Gelombang Demo yang Semakin Masif dan Beragam
Demo yang memprotes kebijakan pemerintah Prabowo-Gibran terus meningkat, bahkan hingga akhir pekan ini. Aksi protes tidak hanya digerakkan oleh para mahasiswa, tetapi juga melibatkan berbagai elemen masyarakat lainnya. Kaum ibu atau emak-emak, ojol, dokter muda hingga kaum difabel turut serta dalam aksi tersebut, baik melalui orasi maupun membawa atribut seperti spanduk, poster, maupun bendera.
Aksi demo ini dilakukan sebagai respons atas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026. Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter, naik Rp3.950 dari harga sebelumnya yang berada di level Rp12.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik Rp4.100, dari sebelumnya Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Namun, kenaikan BBM hanya salah satu dari banyak tuntutan yang disampaikan oleh peserta demo. Penghapusan program Makan Bergizi Gratis (MBG), transparansi dan pemborosan Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) juga menjadi isu utama yang disuarakan.
Ojol Demo di Kantor Pertamina Medan
Ratusan pengemudi ojek online (ojol) menggelar aksi di Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Jalan Yos Sudarso, Kota Medan, Kamis (18/6/2026). Mereka menyampaikan protes terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang dinilai berdampak langsung terhadap pendapatan para pengemudi.
Selain menyoroti kenaikan harga Pertamax, para pengemudi juga mengeluhkan antrean panjang Pertalite yang belakangan kerap terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Medan. Kondisi tersebut dinilai semakin membebani para pengemudi yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan setiap hari.
Harga BBM di Medan per 18 Juni 2026: Pertamax Rp16.650/liter, Pertamax Green Rp17.000/liter, Pertalite tetap Rp10.000/liter, dan Solar subsidi Rp6.800/liter. Harga BBM non-subsidi naik signifikan sejak 10 Juni, meski harga minyak dunia mulai turun.
Dalam aksi tersebut, perwakilan pengemudi diterima langsung oleh Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Romi Bahtiar. Dialog berlangsung untuk mendengarkan aspirasi para pengemudi terkait dampak kenaikan harga BBM terhadap operasional mereka.
Aliansi Perempuan Indonesia Demo di Bundaran HI
Aliansi Perempuan Indonesia menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026). Dalam aksi ini, massa membawa tiga tuntutan utama yang ditujukan langsung kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan sorotan tajam pada penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Orator aksi sekaligus perwakilan Aliansi Perempuan Indonesia, Afifah (26), menegaskan kebijakan ekonomi saat ini sangat menyengsarakan kaum perempuan. “Turunkan harga karena kita tahu bagaimana harga BBM dan juga segala harga yang naik sangat menyusahkan rakyat, utamanya perempuan. Jadi krisis negara itu dibebankan oleh rakyat dan perempuan salah satunya,” ujar Afifah saat ditemui di sela-sela aksi.

Selain soal harga pangan dan BBM, massa menagih janji pemerintah terkait ketersediaan lapangan kerja yang dianggap hanya sekadar omong-omongan. “Janji 19 juta lapangan kerja itu sama sekali tidak terealisasi. Yang ada malahan angka PHK yang semakin meningkat dan informalitas pekerjaan,” katanya. Ia juga menyoroti maraknya praktik pemagangan yang merugikan perempuan muda.
Protes Keras MBG, Sejak Awal Sudah Banyak Kesalahan Fatal
Tuntutan paling keras yang disuarakan massa adalah desakan untuk menghentikan total program Makan Bergizi Gratis (MBG). Afifah menyebut program ini sejak awal sudah mengandung kesalahan fatal, mulai dari tata kelola hingga indikasi korupsi. “Program MBG sejak belum lahir itu sudah kesalahan. Sekarang pun dibarengi oleh korupsi dan tata kelola yang buruk,” tegas Afifah.
Ia secara blak-blakkan menyebut Badan Gizi Nasional saat ini tidak diisi oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. “Kita tahu di Badan Gizi Nasional, elit-elitnya dari wakil ketua sampai juga ketuanya bukan dari ahli gizi, tapi dari kepakaran lainnya. MBG adalah politik bagi-bagi jatah kue untuk mencapai kemenangan dan kepentingan politik dari Prabowo itu sendiri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Aliansi Perempuan Indonesia menilai program MBG telah mengorbankan sektor-sektor vital lainnya melalui pemotongan anggaran nasional. Afifah memaparkan anggaran pendidikan dan kesehatan justru dipangkas demi mendanai program makan gratis yang dinilai bermasalah tersebut. “Anggaran-anggaran lainnya seperti di pendidikan, di kesehatan, dan anggaran-anggaran lainnya itu dipangkas demi MBG yang dikorupsi,” ungkapnya.
Emak-emak Sukses Tembus Blokade Aparat di Bundaran HI
Ketegangan mewarnai aksi long march Aliansi Perempuan Indonesia di pusat ibu kota, Kamis (18/6/2026). Massa aksi yang didominasi kaum ibu berbaju pink dan daster ini berhasil mencatatkan momen dramatis dengan menembus blokade kepolisian di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Keberhasilan massa menembus titik ikonik Jakarta ini menjadi sorotan, mengingat pada aksi mahasiswa Jumat (12/6/2026) lalu, massa gagal total mencapai Bundaran HI karena pengamanan yang sangat ketat. Pantauan jurnalis Tribunnews di lokasi, aparat kepolisian awalnya mencoba meredam pergerakan massa dengan mengalihkan rute mereka melalui jalan-jalan kecil di sekitar Sudirman-Thamrin.

Namun, strategi ini tidak menyurutkan langkah puluhan perempuan yang terus menabuh peralatan dapur mereka. Puncak ketegangan terjadi di Jalan Teluk Betung I. Polisi sempat memasang barikade kuat untuk mengadang massa agar tidak masuk ke area Bundaran HI. Dorong-dorongan hebat pun tak terelakkan. Dalam momentum tersebut, sejumlah Polwan yang bertugas di baris depan barikade sempat terjatuh karena terdesak oleh massa yang merangsek maju.
Dokter Muda Ikut Demo di Semarang
Ratusan kader Pengurus Cabang Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Semarang, Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi, Rabu. Aksi itu bertajuk “Negara Sekarat Penguasa Khianat”. Di bawah kawalan ketat barikade kawat berduri aparat keamanan, kekuatan lintas Komisariat (Komsat) se-Semarang Raya melebur menjadi satu barisan tak berjarak.
Para mahasiswa membawa 8 tuntutan, termasuk restrukturisasi fiskal negara, penolakan militerisme di ruang sipil, serta evaluasi anggaran program populis. Salah satu peserta demo adalah Caraka Adhika, seorang dokter muda yang merupakan mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (koas) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang. Ia mengkritik kebijakan publik pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang kontroversial, terutama terkait TNI/Polri yang menduduki jabatan sipil.

Kaum Difabel Ikut Demo di Surabaya
Di Surabaya, suara kaum disabilitas bergema dalam aksi demonstrasi gabungan mahasiswa di depan Gedung Negara Grahadi, Rabu. Aan, seorang penyandang disabilitas, mengendarai motor roda tiga yang digunakan untuk berjualan kopi keliling, perlahan menembus kerumunan mahasiswa. Ia menilai ketimbang program MBG, masih banyak persoalan mendesak yang membutuhkan perhatian pemerintah, utamanya terkait akses pekerjaan bagi penyandang disabilitas.



