Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 4 Februari 2026
Trending
  • Program MyPertamina: Pertamina Patra Niaga Bagikan 100 Motor untuk Ojol
  • Emiten GPS IOTF Targetkan Pertumbuhan Laba 30% Tahun 2026
  • Beban Berat Mengejar Pertumbuhan 6% di Tengah Tekanan Fiskal, Rupiah, dan Pasar Modal
  • Inflasi Riau Januari 2026 Tembilahan Puncak 4,43%
  • Panduan Cerdas Berinvestasi Emas Digital: 5 Hal Penting yang Harus Diperhatikan
  • Banyak Investor Mencari Emiten Fundamental Setelah Saham Konglomerat Digoyang MSCI
  • Kepala Grup Lippo Mundur, Apa Penyebabnya?
  • Promo minyak goreng Alfamart dan Indomaret 3 Februari 2026: Diskon Rp12.500 untuk Camar, Sania 2L Rp38.300
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Dilema Laporan Dagang RI: Rantai Pasok Didominasi Tiongkok, Untung Besar dengan AS
Ekonomi

Dilema Laporan Dagang RI: Rantai Pasok Didominasi Tiongkok, Untung Besar dengan AS

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesia masih menghadapi ketergantungan yang signifikan dalam perdagangan dengan dua negara besar, yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Meskipun Indonesia menikmati surplus dari perdagangan dengan AS, defisit dagang dengan Tiongkok terus memburuk.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa defisit neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan Tiongkok meningkat hampir dua kali lipat sepanjang Januari—Desember 2025. Angka ini mencapai US$22,17 miliar, naik 94,3% dibandingkan defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$11,41 miliar.

Peningkatan defisit ini disebabkan oleh peningkatan impor barang dari Tiongkok yang mencapai US$86,99 miliar, meningkat tajam dari realisasi 2024 sebesar US$71,63 miliar. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Tiongkok hanya tumbuh moderat dari US$60,22 miliar menjadi US$64,82 miliar.

Secara keseluruhan, Tiongkok menjadi penyumbang defisit terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia pada 2025, dengan angka minus US$20,50 miliar. Diikuti oleh Australia dengan defisit US$5,63 miliar dan Singapura dengan defisit US$5,47 miliar.

Kondisi ini justru berbeda dengan hubungan dagang Indonesia dengan AS. Negeri Paman Sam semakin memperkuat posisinya sebagai mitra dagang utama yang memberikan surplus terbesar bagi Indonesia.

Selama 2025, surplus dagang Indonesia dengan AS meningkat menjadi US$21,12 miliar, naik 23,6% dibandingkan capaian 2024 sebesar US$17,09 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor nonmigas ke AS yang mencapai US$30,96 miliar, sementara impor dari AS relatif stabil di angka US$9,84 miliar.

Data BPS menunjukkan bahwa AS menjadi negara dengan kontribusi terbesar bagi neraca perdagangan total Indonesia pada 2025, dengan nilai US$18,11 miliar. Diikuti oleh India dengan US$13,49 miliar dan Filipina dengan US$8,42 miliar.

Rantai Pasok Didominasi Tiongkok

Ketergantungan Indonesia terhadap barang impor dari Tiongkok semakin dalam. Data BPS menunjukkan bahwa pangsa pasar Tiongkok dalam struktur impor nonmigas Indonesia semakin besar sepanjang 2025, sementara peran mitra dagang tradisional lainnya justru menyusut.

Total nilai impor nonmigas Indonesia dari Tiongkok pada 2025 mencapai US$86,99 miliar, meningkat 21,4% dibandingkan realisasi 2024 sebesar US$71,63 miliar. Peningkatan ini berdampak langsung pada penguasaan pasar. Jika pada 2024 Tiongkok hanya menguasai 36,29% dari total impor nonmigas Indonesia, maka pada 2025 pangsa tersebut meningkat drastis menjadi 41,60%.

Tiga golongan barang utama yang diimpor Indonesia dari Tiongkok antara lain:

Mesin/peralatan mekanis dan bagiannya dengan nilai US$19,74 miliar.

Mesin perangkap elektrik dan bagiannya dengan nilai US$19,05 miliar.

* Kendaraan dan bagiannya dengan nilai US$4,93 miliar.

Sebaliknya, kinerja impor dari mitra dagang utama lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN serta Uni Eropa mengalami penurunan.

Jepang, yang selama ini menjadi pemasok utama mesin dan kendaraan, mencatatkan penurunan nilai impor dari US$14,86 miliar pada 2024 menjadi US$14,42 miliar pada 2025. Pangsa pasar produk Jepang di Indonesia turun dari 7,53% menjadi 6,90%.

Korea Selatan juga mengalami penurunan signifikan, dengan impor dari Negeri Ginseng turun dari US$8,67 miliar pada 2024 menjadi US$7,61 miliar pada 2025. Pangsa pasar produk Korea Selatan turun dari 4,36% menjadi 4,10%.

Impor dari ASEAN juga mengalami penurunan, dari US$34,60 miliar menjadi US$32,46 miliar. Pangsa pasar impor ASEAN di Indonesia turun dari 17,50% menjadi 15,53%.

Sementara itu, impor dari Uni Eropa mengalami penurunan dari US$14,01 miliar menjadi US$12,63 miliar, dengan pangsa pasar turun dari 5,93% menjadi 6,40%.

Meskipun secara keseluruhan total impor nonmigas Indonesia pada 2025 meningkat sebesar 5,11% menjadi US$209,09 miliar, pertumbuhan tersebut hampir sepenuhnya didorong oleh arus barang dari Tiongkok. Hal ini semakin memperlebar ketergantungan rantai pasok nasional terhadap satu negara.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Program MyPertamina: Pertamina Patra Niaga Bagikan 100 Motor untuk Ojol

4 Februari 2026

Beban Berat Mengejar Pertumbuhan 6% di Tengah Tekanan Fiskal, Rupiah, dan Pasar Modal

4 Februari 2026

Inflasi Riau Januari 2026 Tembilahan Puncak 4,43%

4 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Program MyPertamina: Pertamina Patra Niaga Bagikan 100 Motor untuk Ojol

4 Februari 2026

Emiten GPS IOTF Targetkan Pertumbuhan Laba 30% Tahun 2026

4 Februari 2026

Beban Berat Mengejar Pertumbuhan 6% di Tengah Tekanan Fiskal, Rupiah, dan Pasar Modal

4 Februari 2026

Inflasi Riau Januari 2026 Tembilahan Puncak 4,43%

4 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?