Perubahan Peta Persaingan di Pasar Mobil Listrik Global
Pasar mobil listrik global mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu perusahaan yang berhasil menempati posisi teratas adalah BYD, produsen mobil listrik asal Tiongkok. Dengan peningkatan kinerja distribusi yang luar biasa, BYD berhasil menggeser dominasi Tesla yang selama hampir sepuluh tahun menjadi pemimpin pasar.
Penurunan Kinerja Tesla
Kinerja Tesla pada 2025 tidak stabil dan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Data menunjukkan bahwa pengiriman kendaraan Tesla turun sekitar 8,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan tren negatif selama dua tahun berturut-turut. Pada kuartal keempat 2025, Tesla hanya mampu mengirimkan 418.227 unit kendaraan, turun 15,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah ini juga lebih rendah dari proyeksi analis.
Secara keseluruhan, realisasi tahunan Tesla mencapai sekitar 1,64 juta unit. Penurunan ini memicu pertanyaan tentang kemampuan Tesla untuk tetap menjadi pemain utama di pasar mobil listrik global.
BYD Mengungguli Tesla
Di sisi lain, BYD menunjukkan performa yang lebih stabil dan kuat. Pabrikan Tiongkok ini berhasil mencatatkan pengiriman hampir 2,26 juta unit kendaraan listrik baterai sepanjang 2025. Ini merupakan pertama kalinya BYD unggul secara tahunan atas Tesla.
Ekspansi pasar internasional menjadi salah satu faktor utama keberhasilan BYD. Selama 2025, penjualan BYD di luar China mencapai 1 juta unit, meningkat sekitar 150 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk 2026, BYD menargetkan distribusi hingga 1,6 juta unit di luar Tiongkok, meskipun target tersebut belum sepenuhnya diungkap secara detail.
Selain itu, BYD juga menunjukkan pertumbuhan positif di Eropa. Selama 11 bulan pertama 2025, BYD tercatat mendaftarkan lebih banyak kendaraan daripada Tesla di Jerman dan Inggris, dua pasar mobil listrik terbesar di kawasan tersebut.
Tekanan Persaingan dan Strategi Baru Tesla
Persaingan di pasar mobil listrik semakin ketat dengan munculnya pabrikan-pabrikan baru seperti BYD, Volkswagen, dan BMW. Tekanan ini semakin terasa karena penurunan penjualan Tesla di berbagai negara di Eropa, meski di Norwegia, penjualan Tesla justru melonjak dan mencetak rekor.
Untuk menghadapi tekanan ini, Tesla meluncurkan varian Standard dari Model Y dan Model 3 pada Oktober 2025. Varian ini ditawarkan dengan harga sekitar 5.000 dollar AS lebih rendah dibandingkan model dasar sebelumnya, dengan tujuan menarik konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. Namun, strategi ini belum sepenuhnya mendapat sambutan positif dari investor.
Beberapa pelaku pasar menilai bahwa langkah Tesla ini kurang agresif dan belum mampu menyasar segmen massa secara efektif. Di tengah tekanan pada bisnis otomotif inti, fokus investor justru tertuju pada arah strategis Tesla di bawah kepemimpinan Elon Musk, yang kini memprioritaskan pengembangan kecerdasan buatan, layanan robotaxi, serta robot humanoid.
Prospek Masa Depan Tesla
Analis memproyeksikan bahwa keberhasilan Tesla pada 2026 akan bergantung pada pengembangan teknologi tersebut. Dengan prospek permintaan mobil listrik di Amerika Serikat yang cenderung melandai, Tesla harus segera menyesuaikan diri.
Meskipun pengiriman kendaraan melemah, saham Tesla tetap mencatatkan kenaikan sekitar 11,4 persen sepanjang 2025. Kenaikan ini turut mendongkrak nilai kekayaan Elon Musk.
Dengan dinamika pasar yang terus berubah, industri mobil listrik global kini memasuki fase baru. BYD tampil sebagai pemimpin penjualan, sementara Tesla menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan bisnis otomotif dengan ambisi teknologi jangka panjang.



