Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru Terpilih
Putra ke-2 Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei, akhirnya terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Ia menggantikan ayahnya yang gugur dalam serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Keputusan ini diambil melalui musyawarah yang digelar oleh Majelis Pakar Iran. Dalam pernyataan resmi mereka, Majelis Ahli Kepemimpinan menyatakan bahwa dengan suara mayoritas mutlak, mereka memperkenalkan Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Majelis Ahli Kepemimpinan menyampaikan salam dan berkah kepada rakyat Iran yang mulia dan merdeka. Mereka juga menyampaikan belasungkawa atas syahidnya pemimpin besar Yang Mulia Ayatullah Imam Khamenei dan para syuhada lainnya, khususnya para komandan kehormatan, angkatan bersenjata yang setia, serta para siswa Sekolah Shajareh Tayyebeh di Kabupaten Minab.
Meskipun negara tengah menghadapi kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi rakyat, termasuk pengeboman kantor Sekretariat Majelis Ahli Kepemimpinan yang menewaskan sejumlah staf serta tim keamanan, Majelis Ahli tetap menjalankan tugas konstitusionalnya. Sesuai dengan peraturan internal, langkah-langkah dan pengaturan yang diperlukan telah dilakukan untuk mengadakan sidang luar biasa guna memperkenalkan pemimpin baru.
Perencanaan dan koordinasi dilakukan secara cermat untuk mengumpulkan para perwakilan Majelis dari seluruh pelosok negeri. Dengan demikian, meskipun Pasal 111 Konstitusi mengatur pembentukan dewan sementara, negara tidak akan mengalami kekosongan kepemimpinan.
Majelis Ahli Kepemimpinan menegaskan penghormatan terhadap posisi tinggi Kepemimpinan Ulama (Wilayat al-Faqih) di era kegaiban Imam Mahdi, serta pentingnya kepemimpinan dalam sistem Republik Islam. Mereka juga mengenang 47 tahun pemerintahan bijaksana yang berlandaskan martabat, kemerdekaan, dan otoritas para Imam Revolusi.
Setelah melalui tinjauan mendalam dan memanfaatkan kapasitas Pasal 108 Konstitusi, dalam sidang luar biasa hari ini, Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran berdasarkan suara bulat para perwakilan Majelis Ahli. Sebagai penutup, Majelis menyampaikan apresiasi kepada dewan sementara sesuai Pasal 111 Konstitusi, serta mengundang seluruh rakyat Iran, khususnya para elit dan intelektual seminari maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan (ba’at) kepada kepemimpinan baru.
Majelis juga menyerukan persatuan di sekitar poros Kepemimpinan, sembari memohon rahmat dan karunia Allah bagi bangsa dan rakyat Iran.
Dukungan dari Garda Revolusi
Garda Revolusi Siap Jalankan Perintah
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mendukung Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam ketiga Iran oleh Majelis Pakar. Sesaat setelah Mojtaba terpilih, IRGC menyatakan mereka sepenuhnya siap untuk mematuhi perintahnya dan melindungi nilai-nilai Revolusi Islam.
IRGC menyatakan pemilihan Pemimpin baru akan membuat kepergian mendiang Ayatollah Seyed Ali Khamenei dapat diterima oleh bangsa Iran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau Sepah-e Pasdaran adalah kekuatan militer dan politik paling dominan di Iran yang didirikan pasca-Revolusi 1979.
Berbeda dengan militer reguler yang fokus pada pertahanan perbatasan, IRGC dibentuk khusus untuk menjaga stabilitas sistem teokrasi dan ideologi revolusi di bawah komando langsung Pemimpin Agung (Supreme Leader). Keberadaannya menciptakan struktur kekuasaan ganda di Iran, di mana IRGC sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar daripada pemerintah pusat dalam menentukan kebijakan strategis negara.
Selain kekuatan senjata, IRGC telah bertransformasi menjadi kekaisaran ekonomi raksasa yang menguasai sektor-sektor krusial mulai dari konstruksi, perminyakan, hingga perbankan. Melalui unit elitnya, Pasukan Quds, IRGC juga menjadi pemain kunci dalam geopolitik Timur Tengah dengan membangun jaringan aliansi bersenjata di berbagai negara.
Komentar Donald Trump
Donald Trump Sesumbar Tak Akan Bertahan Lama
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan lama berkuasa tanpa persetujuan dari Washington. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam konteks strategis, dengan mengatakan bahwa dia tidak ingin Amerika Serikat dipaksa untuk terlibat dalam konflik lain dengan Iran di masa depan.
“Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” kata Trump. Para pejabat Iran menolak komentar tersebut. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan bahwa pemilihan pemimpin negara berikutnya adalah “urusan rakyat Iran semata” dan menolak campur tangan asing.
Trump sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa ia berharap akan terlibat secara pribadi dalam proses seleksi, dan menepis nama Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi yang telah tewas, sebagai “orang yang tidak berpengaruh”.
Siapa Mojtaba Khamenei?
Mojtaba (56) merupakan putra tertua kedua Ali Khemenei. Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif Iran dan mantan Ketua Parlemen. Keduanya dilaporkan menikah pada tahun 2004. Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026, ketika AS dan Israel menyerang Iran.
Mereka dilaporkan memiliki tiga anak bersama, meskipun tidak banyak detail yang tersedia tentang anak-anak tersebut. Khamenei dan dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi. Ia tidak pernah memegang jabatan resmi dan tidak memiliki peran formal dalam rezim tersebut.
Namun, ia diyakini memiliki pengaruh yang cukup besar di balik layar. Ia pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran–Irak. Meskipun banyak pihak sejak lama meyakini bahwa Mojtaba akan menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Khamenei, para ahli memiliki pandangan yang berbeda. Khamenei sendiri dilaporkan tidak memasukkan Mojtaba dalam daftar calon pengganti yang dibuatnya tahun lalu.
Dalam kalangan ulama Muslim Syiah Iran, suksesi ayah ke anak tidak dipandang positif. Mojtaba dikenai sanksi oleh AS pada tahun 2019. Namun, sebuah laporan Bloomberg menemukan bahwa ia masih berhasil membangun kerajaan properti global dan menyalurkan dana, yang dilaporkan mencapai miliaran dolar, ke pasar barat.
Kekayaan bersih Mojtaba yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi beberapa sumber menunjukkan bahwa ia adalah seorang miliarder. Ia dilaporkan mengelola kerajaan investasi yang sangat besar. Kekuatan finansialnya dilaporkan telah mencakup rekening bank Swiss, dan bahkan sebuah properti mewah di Inggris senilai lebih dari $138 juta, menurut laporan publikasi tersebut.
Ben Cowdock, seorang kepala investigasi senior di Transparency International UK, mengkritik investasi Mojtaba di Inggris. “Semakin jelas bahwa mereka yang dekat dengan para pemimpin politik Iran telah berinvestasi besar-besaran di Inggris. Pasar properti kita seharusnya tidak berfungsi sebagai kotak penyimpanan aman bagi kroni-kroni yang membiayai rezim represif.”



