Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 29 Januari 2026
Trending
  • Owen Rahadian Terkesan dengan Semangat Suporter Papua di Stadion Lukas Enembe
  • Seberapa Penting Olahraga untuk Cegah Obesitas Anak?
  • Reaksi Media Prancis Usai Kurzawa Bergabung dengan Persib
  • Endrick Bercahaya di Lyon, Real Madrid Menyesal?
  • Masa sulit mulai berlalu! 3 zodiak ini alami perubahan baik sejak 26 Januari 2026
  • 915 Kontainer Limbah B3 Tertahan di Batu Ampar, BP Batam Minta Kejelasan Pusat
  • WNI Tertipu Scam di Kamboja
  • Skor Kacamata di Tegal, Persiraja Banda Aceh Gagal Menang Usai Gol Dianulir
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Beranda » Asas Dominus Litis dalam RUU KUHP Harus Dikaji Ulang
Politik

Asas Dominus Litis dalam RUU KUHP Harus Dikaji Ulang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Maret 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Asas Dominus Litis  dalam RUU KUHP Harus Dikaji Ulang
Ilustrasi.(MI)

PAKAR Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Ariyadi mengatakan penerapan Asas Dominus Litis dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dinilai dapat membuat kewenangan kejaksaan menjadi superpower dalam menentukan kelanjutan sebuah perkara pidana dalam peradilan. 

Ariyadi menjelaskan Asas Dominus Litis ini adalah prinsip dalam hukum yang memberikan kewenangan kepada jaksa untuk mengendalikan jalannya suatu perkara pidana. Sehingga, jaksa berwenang menghentikan atau melanjutkan proses sebuah perkara saat sidang berlangsung dan dapat mengatur utama perkara. 

“Hal ini bisa menciptakan ketidak seimbangan kekuasaan dan beresiko mengancam keadilan dalam sistem hukum di Indonesia khususnya peradilan pidana,” jelas Ariyadi dalam keterangannya pada Minggu (23/2). 

Baca juga : Kewenangan Jaksa Berlebihan, Pakar Hukum di Sumut Kritisi RUU KUHAP

Ariyadi menilai bahwa asas ini tidak hanya membuka peluang bagi penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga mengecilkan ruang pengawasan, transparansi dan akuntabilitas terhadap jaksa.

“Tanpa mekanisme pengawasan yang efektif, asas ini bisa membuka ruang bagi praktik transaksional, kriminalisasi selektif, dan keberpihakan hukum pada kepentingan tertentu,” katanya. 

Ariya mengatakan sangat mendukung prinsip berkeadilan dan transparansi, sehingga sangat disayangkan jika asas ini diterapkan dalam RUU KUHAP karena dapat menghambat akses keadilan dan memungkinkan intervensi politik.

Baca juga : Komisi III DPR Segera Bahas Revisi RUU KUHAP

“Dalam praktiknya, asas ini sering disalahgunakan untuk mendominasi perkara dengan pertimbangan yang tidak murni, yang mengarah pada ketidak adilan,” kata Ketua LBH dan Advokasi Publik PW Muhammadiyah Kalteng itu.

Lebih lanjut, Ariyadi menekankan bahwa asas yang ada perlu dievaluasi. Selain itu, reformasi sistem peradilan juga harus menyeimbangkan independensi lembaga penuntutan dengan kontrol yudisial yang cukup, agar menghindari penyalahgunaan wewenang dan menjaga kepercayaan publik terhadap institusi peradilan.

“Dalam peradilan, kita harus mengutamakan prinsip saling mengawasi dan akuntabilitas, termasuk dalam wewenang penuntutan,” ujarnya. 

Baca juga : Mirisnya Nasib Saksi Ahli yang Bongkar Korupsi

Ariyadi juga mengingatkan bahwa asas dominus litis bisa menjadi pisau bermata dua, yang akan mempermudah secara administrasi, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi sistem peradilan hukum di Indonesia.

“Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dan reformasi yang tepat untuk menghindari penyalahgunaan wewenang dan menjaga keadilan dalam sistem peradilan,” pungkasnya. 

Sementara itu, guru besar hukum pidana Universitas Muhammadiyah Malang, Tongkat menjelaskan bahwa penghapusan tahap penyelidikan dalam KUHP yang baru berpotensi meningkatkan jumlah perkara di tingkat penyidikan. 

Baca juga : Hakim Kembalikan Harta Helena Lim, Jaksa tak Puas dan Pertimbangkan Banding

Hal ini terjadi karena penyelidikan selama ini berfungsi sebagai filter awal untuk menentukan apakah suatu laporan benar-benar merupakan tindak pidana atau tidak.

“Jika penyelidikan dihapus, semua laporan akan langsung masuk ke tahap penyidikan. Ini bisa menimbulkan lonjakan perkara di kepolisian dan kejaksaan, serta berisiko memperlambat proses hukum karena banyaknya kasus yang harus ditangani,” ujar Tongkat.

Selain itu, ia menambahkan bahwa revisi KUHAP seharusnya dilakukan secara lebih substantif, termasuk dengan memberikan kewenangan audit kepada Hakim Pemeriksa Pendahuluan (HPP) untuk mengawasi proses hukum agar tidak ada penyalahgunaan wewenang.

“Yang paling penting adalah mencegah penggunaan upaya paksa secara sewenang-wenang. KUHAP seharusnya menjadi rujukan utama sebelum masuk ke aturan spesifik lainnya,” tegasnya.

Lebih jauh, RUU KUHAP kata Tingkat, secara ideal harus diselesaikan lebih dulu sebelum KUHP Nasional diterapkan agar tidak terjadi ketidakharmonisan dalam sistem hukum pidana. (Dev/P-3) 

 

Asas dalam Dikaji Dominus harus KUHP Litis RUU ulang
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Syifa Nekat Jadi Tentara AS, Ancaman Kehilangan Kewarganegaraan

28 Januari 2026

Geliat Partai Baru Gema Bangsa dan Gerakan Rakyat: Harapan Efek Coattail Prabowo dan Anies

28 Januari 2026

Klarifikasi Anwar Usman soal Kehadiran di Sidang MK yang Dikaitkan dengan Sakit Sejak Tahun Lalu

28 Januari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Owen Rahadian Terkesan dengan Semangat Suporter Papua di Stadion Lukas Enembe

29 Januari 2026

Seberapa Penting Olahraga untuk Cegah Obesitas Anak?

29 Januari 2026

Reaksi Media Prancis Usai Kurzawa Bergabung dengan Persib

29 Januari 2026

Endrick Bercahaya di Lyon, Real Madrid Menyesal?

28 Januari 2026
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?