Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 22 Februari 2026
Trending
  • Astra Motor Yogyakarta Juara di Festival Vokasi Satu Hati 2026
  • 5 transportasi terpopuler dari Pontianak ke Singkawang, yang mana cocok untukmu?
  • Rezeki mengalir untuk 7 zodiak ini sepanjang 2026, siapkan diri!
  • Prediksi Skor Olympiacos vs Bayer Leverkusen 19 Februari 2026: Head-to-Head & Live Streaming
  • Rully Akbar Bebas Berkomentar Usai Dikritik Warganet
  • Termul Rayu Dokter Tifa Datang ke Rumah Jokowi
  • Keajaiban Datang! 4 Zodiak Ini Dapat Kabar Baik dan Peluang Emas Mulai 19 Februari 2026
  • Toyota Vios 2019: Harga Menarik untuk Mobil Bekas
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Bahaya Mikroba ‘Pemakan Otak’ di Sistem Air Dunia
Ragam

Bahaya Mikroba ‘Pemakan Otak’ di Sistem Air Dunia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover7 Januari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Ancaman yang Tersembunyi dalam Air

Berbicara tentang ancaman mikroba dalam kehidupan sehari-hari, sering kali fokus tertuju pada bakteri dan virus. Namun belakangan ini, para ilmuwan mulai menyoroti kelompok organisme mikro kecil yang hidup bebas di air, yaitu free-living amoebae, yang berpotensi menyebabkan infeksi fatal dan menjadi ancaman kesehatan global yang belum banyak diperhatikan publik.

Amoeba ini hidup secara alami di tanah dan air—dari sungai hingga sistem air minum—dan beberapa jenisnya, seperti Naegleria fowleri, terkenal dengan julukan “amoeba pemakan otak” karena kemampuan patogennya yang ekstrem. Infeksi serius seperti primary amoebic meningoencephalitis (PAM) dapat terjadi ketika air yang terkontaminasi masuk lewat hidung, sering kali saat berenang atau berenang di air hangat. Walaupun kasusnya jarang, tetapi konsekuesinya hampir selalu fatal jika tidak ditangani cepat.

Dalam publikasi perspektif terbaru dalam jurnal Biocontaminant, para peneliti memperingatkan bahwa organisme ini makin menemukan cara untuk bertahan di lingkungan yang sering dikira aman, seperti sistem distribusi air minum dengan klorin, dan bahkan membantu bakteri lain bertahan di dalam air lewat efek Trojan horse. Semua ini mendorong kebutuhan untuk strategi kesehatan masyarakat yang lebih terpadu.

Apa itu Free-Living Amoebae?

Free-living amoebae adalah organisme bersel tunggal yang hidup bebas di lingkungan; tanah, air tawar, dan bahkan sistem air buatan manusia. Sebagian besar spesies memang tidak berbahaya, tetapi beberapa dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia. Di antara mereka, yang paling dikenal adalah Naegleria fowleri, yang mampu hidup di air tawar hangat dan menyebabkan infeksi otak yang cepat berkembang serta biasanya fatal. Infeksi ini terjadi saat air mengandung amoeba masuk lewat hidung, lalu menuju ke otak melalui saraf olfaktori.

Selain itu, organisme-organisme ini dapat melindungi bakteri dan virus lain di dalam selnya, sehingga ketika air yang terkontaminasi menjalani proses disinfeksi, beberapa patogen tetap dapat bertahan karena aman di dalam amoeba tersebut, fenomena yang dikenal sebagai Trojan horse effect.

Mengapa Ini Bisa Menjadi Masalah Global?

Para peneliti menunjuk pada beberapa alasan kenapa amoeba ini makin menjadi perhatian kesehatan global:

  • Perubahan iklim: Pemanasan global membuat suhu permukaan air lebih hangat dalam jangka waktu lebih lama, menciptakan kondisi ideal bagi beberapa amoeba thermophilic (suka panas) seperti N. fowleri untuk tumbuh serta memperluas jangkauan geografisnya, termasuk ke wilayah yang sebelumnya terlalu dingin.
  • Infrastruktur air yang menurun: Sistem distribusi air yang tua atau tidak terawat dengan baik dapat memberi celah bagi amoeba bertahan bahkan melalui proses disinfeksi standar.
  • Keterbatasan pemantauan dan diagnostik: Deteksi organisme ini sulit dilakukan dengan sistem monitoring air konvensional, sehingga paparan mungkin terjadi tanpa terlihat.

Risiko yang Harus Dipahami

Walaupun tergolong sangat langka, tetapi kasus infeksi yang disebabkan oleh N. fowleri tetap menjadi masalah serius karena fatalitasnya sangat tinggi. Aktivitas seperti berenang di air tawar hangat, terutama saat musim panas atau di daerah tropis, meningkatkan potensi paparan.

Selain itu, studi genomik terbaru menemukan bahwa amoeba penyebab PAM juga telah terdeteksi dalam sampel air keran di kota-kota tertentu, seperti Karachi, Pakistan, menunjukkan bahwa risiko tidak hanya terbatas pada aktivitas rekreasi, tetapi juga kegiatan sehari-hari seperti penggunaan air untuk bersuci atau praktik berdasar budaya yang melibatkan aliran air lewat hidung.

Para ilmuwan menyerukan pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengatasi ancaman ini. Model One Health—yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan—dianggap penting untuk mengidentifikasi ancaman lebih awal dan menerapkan solusi terbaik, dari pemantauan air yang lebih baik, teknologi pengolahan air inovatif, hingga edukasi publik tentang cara meminimalkan risiko.

Menurut para penulis artikel, tanpa upaya ini, organisme-organisme ini dapat terus menyebar dan mungkin menjadi lebih sering dijumpai di wilayah baru, seiring perubahan iklim dan meningkatnya kegiatan air oleh masyarakat.

Ancaman Mikroba yang Tak Terlihat

Ancaman mikroba seperti free-living amoebae menyadarkan kita bahwa sistem air yang kita anggap aman pun mungkin tak lagi aman. Organisme ini menggabungkan ketahanan terhadap suhu tinggi, kemampuan bertahan terhadap disinfektan, serta hubungan simbiotik dengan patogen lain untuk memperluas peluang hidupnya di lingkungan yang diciptakan manusia.

Menyadari keberadaan mereka bukan hanya penting bagi ilmuwan atau pembuat kebijakan, tetapi juga bagi setiap individu yang berinteraksi dengan air, baik saat berenang di danau atau menggunakan air keran di rumah. Kesadaran, edukasi, dan langkah mitigasi terpadu bisa membantu mengurangi risiko kesehatan yang tersembunyi di balik sistem air.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Astra Motor Yogyakarta Juara di Festival Vokasi Satu Hati 2026

22 Februari 2026

Toyota Vios 2019: Harga Menarik untuk Mobil Bekas

22 Februari 2026

Jangan Tunda! 6 Tanda Karet Pintu Mobil Perlu Diganti Segera

22 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Astra Motor Yogyakarta Juara di Festival Vokasi Satu Hati 2026

22 Februari 2026

5 transportasi terpopuler dari Pontianak ke Singkawang, yang mana cocok untukmu?

22 Februari 2026

Rezeki mengalir untuk 7 zodiak ini sepanjang 2026, siapkan diri!

22 Februari 2026

Prediksi Skor Olympiacos vs Bayer Leverkusen 19 Februari 2026: Head-to-Head & Live Streaming

22 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?