Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 20 Maret 2026
Trending
  • Strategi Dana Darurat 2026: Investasi Likuid dengan Bunga Tinggi
  • Bank Besar Kompak Buyback Saham Saat Harga Turun
  • Unduh PP 9/2026, Juknis THR 2026, Potongan Pajak & Cara Hitung THR
  • Lihat Perbandingan Spesifikasi dan Harga Samsung Galaxy S26 Ultra vs Xiaomi 17 Ultra
  • Mengapa Harga Emas Turun Saat Konflik Iran Memanas? Ini Penjelasannya
  • Membaca Kekerasan sebagai Krisis Kemanusiaan
  • Skenario pasokan pangan nasional di tengah ketegangan AS vs Iran
  • Profil Harry Kane, Mesin Gol Inggris yang Mengusung Misi Akhiri Kutukan 60 Tahun di Piala Dunia 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Bank Besar Kompak Buyback Saham Saat Harga Turun
Ekonomi

Bank Besar Kompak Buyback Saham Saat Harga Turun

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover20 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Tindakan Buyback dari Bank-Bank Besar di Indonesia

Beberapa bank besar di Indonesia, yang dikenal sebagai big banks, telah mengambil langkah untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) dalam beberapa waktu terakhir. Langkah ini dilakukan mengingat tekanan harga saham yang terjadi sejak beberapa pekan lalu. Analis menilai bahwa tindakan buyback ini sebagai sinyal positif dari pihak bank yang ingin meningkatkan harga saham.

Bank-bank besar yang melaksanakan buyback antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dalam sepekan terakhir, BCA dan BNI masing-masing mengumumkan akan melakukan buyback melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). BCA akan melakukan buyback senilai Rp 5 triliun, sedangkan BNI akan melakukan buyback senilai Rp 905 miliar.

Di akhir tahun lalu, Bank Mandiri dan BRI juga sudah mulai melakukan buyback secara bertahap dengan masing-masing senilai Rp 1,17 triliun dan Rp 3 triliun. Langkah ini dinilai sebagai pesan kepada para investor bahwa fundamental perusahaan masih kuat meskipun harga saham sedang mengalami penurunan.

Pandangan dari Analis

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut bahwa tindakan buyback ini efektif untuk menaikkan harga saham dalam jangka pendek. Ia menjelaskan bahwa prospek bisnis dan potensi valuasi di masa mendatang dapat mendorong kenaikan harga saham tersebut.

Namun, Nico tetap menyarankan investor untuk berhati-hati. Pasalnya, pasar saham Indonesia masih bisa terpengaruh oleh sentimen konflik geopolitik global. Meski buyback menunjukkan kondisi perusahaan yang sehat, ia meminta investor untuk menunggu kepastian global. “Buyback ini sentimen yang positif, tapi ingat kita tidak bisa melawan arus, apalagi kita ada di market yang suka atau tidak suka masih sering kali didominasi oleh sentimen global,” ujarnya.

Ia juga menyarankan pihak bank untuk melakukan buyback secara bertahap agar harga saham nantinya tidak kembali turun dengan cepat.

Dampak Jangka Panjang

Sementara itu, analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai tindakan buyback juga berdampak positif untuk menjaga kualitas perusahaan dalam jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa jika dilakukan pada valuasi yang relatif murah, buyback dapat menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Andrey menimbang dengan kombinasi buyback serta dividen payout yang tetap tinggi, saham bank besar saat ini relatif lebih menarik untuk diakumulasi dibandingkan saham di sektor lainnya. Ia pun menyebut perusahaan wajar saja melakukan buyback ketika volatilitas pasar sedang tinggi. Ini merupakan langkah yang baik untuk meredam tekanan jual.

Penjelasan dari Pihak Bank

Dari sisi perbankan, Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan buyback dilakukan untuk menjaga pengelolaan struktur permodalan serta menjaga stabilitas perdagangan saham. Bagi investor, buyback dapat memberikan nilai tambah melalui penguatan kepercayaan pasar terhadap kinerja dan strategi Perseroan.

Okki memastikan pelaksanaan buyback tidak akan memberi dampak secara material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional BNI. Ia menilai BNI saat ini memiliki posisi permodalan dan likuiditas yang memadai. Fundamental BNI masih solid untuk jangka panjang, sehingga investor tidak perlu cemas.

Saham hasil buyback nantinya akan disimpan sebagai saham tresuri (treasury stock) yang dapat dialihkan melalui penjualan kembali di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun di luar bursa. Saham tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai dan/atau Pengurus Perseroan.

Penjelasan dari BCA

Senada dengan itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyebut buyback dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan investor terhadap BCA. Aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka mendukung stabilitas harga saham di BEI.

Hera menyebut jumlah saham yang beredar bebas (free float) di pasar tidak akan kurang dari 7,5% dari jumlah saham tercatat. Jumlah saham yang dibeli kembali oleh BCA tidak akan lebih dari 10%.

Kondisi Harga Saham

Pada penutupan perdagangan saham pekan ini, seluruh saham big banks kompak berada dalam zona merah. Penurunan terdalam selama sepekan dialami oleh BMRI, disusul BBRI, BBCA, dan BBNI. BMRI ditutup pada level harga Rp 4.750, sedangkan BBRI pada level harga Rp 3.510, BBCA pada harga Rp 6.875, dan BBNI pada harga Rp 4.240.

Harga saham keempat bank besar tersebut terus tertekan sejak perdagangan beberapa minggu sebelumnya. Andrey menyebut tekanan ini disebabkan oleh melonjaknya net sell asing akibat penurunan Fitch Ratings, kondisi global, serta depresiasi rupiah akhir-akhir ini.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Strategi Dana Darurat 2026: Investasi Likuid dengan Bunga Tinggi

20 Maret 2026

Mengapa Harga Emas Turun Saat Konflik Iran Memanas? Ini Penjelasannya

20 Maret 2026

Lokasi ATM Uang Kertas Rp10.000 dan Rp20.000 di Jakarta

20 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Strategi Dana Darurat 2026: Investasi Likuid dengan Bunga Tinggi

20 Maret 2026

Bank Besar Kompak Buyback Saham Saat Harga Turun

20 Maret 2026

Unduh PP 9/2026, Juknis THR 2026, Potongan Pajak & Cara Hitung THR

20 Maret 2026

Lihat Perbandingan Spesifikasi dan Harga Samsung Galaxy S26 Ultra vs Xiaomi 17 Ultra

20 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?