Fransesco Bagnaia dan Kehidupan di Tengah Perubahan
Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, tampak percaya diri dengan masa depannya meski terus dikaitkan dengan kemungkinan pindah ke Monster Energy Yamaha. Meskipun sempat diberitakan dekat dengan Aprilia, isu terbaru mengungkap bahwa Bagnaia lebih dekat dengan Yamaha. Hal ini disebabkan oleh masalah gaji yang menjadi kendala bagi Aprilia jika ingin merekrut juara dunia tiga kali tersebut.
Yamaha, yang memiliki dukungan finansial lebih besar, telah memantau situasi Bagnaia sejak tahun lalu. Dalam wawancaranya, Bagnaia menyatakan bahwa posisinya saat ini hampir sama dengan Alex Marquez di BK8 Gresini. Alex Marquez juga sedang dirumorkan pindah tetapi ke KTM setelah peluang untuk promosi ke tim pabrikan Ducati tampaknya tertutup.
Ducati santer dikabarkan membidik Pedro Acosta dari KTM selain mempertahankan Marc Marquez sebagai kekuatan utama musim lalu. Bagnaia menegaskan bahwa ia masih dalam tahap negosiasi dengan opsi-opsi yang ia miliki. Dia menegaskan targetnya adalah tim pabrikan, bukan tim satelit.
Secara tersirat, Nuvola Rossa mengakui bahwa hasil buruknya di atas Desmosedici GP25 tahun lalu telah membuat dia menjadi ‘tidak menarik’ lagi bagi Ducati. “Masih dalam tahap pembicaraan,” kata Bagnaia tentang pilihannya untuk musim 2027. “Jelas bahwa musim seperti tahun lalu dapat menempatkan Anda di posisi kurang menguntungkan (dalam bursa pembalap).”
Bagnaia memiliki banyak peluang, dan mereka hanya perlu memutuskan. Satu hal miris yang harus diterima Bagnaia, bila benar ia didepak dari Ducati adalah sejarah manis yang ia torehkan selama ini. Murid Valentino Rossi ini masih menjadi pemegang rekor fantastis di pabrikan si Merah. Bagnaia menjadi pembalap Ducati dengan kemenangan terbanyak di kelas utama, tepatnya 31 balapan Grand Prix sepanjang karier. Ia telah jauh melampaui rekor legenda MotoGP, Casey Stoner, yang pernah membukukan 23 kemenangan bareng pabrikan Borgo Panigale.
Bagnaia juga memenangi gelar juara pada 2022 dan 2023. Titel pertamanya mengakhiri paceklik selama 15 tahun bagi Ducati di MotoGP. Tahun-tahun kejayaan Bagnaia tak bisa dipungkiri menegaskan posisi Ducati sebagai pabrikan terkuat di kelas para raja ini. Namun, posisi Bagnaia sebagai ujung tombak telah tergantikan Marc Marquez setelah kalah telak pada musim lalu.
Di sisi lain, Pedro Acosta lebih menarik sebagai aset masa depan bagi Ducati walau belum pernah memetik kemenangan di kelas utama. “Itu hanya karena dia belum mengendarai motor Ducati,” ucap salah satu petinggi pabrikan Italia, dilansir dari El Periodico. Acosta telah dinilai tinggi sejak debut luar biasa di kelas Moto3. Sejak penampilan perdananya di kelas utama, dia juga langsung menjadi andalan KTM yang agak keteteran.
Kembali ke Bagnaia, ia mengaku tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan tetapi juga harus sigap dalam membaca situasi pasar pembalap. Ia seakan mengakui kekalahannya di musim lalu dan siap menatap musim baru di tahun 2027 dengan livery motor yang jauh dari warna merah. “Ya, memang begitu adanya. Kita hidup di dunia yang selalu serba cepat. Jadi, kita harus cepat tanggap.”
“Seperti yang dikatakan Jorge Lorenzo dengan tepat, Anda dikenang karena balapan terakhir yang Anda ikuti. Wajar jika seperti itu. Memang benar untuk seperti itu.” “Tentunya dalam tiga-empat tahun terakhir kontrak baru diputuskan jauh lebih awal, tetapi seperti inilah situasinya. Dan jujur saja, saya rasa ini sudah tepat,” pungkas Bagnaia.
Apabila benar Bagnaia pindah ke Monster Energy Yamaha, ia akan bereuni dengan Jorge Martin yang lebih dahulu sepakat bergabung dengan pabrikan Garpu Tala. Martinator lebih dulu ‘dianaktirikan’ Ducati setelah gagal mendapatkan tempat di tim pabrikan karena Marc Marquez dua tahun yang lalu. Marquez lebih didahulukan walau setelah rutin finis tiga besar bersama tim satelit Ducati, Gresini, dengan motor lama. Sedangkan Martin telah menjadi penantang gelar bersama Bagnaia tetapi dengan dukungan motor terbaru dari pabrikan Borgo Panigale ini. Kalau jadi, Yamaha bukan tim pertama yang menduetkan Martin dan Bagnaia. Dua rider juara dunia itu pernah satu tim semasa berlomba di Moto3 bersama Aspar.



