
Dalam hal ini, Danantara diharapkan dapat berkontribusi dengan memperluas investasi di berbagai sektor seperti kesehatan, hilirisasi, dan industri kimia. Kolaborasi antara Danantara dan investor asing juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar.
Sektor perumahan dan kawasan industri dipandang memiliki potensi signifikan untuk berkembang pada 2026. Target realisasi investasi 2026 yang beredar di publik mencapai Rp 2.100 triliun, menandakan adanya upaya pemerintah untuk akselerasi investasi.
Namun, Josua menegaskan bahwa tantangan utama tetap berada pada kepastian dan kecepatan eksekusi. Investor cenderung menghindari ketidakpastian, sehingga pemerintah harus memastikan proses perizinan dan regulasi berjalan efisien.
Selain tantangan domestik, tekanan global seperti ketegangan dagang, tingginya biaya pinjaman, serta ketidakpastian geopolitik juga masih membayangi arus investasi.
Untuk memperkuat penanaman modal asing (PMA), Josua menyarankan kolaborasi yang rapi antara Danantara dan BKPM. Danantara diharapkan menjadi mitra strategis dalam pendalaman kelayakan proyek, sementara BKPM tetap bertanggung jawab atas perizinan dan kepastian regulasi.
Dengan demikian, investor akan merasa memiliki mitra kuat sekaligus kepastian proses, yang akan mendorong pertumbuhan investasi di Indonesia.



